Ms. Alara

Ms. Alara
Foto



"Hah?"


Alara lalu menceritakan kejadian pertemuannya dengan Alula dan kekasih bule nya di restoran. Niat baiknya disambut tamparan. Alara merasa kalah telak saat itu, tapi dirinya tetap akan mencoba lagi untuk memberi bukti.


"Jahat banget sih, tapi kamu nggak apa-apa kan?" Hanun mencemaskan sahabatnya, sepulang sekolah dalam keadaan lelah demi menyelamatkan Alula, tapi justru pipi Alara yang tidak selamat.


"Nggak apa-apa, tau nggak, Adam nolongin aku lagi." Alara tampak tersipu malu, sudah kesekian kalinya dirinya bercerita tentang Adam pada Hanun.


"Hemm, si ganteng itu? sudah beberapa kali kebetulan, jodoh ih," ledek Hanun sambil mencolek lengan Alara.


"Nggak lah, laki-laki kaya Adam seleranya bukan yang kaya aku, pastinya yang setara jugalah." Alara tidak lupa berkaca akan dirinya sendiri. Lelaki yang memiliki value tinggi, pasti tidak akan sembarangan memilih pasangan, walaupun dirinya juga bukan wanita sembarangan. Berpendidikan dan digandrungi banyak berondong tampan.


"Kamu cantik, berpendidikan, guru lagi, umur matang, anak orang lain aja di didik, apalagi anak sendiri, begitu kan visi nya." Hanun tergelak, ia terus saja menggoda Alara untuk mengalihkan kesedihan sahabatnya itu.


"Tapi gajinya kecil, Nun." Alara mengerucutkan bibir.


"Dih, yang cari nafkah itu laki-laki, yang ngasih duit juga laki-laki, kenapa jadi bingung sama gaji kamu. Kalau dengan menikah kamu masih sibuk mikirin nafkah, apa gunanya punya suami, cantik."


"Begitu yah, tapi kalau disandingkan dengan gaji Adam pasti jauh, bagaikan langit dan dasar bumi."


"Ngapain menyandingkan gaji, yang harusnya di sandingkan itu ya kamu dengan dia di pelaminan. Seandainya dia mau, kamu mau nggak?" Hanun lalu terbatuk-batuk sambil tersenyum, terlihat Alara juga ikut senyum.


"Sikattttt_"


Hanun dan Alara tergelak hingga menjadi pusat perhatian, keduanya meminta maaf karena masih pagi sudah berisik.


"Udah ah, aku mau siapin materi dulu nih. Semalam nggak bisa fokus." Alara bergegas membuka leptopnya. Hanun mengacungkan jempol, dirinya juga kembali fokus ke arah layar pipih yang sudah on di meja kerja.


☘️☘️☘️


"Hemm, kenapa Bun?" Adam melirik bunda Ana sekilas, lalu kembali fokus makan karena pagi ini bundanya masak nasi goreng seafood kesukaannya.


"Kok tumben kamu nggak cerita ke Bunda?" Ana terus memperhatikan putranya yang begitu lahap sarapan.


"Cerita apa Bun? pekerjaan? pekerjaan Alhamdulillah baik semua bun, nggak ada kendala." Adam menghentikan sarapannya, sepertinya bundanya sangat ingin tahu sesuatu.


"Bukan pekerjaan, tapi soal asmara." Ana mesem manis, sejak lama ia menunggu kehadiran calon menantu. Betapa bahagianya ketika mas Arya, suaminya mengirimkan sejumlah foto-foto putranya dengan seorang perempuan di salah satu restoran ternama, tampak mesra sedang saling menenangkan dengan pelukan. Wajah wanitanya tampak menangis. Entahlah, namanya juga asmara, manis getir sudah biasa.


Adam mengerutkan dahi, "Asmara apa Bun? Adam belum punya pacar saat ini."


Ana berdecak, "Jangan bohong, sama bunda nggak usah malu-malu gitu ih. Siapapun dia, pasti bunda restui kok. Bunda janji akan memperlakukan menantu bunda nanti dengan sangat baik. Tidak ada mertua modelan sinetron ikan terbang di rumah ini."


Adam semakin bingung dengan ucapan Bunda, dirinya merasa tidak sedang berbohong. Tapi malah pembahasannya jauh sampai menantu mertua segala.


"Apa kalian baru PDKT? jadi masih samar-samar? haduh jangan terlalu lama menggantung wanita. Wanita itu butuh kepastian."


"Maksudnya apa sih Bun, dari tadi Adam nggak ngerti."


"Tunggu_" Ana bergegas mengambil ponsel di kamarnya, ingin memperlihatkan foto yang dikirimkan suaminya.


"Ini lhoo Dam, kamu jangan ngelak lagi deh." Ana sampai tergopoh-gopoh saat kembali ke ruang makan, secepatnya ingin memperlihatkan foto putranya dengan seorang wanita.


Adam mengambil ponsel yang bundanya berikan, lalu melihat beberapa foto yang terpampang dilayar.


"Alara_"