Ms. Alara

Ms. Alara
Berulah



"Mas ini apa?"


Adam malah nyengir bagai kuda.


"Buat jajan besok."


"Banyak banget, jajan aku nggak segini, ih aku belum berhak atas uang kamu, aku kembalikan ah." Alara bergegas ingin mentransfer balik uang dari Adam tapi lelaki itu langsung mencegahnya dengan merebut ponselnya.


"Mas, itu banyak banget." Alara berusaha meraih ponselnya, namun pergelangan tangannya dipegang erat oleh Adam.


"Maafin mas kalau buat kamu cemburu. Percaya yah mas nggak seperti laki-laki yang tidak kamu sukai sifatnya, mas akan berusaha bahagiakan kamu." Adam menatap manik mata Alara agar wanita itu luluh dan percaya.


Alara kembali duduk tenang, tangan mereka masih saling menggenggam. Dirinya akan berusaha percaya, untuk meneruskan masa depan, Alara juga harus mulai berdamai dengan luka-luka yang pernah tergores di hatinya.


"Kamu sayang mas kan?"


Alara mengangguk perlahan, Adam tersenyum senang karena wanita incarannya sudah mulai merespon ketika ditanya perihal sayang dan cinta.


"Kembalikan ponselnya dong sini."


Adam melihat sekilas ponsel Alara, "Ada apa memangnya di sini?"


"Ya mau balikin uang mas, ih sini."


"Kan mas bilang jangan, kok kamu maksa."


Alara mengerutkan dahi, lucu sekali lelaki yang ada di hadapannya itu, padahal dirinya ingin mengembalikan uang, tapi malah memaksa untuk diterima.


"Tapi kebanyakan mas."


"Tapi nggak apa-apa bu guru cantik, buat jajan yang banyak, lupain cemburu-cemburunya yah."


Alara menatap lekat-lekat Adam si hobi transfer, belajar dari siapa lelaki itu jika ketika wanita ngambek, uang adalah penenangnya.


"Kenapa kok natap mas nya begitu?"


"Mas udah biasa yang transfer-transfer uang ke banyak perempuan?"


"Mana ada? kok nuduh gitu?"


"Kok tau wanita bisa ilang ngambeknya kalau di kasih duit?"


Adam sontak tertawa, kini yang ada dalam bayangnya adalah bunda tercinta.


"Aku belajar dari bunda sama ayah, di meja makan dengan wajah cemberut bunda, ayah tiba-tiba suka kasih bunda tiket jalan-jalan atau kartu ATM atau bahkan segepok uang, nanti reaksi bunda langsung sumringah. Ampuh banget ternyata yah? lucu saja rasanya." Adam bercerita sambil senyam-senyum membayangkan kedua orangtunya. Belajar dari mereka, mungkin saja menjadi cara yang efektif untuk meredam amarah Alara juga nantinya.


"Aku kalau jadi bunda mau sering-sering ngambek ah," ledek Alara sambil melirik Adam yang selalu terlihat gagah dan meneduhkan seperti pohon beringin. Tegap, besar dan meneduhkan.


"Aku akan pastikan kamu cukup, nggak sampai minta dalam mode drama ngambek, marah itu menguras energi, tenaga fisik dan mental kamu cukup untuk membimbing anak-anak kita nanti."


Alara tersenyum malu, belum apa-apa sudah bahas anak, tapi ada benarnya juga sih, menikahlah setelah semuanya siap, agar anak bisa hidup layak dan terpenuhi hak-haknya.


"Jangan keras-keras ngomongnya, nanti emak-emak noveltoon pengen ganti suami kaya kamu mas."


"Kamu ini ada-ada saja."


"Eh, mas mau ini nggak?" Alara mengeluarkan paper bag yang berisi desert cake yang ia buat dengan bunda Ana.


"Desert cake, tadi itu Andre nggak jadi les kan karena sakit, eh malah ketemu tante yang baik itu lhoo, tetangga Andre, kita buat ini." Alara memberikan satu box kecil desert cake rasa coklat pada Adam.


Adam melihat dengan seksama box desert dari Alara, teringat bundanya juga suka membuat kue-kue.


"Nih sendoknya." Alara sudah mencobanya lebih dulu dan rasanya cukup cocok di lidahnya. Adam juga ikut mencicipi.


"Enak nggak mas?"


Adam mengangguk perlahan, cukup lama diam di dalam mobil, Adam meminta Alara untuk menyuapinya saja, sementara ia bergegas melajukan mobilnya.


☘️☘️☘️


"Assalamualaikum, selamat pagi nona Hanun." Alara mencolek Hanun yang tengah duduk melamun entah memikirkan apa.


Hanun terkejut, ia lalu menepuk lengan Alara. "Siang banget."


"Iya aku izin datang siang, soalnya tadi pagi ada keperluan, pas juga dapat jam ketiga nanti."


"Yah, jadi nggak nonton yang seru-seru dong tadi, sayang banget," ledek Hanun, hal itu membuat Alara penasaran.


"Apaan?"


"Berondong kamu Ra." Hanun malah cekikikan.


"Hust."


"Tadi pagi itu Sena, murid kelas 10, bikin pengumuman di lapangan."


"Pengumuman apa? Kalau cerita setengah-setengah."


Hanun tertawa lirih, "Pengumuman kalau dia suka sama Andre, terus mau nggak jadi pacarnya gitu."


Alara menghela nafas, bukankah hal seperti itu sudah biasa, Andre memang idola siswi di sekolah ini, tapi dengan songongnya, lelaki remaja itu malah mengejarnya, sama sekali tidak memikirkan perbedaan usia yang sangat jauh.


"Mau tau kelanjutannya nggak?" Hanun masih mode meledek.


"Kan udah biasa Andre di tembak siswi sini kan, Nun?"


"Iya sih, tapi kamu mau tahu nggak jawaban Andre? itu yang bikin gempar."


"Biasanya dia langsung cuekin, nggak ngomong apa-apa."


"Tadi beda."


"Ya terus apa? Hanun minta di ulek nih." Alara membuka tutup botol air mineral, mengobrol pagi ini dengan Hanun membuatnya sedikit emosi, jadi solusinya minum dulu, agar fokus ke topik utama.


Hanun tertawa lagi, senang rasanya meledek Alara pagi ini.


"Ya Andre malah bikin pengumuman juga, katanya jangan ada lagi yang nembak dia, soalnya cinta dia cuma satu, yaitu Ms. Alara."


Air yang memenuhi mulut Alara seketika menyembur begitu saja, untung saja tidak mengenai Hanun, hanya seragamnya sedikit basah. Bocah tengil itu mulai membuat masalah lagi.


Astoge...