
"A_lara?"
"Iya tante."
"Nanti dulu, ini di makan dulu, bunda mau ambil kue yang lain, Alara, Andre tunggu di sini yah, jangan pulang dulu yah." Ana bergegas keluar dari rumah Andre, ia ingin mengambil ponselnya untuk memastikan apakah guru les Andre adalah Alara yang tengah dekat dengan anaknya, pernah melihat vidio mereka berdua sekilas, terlupa lagi, maklum usia sudah tak muda lagi, daya ingat semakin menurun.
Ana mengambil ponselnya di kamar, lalu memutar kembali rekaman yang diberikan oleh suaminya. Senyum mengembang dari bibirnya, Alara yang dimaksud memanglah benar guru les Andre saat ini.
"Jodoh emang nggak akan kemana," celetuk Ana sambil meremas ponselnya. Ia kembali keluar kamar menuju dapur, membawa kue yang lain untuk diberikan pada Alara.
Ana ke rumah Yunita kembali, untung saja Alara masih ada di sana dengan Andre. Ana langsung saja menghampiri keduanya.
"Nih bunda punya tiramisu, cobain ya Alara." Ana memberikannya pada Alara dan diterima gadis itu dengan senyuman senang.
"Makasih ya Tante, wah pasti enak nih." Alara langsung mencicipinya karena penampilan kue nya begitu menggiurkan.
"Panggil bunda aja."
Alara mengangguk, "Makasih ya Bun, ini enak banget."
"Andre mau?" Ana menawarkannya juga pada remaja lelaki yang tengah fokus dengan lembaran kertas di depannya.
"Iya bun, tapi nanti dulu yah, lagi ngecek jawaban dulu." Andre sudah akrab dengan bunda Ana, Bunda sering datang membawakan kue resep terbarunya, tidak hanya kue saja, masakan sehari-hari saja bunda sering berkirim ke rumah ini. Persahabatan bunda dan mama memang lah sangat kental.
"Ya udah, tapi nanti di makan yah. Ini buat Alara juga nanti di bawa pulang yah buat keluarga kamu." Bunda memberikan paper bag yang berisi kue untuk Alara, untung saja hari ini membuat kue banyak, eh justru kebetulan sekali bertemu dengan Alara. Tapi Sejatinya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi di alam ini atas izin dan kehendak Tuhan. Tidak ada daun yang jatuh, atau pasir yang bergeser di lautan tanpa izin Tuhan. Semuanya ada dan dalam genggaman Tuhan.
"Makasih ya Bun." Alara begitu senang mendapatkan kue dari bunda Ana, bisa untuk cemilan di rumah nanti, apalagi pas dengan tanggal tua saat ini.
"Iya sama-sama, Andre les seminggu berapa kali? hari apa aja?"
"Hebat, produktif. Ih calon mantu idaman ini. Mau nggak jadi mantu bunda," ledek Bunda Ana, padahal jika Alara mengiyakan, bunda ingin malam ini juga datang melamar. Sat set pokoknya.
"Dih Bunda, nggak ada mantu-mantu, miss Alara nanti akan jadi menantu ibu Yunita," ceplos Andre yang kesal mendengar bunda Ana ingin menjadikan pujaan hatinya sebagai menantu. Entahlah menantu untuk anaknya yang mana, Andre jarang melihat anak-anak bunda karena mereka sekolah di luar negeri.
Bunda terkekeh. "Kakakmu semua sudah menikah, sembarangan, mau buat siapa coba?"
"Buat aku bun," ucap Andre begitu percaya diri.
Bunda tergelak, "Sekolah yang bener dulu sayang, beras mahal, minyak sayur mahal, apalagi biaya sekolah anak juga mahal."
"Memangnya mau buat anak bunda yang mana? masih ada yang single juga ya?"
"Masih ada satu, susah laku nya, udah di sale juga tetep aja belum mau menikah. Gemes bunda."
Alara tergelak, nasibnya sama dengan putra bunda Ana, usianya yang sudah 32 tahun saja tak kunjung menikah, sepertinya jika di sale juga hanya berondong-berondong saja yang mau dengannya.
"Masa sih bun anaknya begitu? ada kali calon cuma nunggu siap bun."
"Nggak ada, udah di awasi cctv 24 jam tidak ada tanda-tanda sedang dekat dengan perempuan. Ah dasar anak itu." Alara tersenyum mendengar curahan hati bunda Ana.
"Jelek kali bun, Andre nih walaupun masih SMA juga yang naksir udah antri panjang," ucap Andre tergelak. Percaya dirinya begitu tinggi.
"Ganteng pol kok, lihat bunda dong Ndre, cantik banget gini kan. Mau ya Ra?" Bunda Ana kembali menanyakan pada Alara, tapi gadis itu hanya membalas dengan senyuman. Minder rasanya, ini kawasan konglomerat, dirinya kaum melarat, rasanya bagai bumi dan langit, apakah pantas?
"Eh Ra, bunda minta nomor hape kamu dong, boleh yah."
Andre langsung mendelik.