Ms. Alara

Ms. Alara
Jajanan mendarat selamat



"Miss ulang tahun yah." Pak Rahmat ke ruang guru saat jam istirahat pertama membawa beberapa kantong makanan. Alara mendongakkan kepala, di depannya sudah berdiri satpam sekolah yang tengah tersenyum sumringah sambil menenteng banyak kantong plastik.


"Ada apa pak Rahmat?"


"Ini, miss ulang tahun yah, beli makanan banyak banget." Pak Rahmat meletakan kantong makanan di atas meja Alara hingga memenuhi meja.


"Hah? saya nggak pesan apa-apa pak." Alara melirik Hanun, bingung melihat makanan sebanyak itu.


"Coba periksa hape nya, siapa tau ada yang ngirim, atau jangan-jangan, aplikasi di hape nggak sengaja di klik kali," ucap Hanun. Alara segera mengambil ponsel di saku bajunya.


"Ini sudah dibayar semua kok miss, saya pamit yah, mau bertugas lagi."


"Ah iya pak, terimakasih banyak yah."


"Iya miss sama-sama." Pak Rahmat bergegas meninggalkan ruang guru.


Ah ya Alara lupa mengecek ponselnya, ia segera membuka ponselnya, ada beberapa chat masuk, salah satunya dari Adam.


^^^Aku kirimi beberapa makanan buat kamu Ra, bingung kamu suka jajanan apa jadi aku pilihkan seadanya yang ada di aplikasi, maaf ya kalau ada yang nggak kamu suka. Jangan telat makan lagi 😊^^^


"Kenapa?" Hanun melihat Alara begitu serius menatap ponselnya.


"Ternyata dia." Alara melihat ke arah Hanun.


"Cie cie, ihir, sepertinya mulai ada benih-benih kecambah tumbuh subur ini." Hanun tertawa lirih.


"Benih kecambah lagi, memangnya nanam kacang hijau." Alara mulai membuka jajanan yang di kirimkan Adam.


Salad Buah, martabak manis, jus strawberry, beef burger, air mineral, cireng, cimol, cilok mendarat dengan aman, tidak ada kebocoran maupun pecah diperjalanan.


"Apa sih yang ada dipikiran dia, aku nggak makan sebanyak ini, apa aku terlihat rakus?"


Adam yang sedang makan siang tersenyum melihat ada notifikasi pesan masuk dari Bu guru cantik.


^^^Nanti pulangnya aku jemput lagi yah, pulang jam berapa? motor kamu dibawa pulang ke rumah kamu, maaf lupa, harusnya ke sekolah ya. Ada yang mau aku bicarakan juga.^^^


Alara membaca pesan balasan dari Adam sambil makan cilok. Jajan yang lainnya ia persilakan teman-temannya mengambil karena memang terlalu banyak. Seorang Adam, tidak mungkin membeli cilok lima ribu perak, ia beli berbungkus-bungkus entahlah berapa ribu, belum jajanan yang lainnya. Cocoknya untuk jualan, bukan untuk cemilan. Orang kaya mah bebas.


"Modus." Alara tersenyum tipis. Tapi kok suka yah di modusin. Lama sudah tidak pernah lagi mencoba menjalin asmara setelah runtuhnya dunia rumah tangga orangtua.


"Siapa?"


"Adam." Alara melirik Hanun.


"Tuhan sesuai prasangka hamba-nya. Jangan-jangan cita-cita jadi Cinderella sebentar lagi terkabul nih," ledek Hanun. Ia juga tengah menikmati martabak manis dari Alara.


"Ah masa sih, jangan gitu dong. Nanti aku jadi kepedean nih." Alara yang bercita-cita setinggi langit, ingin menjadi istri kolongmerat, sesekali juga memiliki rasa minder karena perbedaan kasta. Cinta di dunia nyata tak seindah dongeng Cinderella. Walaupun kenyataannya seperti itu. Takut jika kebaikan Adam itu ternyata ada maunya, apalagi jika kemauan yang tidak baik.


"Harus pede dong. Apa nggak mau nih? maunya si brondong manis aja apa?" Hanun tertawa kecil, takut mengganggu teman yang lainnya.


"Ih, yang ada nanti aku mongmong lagi. Udah ah udah, ciloknya enak nih, bahas yang enak-enak aja dong."


"Ih ada yang pesen makanan yah, saya mau nitip padahal," ucap Renata saat memasuki ruangan guru, melihat teman-temannya tampak sedang makan aneka jajanan. Alara dan Hanun melihat ke arah Renata yang datang-datang sudah heboh.


"Ini dari Alara, beli makanan banyak banget, ulang tahun kayanya," ucap Azura. Renata langsung melirik ke arah Alara, benar di meja kerja gadis itu banyak kantong plastik.


"Bukan ulang tahun bu Azura, tapi ini dari orang yang naksir Alara, tajir melintir jadi beliin jajannya banyak," ceplos Hanun. Alara mendelik ke arah Hanun, sementara guru yang lain langsung bersorak, ada yang meledek, ada yang mengucapkan selamat, ada juga yang iri dan sinis.


"Bukan ih, Hanun bercanda," ucap Alara, ia tersenyum malu karena ulah sahabatnya. Alara melihat layar ponselnya untuk mengurangi rasa malu, ia menulis balasan untuk Adam.


^^^Pulang jam 4, jemput depan gerbang aja yah. Agak jauhan jangan di depan gerbangnya, nanti ditabrak motor anak-anak, hehe.^^^