
Alara bernafas lega, akhirnya acara selesai juga, waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Tamu undangan juga sudah banyak yang pulang, hanya tersisa beberapa yang masih berfoto dengan pengantin.
"Cape banget ternyata jadi pengantin yah Lan, tuh lihat, masih aja berdiri pose-pose, pasti nanti malam cape tuh, nggak jadi mendaki gunung," ucap Alara. Ia dan Alan berjalan bersama keluar dari tempat acara.
"Sok tau, justru mendaki gunung itulah obat lelahnya."
"Emang? jangan-jangan kamu ..." Alara menunjuk ke arah Alan.
"Apaan?"
Alara tergelak, "Jangan-jangan kamu pernah ngintip yah?"
"Ya katanya begitu Ra."
"Katanya lagi, berarti kamu juga sok tahu." Alara dan Alan bergegas menuju ruang ganti masing-masing.
Alan terkekeh, "Eh, nanti aku tunggu di loby yah."
"Nggak usah, nanti aku naik taksi online aja, tenang masih jam sebelas kok, makasih yah tadi udah jemput."
"Yakin nih?"
Alara mengangguk, dirinya tidak ingin merepotkan Alan terus menerus. Apalagi sudah semalam ini, pastinya teman semasa kuliahnya itu juga ingin secepatnya istirahat.
"Tapi nanti kabari yah kalau udah sampai rumah."
"Sip." Alara mengacungkan jempolnya. Ia lalu masuk ke dalam ruang ganti. Tidak membutuhkan waktu lama, sisa make up di wajahnya dibiarkan begitu saja.
Keluar dari ruang ganti, Alara berjalan menelusuri lorong hotel, bergegas menuju lift karena tempat resepsi berada di lantai tiga.
Sesampainya di lantai bawah, Alara berjalan dengan santainya melewati lobby hotel, namun dirinya dikejutkan dengan seseorang yang sangat ia kenal sedang bergandengan tangan bersama lelaki asing.
"Donita ..."
Mimik wajah Alara berubah menyeramkan, tanpa berpikir panjang, dirinya langsung berlari ke arah Donita lalu menjambak rambut Anggita begitu keras.
"Brengsek kamu." Alara semakin kuat mencengkram rambut Donita.
Lelaki bule yang digandeng Donita berusaha melerai Alara dan Donita yang saat ini sudah saling balas menjambak.
"Dasar ******." Alara terus saja berkata kasar, meluapkan emosinya.
"Tidak tahu diri, ayah di rumah sakit, kamu malah chek in dengan lelaki ini."
"Kamu juga ******, ngapain kamu semalam ini di hotel," ucap Donita tak kalah memaki.
Alara menampar wajah Donita. Kekuatan keduanya membuat bule yang berkencan dengan Donita sulit memisahkan keduanya.
Lobby hotel heboh, Alara di tarik oleh seseorang, dan Donita di tarik oleh kekasih bulenya. Alara terus saja meronta, rasanya belum puas menyerang Donita. Ingin rasanya mencabik-cabik wajahnya hingga rusak, agar tidak ada lagi korban buaya betina yang satu ini.
"Sudah, sudah, nanti kamu bisa kena pasal penganiyaan, sudah," ucap lelaki yang melerai Alara. Wanita itu mendadak lemas, lalu tersungkur di lantai lobby hotel. Sementara Donita langsung di bawa pergi oleh pacar bulenya.
"Kamu akan menerima balasan dari Tuhan Donita." Alara menangis sesenggukan, ia tidak perduli dengan situasi sekitar, dirinya bahkan tidak perduli jika nantinya akan viral di sosial media.
"Kamu tega mengkhianati ayah saat semuanya sudah kamu ambil, kamu jahat." Alara terus menangis sejadinya, ia mulai lemas hingga tanpa sadar kepalanya menyandar di dada bidang lelaki yang melerainya.
Alara bahkan memukul dada lelaki itu saat tengah menangis. Hatinya begitu sakit, sakit sekali.
"Seharusnya kamu nggak melerai kita berdua, dia pantas mendapatkannya, dia jahat."
"Minum dulu, tenangkan diri kamu." Lelaki itu memapah Alara menuju kursi yang ada di lobby. Alara meminumnya. Setelah sedikit tenang, dirinya melirik lelaki yang saat ini duduk di sampingnya.
"Haduh, mampus, mati, apes," ucap Alara dalam hati.