Ms. Alara

Ms. Alara
Privasi



"Sumpah murid kamu itu bar bar banget, Ra." Adam geleng kepala, pandangannya fokus ke depan sambil memegang kemudi.


"Iya, tapi dia baik banget kok, Mas." Alara akui walaupun Andre sangat tengil, tapi dibalik itu semua dia adalah remaja yang baik, pandangan tentang cinta di waktu remaja memang akan dibayangkan dengan hal yang indah-indah saja, sedangkan dirinya tidak dalam fase itu, maka dari itu Alara jelas menolak apapun pernyataan cinta Andre padanya.


Ehmm


"Dipuji, apa jangan-jangan naksir juga?" Adam memasang raut muka masam, konyol memang cemburu dengan bocah, tapi Andre lebih banyak waktu bersama Alara ketimbang dirinya.


"Nggak lah mas ih, jangan gitu ngomongnya." Alara mengurutkan bibir, sebal dengan pertanyaan Adam.


"Tadi itu di puji."


"Ya maksud aku dia sebenarnya nggak buruk kok, cuma tengil aja."


"Kamu sedikit suka?"


"Nggak."


"Sukanya sama siapa dong."


"Sama kamu." Alara melirik Adam, sengaja ia menjawab seperti itu agar lelaki di sebelahnya senang bahagia dan tidak meledeknya lagi.


"Serius?" Adam benar senang saat ini.


"Cepat jalan." Alara mengalihkan pembicaraan, jika dilirik Adam dengan mata mautnya, ah rasanya tidak kuat balik tatap, takut hatinya tak mampu menampung bunga-bunga asmara.


"Eh tapi mas itu kaya nggak asing sama mukanya, kaya pernah lihat." Adam berusaha mengingat-ingat kapan dirinya melihat Andre sebelumnya.


"Pasaran dong." Alara terkekeh.


Adam masih melanjutkan berpikirnya sekaligus berusaha fokus menyetir, ia benar-benar penasaran karena merasa tidak asing dengan Andre.


"Ini jalan kemana sih mas? bukan ke rumahku deh." Alara baru menyadari dirinya tidak di antar pulang lewat jalan semestinya.


"Ke kantor dulu, pekerjaan mas belum selesai, sedikit lagi, oh ya mas mau ajak kamu makan sepulang kerja nanti." Adam tersenyum simpul, dirinya menyempatkan waktu untuk menjemput Alara tapi di kantor juga masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.


"Masa pakai seragam ini kita dinner nya?"


"Nanti kita beli baju dulu sebelum dinner."


"Belum gajian aku mas. Oh iya, duit mas Adam juga masih kok yang kemarin, lupa aku." Alara menepuk dahinya.


"Nanti mas yang traktir, tenang."


"Nggak ah, nanti gaji mas habis lagi, kan gajian berikutnya masih lama, harus hemat," ujar Alara menasehati.


Adam terkekeh, "Iya iya, mas hemat kok."


Keduanya sampai juga di kantor Adam, mereka bergegas masuk ke dalam ruangan Adam, Alara sudah tidak heran lagi dengan banyak pasang mata yang memperhatikan dirinya dengan seksama.


"Kok mereka gitu banget yah ngeliatin aku mas?" Alara penasaran dengan sikap aneh karyawan lain yang ada di kantor ini.


"Aku nggak pernah gandeng cewek ke kantor selain kamu."


Alara tersenyum, "Serius mas?"


Adam mengangguk, ia mempersilahkan Alara masuk ke dalam ruangannya, lalu meminta pujaan hatinya itu untuk duduk manis saja di sofa.


"Mas udah pesan jajan buat kamu, tunggu yah, jangan bosen yah. Main hape dulu aja."


"Lowbet hapenya."


Adam lalu memberikan ponselnya pada Alara, "Nggak di kunci kok, kalau mau main apa tinggal download aja kalau di situ nggak ada."


Alara melongo. "Emang nggak apa-apa?"


"Ya nggak apa-apa lah, hape aku isinya nggak neko-neko kok."


"Maksudnya privasi gitu mas."


"Udah pakai aja."


Alara tersenyum.


"Kenapa?"


"Lucu aja mas, padahal di luar sana masih banyak lhoo suami istri yang nggak boleh pegang atau lihat hape pasangannya."


"Hah, masa? kenapa begitu?" Adam tampak heran.


"Privasi katanya."


Adam tergelak, "Suami istri kan?"


"Iya."


"Kenapa privasi segala, bukannya setiap inci tubuhnya sudah saling tahu, lucu sekali kalau perkara hape tapi di anggap privasi."


"Ya nggak tahu mas."


"Tuh mas udah nggak privasi masalah hape sama kamu, tinggal nanti kita nikah ya, Ra." Adam mengerlingkan matanya.


Lagi lagi ngajak nikah. Tak akan pantang menyerah.