Ms. Alara

Ms. Alara
Secepatnya



"Bunda_"


"Bunda_"


Alara langsung menengok kanan kiri, ia paham sekali itu suara siapa yang memanggil bunda Ana.


"Kenapa?" senyum bunda mengembang, ia paham sebetulnya apa yang sedang Alara rasakan.


"Bunda." Alara bersembunyi di balik tubuh bunda Ana karena rasanya tidak sopan jika mencari tempat yang aman, ini bukan rumahnya.


"Kok kamu pulang jam segini, Adam?" tanya Bunda saat sudah melihat Adam berjalan menghampirinya.


"Hape ketinggalan, kan penting bun." Adam semakin dekat dengan bunda, ia melihat ada hal aneh di belakang bunda.


"Bun itu di belakang bunda siapa?" Adam hampir saja ingin menarik Alara tapi bunda menghalangi.


"Anak bunda, nanti sebentar lagi akan jadi anak bunda." Bunda berusaha menghalangi agar Alara tidak terlihat sehingga Adam semakin penasaran, sengaja, kejutan untuk putranya.


"Bunda, jangan sembarangan adopsi, di luar banyak orang jahat, kan udah punya anak juga, kenapa mesti mau lagi bun."


"Ya makanya kamu nikah biar bunda ada temennya."


"Lagi di usahakan terus bun, Alara nya belum jawab mau, masa Adam paksa."


Alara memejamkan mata, terkejut mendengar pernyataan Adam, ternyata dirinya sudah menjadi pembahasan di rumah ini oleh Adam. Lebih terkejut lagi ternyata bunda Ana adalah orangtua Adam. Kehidupan memang kerap kali memberikan kejutan dalam perjalanannya. Terkadang menemukan kebahagiaan dalam satu waktu dan dalam sekejap berubah berubah menjadi hal menyedihkan. Tentu sebagai manusia Alara tidak bisa menebak kapan hal tersebut akan terjadi.


"Ya udah sama gadis di belakang bunda aja yah."


"Nggak bun, Adam cuma mau Alara."


"Segitunya," Ana tertawa kecil, ia sengaja memancing Adam untuk mengatakan perasaannya agar Alara yakin bahwa putranya benar-benar mencintainya.


"Biarin, oh iya itu siapa bun, jangan sembarangan bawa orang masuk." Adam maju selangkah lalu menarik tangan Alara hingga gadis itu hampir terjerembab ke depan tapi Adam langsung menangkapnya.


Melihat wajah Alara di depan matanya, hati Adam berdegup kencang, matanya berbinar, kebahagiaan muncul ke permukaan, ah rasanya tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata.


"Ra." Adam memeluk gadis itu lalu mengusap rambutnya perlahan.


"Mas kangen." Adam begitu antusias, sepertinya lupa jika di depannya ada bunda Ana.


"ADAM." Bunda menarik tangan Ana, menyelamatkan gadis itu dari cinta membara putranya.


"Bunda."


"Nakal kamu yah, nikahi dulu, enak aja main pelak peluk, pelanggaran tau nggak." Bunda mendelik, Adam garuk kepala.


"Bahaya banget, depan bunda aja kamu gitu, kalau nggak ada bunda jangan-jangan kamu_"


"Nggak ada, Adam anak baik kok, tanya Alara, pernah nggak Adam macam-macam, baru tadi, itu juga karena saking senangnya."


"Benar Ra? bujangan ini nggak modusin kamu?" Lirikan mata Bunda beralih ke Alara.


Alara mengangguk, "Mas Adam selalu baik Bun."


"Dia baik? terus apalagi?"


"Baik semaunya pokoknya, nggak pernah macam-macam juga."


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya ngobrol laginya sambil makan kue bunda yuk."


Adam langsung gerak cepat mempersiapkan tempat duduk untuk Alara, bunda Ana tersenyum senang melihat putranya memperlakukan calon wanitanya dengan baik. Ia tidak khawatir jika nanti melepas lajang Adam, putranya pasti bisa membahagiakan istrinya dengan baik. Jika Adam mampu memberikan yang terbaik untuk istrinya kelak, rasanya Ana lega karena sudah mendidik anaknya dengan baik.


"Ra, ini putra bunda, yang kemarin bunda ceritakan ke kamu untuk dijadikan calon suami, tapi kamu menolak," ledek Bunda sambil melirik Adam.


"Hah menolak?" Adam melihat Alara dengan tatapan sedih.


"Bukan begitu mas, kan aku nggak tau kalau mas Adam anak bunda," jawab Alara menjelaskan agar Adam tak salah paham.


"Tapi kamu bilang kemarin karena sudah ada seseorang di hati kamu, Ra, benar kan?" Bunda ingin memastikan siapa yang ada di hati Alara saat ini.


Alara mengangguk, "Iya bun."


"Siapa Ra?" Adam menatap Alara serius.


Alara menatap Adam malu-malu, "Kamu mas."


"Serius?"


Alara mengangguk mantap. Adam hendak menghampiri Alara lagi tapi bunda cegah.


"Kamu ini nggak sabaran. Duduk Adam."


"Iya bun, namanya juga orang seneng, ih bunda kaya nggak pernah muda aja," protes Adam sedikit gemas dengan bundanya.


"Maaf ya bunda, Alara nggak tahu kalau ternyata anak bunda itu mas Adam, semuanya serba kebetulan."


Bunda tersenyum, "Nggak apa-apa. Kebetulan adalah takdir, dan takdir bukanlah kebetulan. Terus kalian kapan nikah?"


"Secepatnya Bun." Alara menjawab dengan tegas hingga Adam terkejut, hatinya bagai ditaburi bunga satu kecamatan, bahagia mendengar jawaban Alara tanpa ragu.