
"Hanun, aku mau pergi dulu yah, sebentar doang, dekat juga, nggak lama kok." Alara meletakan tasnya di pundak. Adzan Dzuhur sudah berkumandang, ia hanya memiliki waktu satu jam ke tempat kerja Adam Erlangga, mengembalikan jas dan kemeja lelaki itu.
"Mau kemana?"
"Mau ke tempat laundry, terus balikin jas. Ntar aku cerita lagi deh." Alara langsung bergegas keluar dari ruang guru, ia takut jika waktunya tidak cukup.
"Ih, Alara."
Alara tidak menghiraukan protes dari Hanun, ia bergegas ke parkiran, lalu melajukan motornya ke tempat laundry. Sesampainya di sana, ia langsung membayar jasa laundry nya setelah itu ke tempat Adam Erlangga bekerja.
Alara menatap gedung megah menjulang tinggi yang kini sudah ada di depannya. Ia memarkirkan motornya di sebuah swalayan maret-maret dekat perusahaan, yang pasti kendaraannya tidak mudah untuk masuk ke dalam perusahaan sebesar itu. Dirinya lalu berjalan kaki dari swalayan menuju kantor Adam.
"Siang, Pak," Sapa Alara pada sekuriti yang berjaga. Ia lalu mengatakan pada sekuriti ada perlu dengan Adam. Untung saja satpam perusahaan begitu ramah, mengizinkan masuk, tapi sebelumnya harus menanyakan lebih dulu juga pada resepsionis.
Alara menuju resepsionis, mengatakan jika dirinya ingin bertemu dengan Adam Erlangga. Namun mbak resepsionis yang cantik jelita menanyakan apakah sebelumnya sudah ada janji dengan Adam Erlangga. Alara menggeleng karena memang tidak membuat janji, ia tidak paham juga dengan peraturan seperti itu.
"Ya sudah, saya titip ini saja ya Mbak, ini laundry milik pak Adam." Alara memberikan godybag yang berisi pakaian Adam pada resepsionis.
"Baik mbak, nanti akan saya sampaikan."
"Makasih ya mbak," ucap Alara, ia lalu bergegas keluar dari kantor itu. Menyapa satpam yang ada di depan pintu.
Baru saja Alara keluar, Adam pun hendak keluar makan siang, ia melewati lobby kantor. Resepsionis yang melihat langsung berlari menghampiri.
"Maaf Pak Adam, ada titipan ini. Takut penting, baru saja akan saya antar, takutnya penting."
Adam menghentikan langkahnya lalu mengambil godybag yang diberikan resepsionisnya, ia lalu membukanya, sedikit terkejut karena isinya kemeja putih dan jas.
"Dari siapa?"
"Dari seorang wanita, baru aja keluar tadi."
"Makasih ya." Adam langsung berlari ke depan, sebelumnya ia bertanya pada satpam tentang arah perginya Alara.
Adam kembali berlari, ia melihat ada seorang wanita mengenakan baju dinas rapi, dengan rambut yang terikat rapi juga, sepatu pantofel warna hitam.
"Hei kamu." Adam berlari sedikit kencang. Alara menghentikan langkahnya ketika mendengar teriakan seseorang di belakangnya.
"Eh, pak Adam."
Kini Adam sudah berada di depan Alara. Ia cukup terkejut dengan penampilan Alara yang begitu sopan, berwibawa, cantik dan terlebih lagi rambutnya hitam legam. Dirinya seolah melihat Alara sebagai wanita lain, bukan wanita yang ia jumpai malam itu.
Alara mengangguk, "Kenapa?"
Alara menghela nafas, "Beda yah? ya beginilah saya pak Adam, bagai bunglon."
"Eh engga, maaf, maksudnya bukan itu." Adam melihat nametag di baju Alara.
"Alara, makasih ya bajunya."
Alara mengangguk, "Sama-sama, makasih juga untuk malam itu, maaf saya banyak merepotkan."
"Tapi aku kurang suka cara kamu titip ke resepsionis, kenapa nggak langsung ke saya?"
"Nggak bisa Pak, anda orang penting, jadi harus buat janji dulu kata mbak resepsionis yang cantik jelita itu," jawab Alara sejujurnya.
"Oh begitu, maaf ya."
"Ya sudah pak, saya mau balik lagi ke sekolah."
"Ke sekolah?" Adam mengernyitkan dahi.
"Iya, kenapa?"
"Kamu guru?"
Alara mengangguk. Adam semakin terkejut. Malamnya bekerja sebagai MC dengan pakaian begitu sexy, paginya begitu berwibawa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.
"Udah makan siang?"
Alara menggeleng, waktunya tidak cukup jika makan siang di luar.
"Makan dulu, Yuk."
"Nggak usah, Pak. Saya udah buru-buru. Saya ke parkiran sana dulu yah."
"Oh ya sudah, hati-hati ya bu guru."
Alara tersenyum manis, baginya paling senang saat ada yang memanggilnya bu guru. Ia lalu segera bergegas ke parkiran swalayan. Sementara Adam masih memaku, menatap punggung Alara yang semakin lama semakin menjauh.