Ms. Alara

Ms. Alara
Warisan



"Ibu kenapa?" Alara tampak tidak biasanya melihat ibunya terdiam sedari tadi, bahkan dari ia pulang sampai sekarang makan malam, tampak lesu dan banyak pikiran.


"Ibu bingung." Mirna menatap manik mata putrinya.


"Bingung kenapa bu?" Alara juga balik tatap.


"Tadi Alula ke sini, dia bilang mau jual aset tanah ayahmu, lebih tepatnya sudah laku, tapi dia bilang kita berdua jangan meminta hak apapun karena sudah meninggalkan rumah. Ibu nggak masalah dengan diri ibu sendiri, yang terpenting adalah kamu, rumah itu juga katanya sudah di hibahkan ke Donita. Lalu kamu bagaimana, Ra." Air mata Mirna akhirnya meluncur juga dari sudut matanya, ia merasa bersalah karena tidak mampu memperjuangkan hak anaknya, terlebih semua itu karena Alara lebih memilih keluar dari rumah itu demi menemani dirinya.


Alara mengusap air mata ibunya dengan jemari lentiknya. Sakit hati sekali karena untuk kesekian kalinya ibunya menangis karena ulah keluarganya sendiri. Harta bukanlah masalah bagi Alara, tapi jika ibunya sudah menangis seperti ini, rasanya ingin sekali menampar seluruh orang yang menyakiti ibunya.


"Nggak usah khawatir bu, doain aku aja yang kenceng, biar terwujud jadi Cinderella, jadi istri pangeran konglomerat yang duitnya bertingkat-tingkat." Alara mencoba tersenyum agar ibunya tetap tersenyum.


"Kamu ini, masih saja menghayal." Mirna menepuk bahu putrinya.


"Ya malam ini menghayal bu, siapa tahu besok lusa jadi kenyataan." Alara tiba-tiba sepintas membayangkan menikah dengan Adam. Ia jadi tersenyum geli.


"Tuh kan kebanyakan menghayal jadi senyum-senyum sendiri."


"Sudah ya, ibu jangan khawatirkan aku, pasti Tuhan kasih rejeki yang tak terduga kalau memang itu hak aku yang di rampas, aku percaya konsep rejeki dari Tuhan." Alara berusaha menenangkan ibunya agar tidak khawatir lagi mengenai harta ayahnya.


"Semoga kamu dapat suami yang bisa membahagiakan kamu Ra."


"Aamiin, ayo bu makan."


Alara di hadapan ibunya terlihat tegar dan mengikhlaskan, tapi tidak dengan hari esok, ia akan memberi pelajaran pada seisi rumah ayahnya.


☘️☘️☘️


^^^Hanun, hari ini aku nggak masuk yah, ada keperluan, udah izin kok.^^^


Setelah mengirim pesan pada Hanun Alara bergegas ke luar kamar, sarapan yang sudah di sajikan ibunya. Ia mengenakan baju seragam mengajar biasa dengan tujuan agar ibunya tidak curiga jika pagi ini dirinya akan bertamu ke rumah ayah.


"Ra, makin hari ibu makin tua, kamu kapan nikah?"


Alara melirik ibunya. Lagi-lagi pertanyaan itu yang terdengar di telinganya.


"Kalau nggak lusa ya, bulan depan," ucap Alara sambil terkekeh. Ya siapa tahu jawabannya adalah doa.


"Kamu ini, serius dong Ra."


"Ya serius, doain ya bu."


"Ya ibu selalu doain kamu."


"Ya udah, lagi nggak selera sarapan bu, maaf ya aku makan dikit."


Mirna mengangguk, ia menyesal menanyakan hal tersebut ketika putrinya sedang makan, pasti lidah Alara mendadak hambar.


Alara bergegas menuju rumah ayahnya untuk meminta penjelasan, bukan meminta warisan. Uang halal masih bisa ia cari, untuk apa memperebutkan harta yang bukan dari hasil kerja kerasnya. Warisan itu bonus, kalau tidak diberi ya jangan mencuri.


"Ayah_"


Yang muncul bukan Rudi melainkan Donita dengan gaya nya bak sosialita kaya raya. Perhiasan mentereng menempel di leher dan tangannya. Pasti hasil jual tanah.


"Mana ayah?"


Donita menyibakkan rambutnya, "Itu di dapur lagi masak."


Alara melotot terkejut, "Ayah masak?"


"Iyalah, dia lapar ya buat makanan sendiri."


"Terus kamu ngapain, hah." Alara menghampiri Donita lalu menarik kalung panjang yang wanita itu kenakan hingga putus, setelah itu ia acak-acak rambut Donita dengan gemas. Donita melakukan perlawanan.


"Alara kamu kurang ajar," teriak Donita.


"Kamu yang kurang ajar, makanya aku hajar."


"Eeee, ada apa ini." Alula datang melerai keduanya.


Setelah di lerai barulah datang Rudi dengan tergopoh-gopoh karena mendengar keributan.


"Ada apa ini?"


"Itu Alara tiba-tiba serang aku sayang." Donita menghampiri suaminya lalu bergelayut manja.


"Kamu emang pantas di cabik-cabik, kenapa ayahku yang masak? apa gunanya kamu sebagai istri, cuma bisa menghamburkan uang." Alara tersulut emosi, ia tidak bisa lembut jika berhadapan dengan keluarga nya.


"Kamu juga, kalau saja bukan adikku, sudah aku cabik-cabik juga, kemarin kamu ke rumah cuma mau beritahu ibu kalau kalian menjual aset dan menggunakan uangnya tanpa sepeserpun membaginya untuk aku padahal ada hak aku di situ, iya kan?" Alara menuding ke arah Alula.


"Jangan iri yah, ayah emang sengaja kasih ke aku." Alula justru meledek Alara.


"Ra, Alula kan sebentar lagi nikah, dia butuh uang banyak untuk membuat rumah dan membangun rumah tangga dengan suaminya," ucap Rudi meminta pengertiannya pada putrinya.


"Aku juga sebentar lagi menikah, mana bagiannya untuk aku?"


Alula dan Donita malah tertawa, mereka mengira Alara sedang berhalusinasi.


"Jangan latah, jangan mimpi juga." Alula tertawa terbahak-bahak, melihat kakaknya yang sibuk berhalusinasi.


"Oke, kita buktikan." Alara menantang Alula.


"Oke."


"Kalau aku benar menikah, terus kalian tetap ambil hak aku, awas aja nanti, saat kalian mati, roh kalian akan mengambang di atas langit karena aku nggak ikhlas dan aku anggap kalian berhutang." Alara lalu secepatnya meninggalkan rumah itu tanpa permisi.


☘️ Bersambung ☘️