Ms. Alara

Ms. Alara
Tak ada guna



Sabtu ini Alara sudah bersiap-siap ke rumah ayahnya untuk menemui Alula seperti yang di rencanakan bersama Adam sore itu. Ia berharap semoga dengan rekaman cctv dari adam yang di pintanya ke pihak hotel bisa meyakinkan Alula agar berubah pikiran untuk melanjutkan pernikahan. Untung saja dewa penolongnya adalah Adam yang mungkin uangnya tidak berseri sehingga mampu meminta rekaman cctv untuk dijadikan barang bukti.


Adam sudah menunggu Alara sejak sepuluh menit yang lalu, ia mengobrol dengan bu Mirna, dirinya tidak memberi tahu jika akan menemui Alula bersama Alara karena sebelumnya Alara sudah memberitahu agar tidak bicara dengan bu Mirna mengenai hal ini.


"Yuk, aku udah siap nih."


Adam lalu pamit pada bu Mirna, izin membawa sebentar anak gadisnya. Menurutnya seharusnya terbalik, Alara yang harus pamit pada ibunya untuk membawa dirinya. Ah nanti saja protesnya.


Keduanya langsung bergegas menuju mobil. Alara cukup deg-degan, untuk pertama kalinya dirinya kembali ke rumah itu. Rumah penuh rasa suka dan duka.


"Alula ada di rumah memangnya?" tanya Adam sambil melajukan mobilnya.


"Pastinya ada, biasanya kalau libur begini suka di rumah aja kok tidur."


"Semoga aja yah."


Sesampainya di sana, Alara terdiam sejenak sebelum turun, ia menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia mencoba untuk melupakan sejenak kisah kelam dalam hidupnya.


"Kamu yakin?" Adam paham sekali jika Alara tidak baik-baik saja, tapi demi adik tercinta, ia rela menghadapi trauma yang akan menghantui di depan mata.


Alara mengangguk, ia lalu membuka pintu mobil Adam. Dirinya sekuat tenaga memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah ayahnya.


Baru sampai teras rumah ternyata ada Donita yang membuka pintu dengan penampilan mentereng entahlah akan kemana. Wanita itu tampak terkejut ketika melihat sahabatnya sekaligus anak tirinya datang bersama seorang lelaki.


"Eh sayangku," sapa Donita begitu heboh.


Alara menghindar ketika Donita akan memeluknya.


"Jangan sok akrab. Aku mau cari Alula, dia ada nggak?" Alara langsung saja mengutarakan niat kedatangannya.


"Masuk dulu dong sayang, eh itu cowok kamu? ih kok ganteng banget sih." Donita melirik ke arah lelaki tampan dan berkelas yang ada di sebelah Alara.


"Iya ini pacar aku, lebih tepatnya calon suami." Alara langsung mengambil jemari Adam untuk ia genggam. Alara juga langsung merapatkan tubuhnya ke arah Adam dan bergelayut manja. Lelaki itu tampak terkejut dengan sikap Alara, ia melirik gadis cantik yang tengah bergelayut manja di sebelahnya. Jiwa kelaki-lakiannya meronta-ronta. Adam menyadari jika perasaannya pada Alara memang lain.


"Sayang ayo masuk dulu," Alara tersenyum masih dengan mode bergelayut manja.


Donita mencebikkan bibirnya, kesal dengan Alara yang mendapat lelaki muda yang tampaknya kaya raya, ia melihat mobil mewah Adam dan tentunya penampilan serta aksesoris yang di kenakan lelaki itu.


Alara dan Adam masuk ke dalam rumah. Baru saja ingin duduk, terlihat Rudi, ayah Alara menghampiri keduanya. Rudi sangat senang dengan kedatangan Alara.


Alara yang masih menghormati Rudi sebagai orang tua bersalaman lebih dulu tapi enggan untuk di peluk. Ia menanyakan keberadaan Alula. Rudi dengan senang hati memanggilkan Alula.


Alula menghampiri Alara dengan wajah sinis, ia tahu pasti kakaknya itu ingin bicara ngawur lagi mengenai Edward. Alula duduk di ruang tamu bersama dengan Rudi juga Donita.


"Aku nggak mau berlama-lama di sini. Cuma mau ngasih bukti ini, jika Edward berselingkuh dengan dia." Alara menunjuk ke arah Donita. Wajah Donita langsung memerah. Alara memutar rekaman cctv saat dirinya bertengkar dengan Edward dan Donita.


Namun saat vidio itu berputar tiba-tiba Alula mengambil paksa handphone Alara lalu melemparnya hingga pecah. Alara terkejut dengan sikap Alula, lebih terkejut ketika ponselnya sudah hancur berkeping-keping.


"Alula_" Bentak Alara.


"Apa? kamu mau fitnah Edward lagi? nggak akan percaya aku sama kamu Ra, aku cinta sama Edward. Dia sudah mengaku kalau dia khilaf dan akan perbaiki semuanya, saat itu kami memang sedang bertengkar, wajar kalau dia marah dan mungkin melampiaskan ke yang lain, atau hanya ingin bercerita dengan Donita, jadi kamu jangan memperkeruh atau menggagalkan pernikahanku." Alula tak kalah meninggikan suara.


Alara geleng kepala, ia tidak habis pikir kenapa Alula bisa sebodoh itu.


"Kalau kamu berpikir yang dibutuhkan dalam sebuah pernikahan hanya cinta saja, maka kamu salah. Membangun sebuah bahtera rumah tangga tidak hanya didasari hanya karena rasa cinta. Selain itu, baik kamu ataupun dia harus berjanji untuk selalu bersama dalam susah maupun senang. Masih pacaran saja bertengkar lalu cari pelampiasan, bagaimana nanti jika sudah menikah, pikir pakai akal sehatmu."


Alara lalu bergegas keluar dari rumah Rudi sambil menggandeng Adam, tapi sebelum itu ia mengambil puing-puing handphone nya yang pastinya sudah rusak.


Alara dan Adam masuk ke dalam mobil, Adam memperhatikan Alara yang terdiam membisu seperti menahan tangis.


"Kalau mau nangis, nangis aja Ra. Sudah urusan keluarga kamu jangan kamu tanggung sendiri, biarkan mereka menanggungnya sendiri."


Alara menangis kencang sambil memegang ponselnya yang sudah hancur.


"Bukan masalah itu, tapi ini handphone aku rusak, gajian masih lama, nanti bagaimana." Alara kembali menangis tersedu.


Adam tertawa kecil melihat Alara menangis sesenggukan bak anak kecil.


"Nanti mas belikan yang baru, udah jangan nangis lagi."