Ms. Alara

Ms. Alara
Julid Melilid



Alara kembali ke ruang kantor guru dengan perasaan kesal. Kenapa perilaku orang banyak duit begitu kurang kerjaan. Andre salah satu murid cerdas, bahkan bahasa Inggris nya bagus, untuk apa harus les privat segala, tak lain dan tak bukan pasti karena ingin berdekatan dengan dirinya. Alara merasa dikerjai bocah tengil itu. Walaupun bayarannya tinggi, tapi jika tidak sesuai fungsi, untuk apa, mending cari job sebagai MC atau nyanyi.


Saat Alara masuk ke kantor guru, terdengar suara Renata yang tengah berbisik sambil melirik dirinya dengan tatapan tak suka seperti biasanya.


"Kalau mau bisik-bisik jangan lupa pakai softex, takut bocor soalnya," ucap Alara sembari berjalan ke arah meja kerjanya. Ia tahu betul, dalam geng pertemanan Renata ada salah satu orang yang selalu membocorkan isi pergosipan mereka.


"Ehmmm, cari muka sama yayasan sekarang, udah punya bini itu." Renata mengucapkan demikian tapi tidak berani melihat ke arah Alara.


"Penginnya sih begitu, tapi muka aku udah putih glowing cantik menawan mempesona, jadi nggak perlu lah cari-cari muka lagi. Udah seneng banget sama muka aku yang cantik ini. Iya tau kok beliau sudah beristri, eh anak bujang ya juga ada lhoo." Alara seperti biasa menghadapi Renata dengan santai, bahkan ia kerap kali menggunakan bahasa yang membuat Renata marah. 


Hanun mencolek Alara lalu tertawa kecil mendengar sahabatnya itu membalas cuitan Renata dengan begitu berani dan percaya diri.


"Emang Pak Agung punya anak bujang Ra?" tanya Hanun memastikan. Ia penasaran juga dengan dipanggilnya Alara ke ruangan pak Agung.


"Nggak tau," jawab Alara lirih. Hanun malah terkekeh, Alara memang suka ceplas ceplos jika berbicara.


"Mana mau anak pak Agung sama kamu," celetuk Renata menambah panas suasana.


"Kenapa nggak mau? pinter bahasa inggris begini, bisa di ajak kemanapun, nggak malu-maluin nanti, yee. Ah sudahlah, sudah waktunya ngajar." Alara bergegas mempersiapkan bahan ajarnya. Begitu juga dengan Hanun, ia sudah bersiap sedari tadi, hanya sedang menunggu bel pergantian jam pelajaran.


Tidak ada lagi jawaban dari Renata karena memang Alara juga sudah bergegas keluar dari kantor guru bersama Hanun.


"Tadi ada apa dipanggil pak Agung?" tanya Hanun sambil berjalan menuju kelas masing-masing.


"Bocah tengil, ternyata dia keponakan pak Agung."


Hanun mengernyitkan dahi, "Siapa?"


"Andre, dia minta pamannya itu buat bujuk aku mengadakan les privat di rumahnya."


"Kayanya dia cinta beneran deh nggak main-main,"ledek Hanun. Tapi dipikir lagi memang Sepertinya begitu.


"His, jangan nambah pusing Hanun." 


"Ya kalian kan dua-duanya jomlo, kenapa nggak dicoba dulu aja."


"Astagfirullah, Hanun kamu habis makan apa sih? kok jadi gila begini. Ya berondong juga nggak apa-apa tapi jangan anak SMA juga kali. Yang ada berasa mong-mong, ngaco banget kamu." Alara menepuk-nepuk lengan Hanun begitu gemas karena ucapan Hanun juga membuat gemas telinga nya.


Hanun tergelak karena sudah berhasil meledek Alara sehingga wajah sahabatnya itu berubah menjadi badmood.


"Bukannya yang penting banyak duitnya ya Ra?"


"Yah itu juga penting, tapi ... tapi ..." Alara mencubit pinggang Hanun karena terus saja meledek.


"Ampun Ms Alara." 


"Eh Ra, nanti pulang ngajar, ke cafe yuk sebentar, suntuk banget." Alara mengangguk, sambil mengacungkan jempol. Hanun dan Alara akhirnya berpisah di persimpangan karena kelas yang di tuju berbeda jalan.


Sesampainya di depan kelas, Alara merasa ponsel dalam sakunya bergetar. Ia segera merogohnya, ada telfon dari nomor baru. Alara langsung menerima panggilan dikarenakan takut ada hal penting.


Dan ternyata memang penting, pemilik jasa laundry mengabarkan jika baju kemeja putih dan jas nya sudah boleh di ambil.


Alara ingin secepatnya mengembalikan kemeja dan jas milik lelaki yang bernama Adam itu. Rencananya istirahat makan siang nanti dirinya akan mengembalikan baju itu.


Setelah menutup panggilan telfonnya, Alara segera masuk ke dalam kelas, dan memulai proses belajar mengajar.