Ms. Alara

Ms. Alara
Minta nomer hape dong



"Kamu pacarnya Alara yang kemarin kan?"


Adam melirik wanita yang tiba-tiba sudah duduk di depannya. Wajahnya tidak asing, ibu tiri Alara memanglah hobi sekali bersikap manja di depan lelaki manapun, apalagi yang terlihat mapan dan tampan.


"Iya_" Hanya itu jawaban Adam, ia sengaja acuh karena tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan Donita.


"Kamu kenal Alara di mana sih? sepertinya kamu bukan guru deh." Donita mengeluarkan suara manis manjanya untuk menarik perhatian Adam, lelaki kharismatik berjenggot tipis dengan rahang tegas menambah ketampanannya.


"Kenal tidak sengaja_" Adam melihat ke segala penjuru arah, mencari Alara, ia tidak ingin berlama-lama menghadapi wanita kepo yang ada di depannya.


"Kerja di mana mas?" Donita terus memikirkan beberapa pertanyaan untuk di tanyakan akan obrolan semakin berkembang. Respon kekasih Alara justru membuatnya penasaran, ada ternyata lelaki yang tidak langsung tertarik dengannya. Biasanya sekali sapa langsung terpikat, nempel bagai magnet.


"Di kantor."


"Boleh minta nomor hape nggak?"


"NGGAK BOLEH, ada nomor penggali kuburan nih, mau nggak nih biar sekalian aku masukin kamu ke lubang kuburan, dasar sundel bolong." Alara yang sudah berada di belakang Donita langsung berteriak, tidak perduli dengan puluhan pasang mata yang memandangnya. Dirinya terkejut ketika mendapati Adam sudah duduk berhadapan dengan wanita gatal yang sudah merenggut kebahagiaan keluarganya.


"Alara, berisik banget, malu ih." Donita juga ikut terkejut ketika mendengar Alara bicara begitu melengking, padahal ini hotel bukan hutan.


"Kamu yang seharusnya malu." Alara bergegas menghampiri Adam, duduk di sebelah lelaki itu, buru-buru ia kaitkan tangannya dengan tangan Adam, melanjutkan part 2 sesi sandiwara pacar pura-pura.


"Kenapa harus aku yang malu? aku pakai baju sopan, nggak telanjang, dandanan cantik." Donita mengusap wajah mulusnya seolah menunjukan kecantikannya.


"Nggak sopan, minta nomer hape pacar orang, pacar kamu sudah banyak, nggak cukup apa, nanti keluar belatung baru tahu rasa," ucap Alara ketus, biarkan saja mantan teman sekaligus ibu tirinya itu sakit hati.


"Baru pacar aja bangga." Donita akhirnya ikut tersulut emosi.


"Bangga lah, pacar hasil usaha sendiri, bukan rebut punya orang kaya kamu." Alara melotot ke arah Donita, rasanya senang sekali bisa sepuas hati menyinggung wanita itu.


"Bangga banget dong sayang." Adam lalu mengecup kening Alara dengan lembut hingga wanita itu memejamkan mata.


Alara terkejut dengan perlakuan Adam yang membuat hatinya bagai di hinggapi ribuan kupu-kupu. Bagaimana tidak terbawa perasaan, kecupannya terasa hangat dan tulus.


Tak hanya itu saja, setelah mengecup kening Alara, Adam menyandarkan kepala Alara di bahunya sambil mengelus rambut lembut wanita itu. Alara mengikuti alur sandiwara Adam.


"Nggak ada laki-laki tulus, Ra. Semuanya bisa berpaling, jika sudah melihat kecantikan wanita lain. Jangan mudah diperdaya, saranku hati-hati, dia juga bisa seperti ayahmu nanti." Donita tertawa lepas, lalu bergegas meninggalkan Alara yang tiba-tiba dihinggapi rasa takut akan ucapan Donita.


Kepala Alara masih nyaman bersandar di bahu Adam, ia malah ngelamun memikirkan ucapan Donita, apakah benar semua lelaki sama.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?"


Pertanyaan Adam menyadarkan lamunan Alara sekaligus menyadarkan jika kepalanya masih bersandar di bahu Adam serta tangannya melingkar di belakang punggung lelaki tampan itu.


Alara segera duduk seperti biasa, ia lalu memukul lengan Adam hingga lelaki itu mengaduh.


"Mas Adam, malah ambil kesempatan lagi, cium kening aku." Alara mengerucutkan bibirnya.


"Ya aku bingung Ra, di drama korea biasanya cerita romantis itu kan begitu cium kening, sandaran di bahu, aku kan nggak jago acting."


"Tapi nggak cium juga kali, Mas."


"Cuma dikit, seujung bibir, kamu juga kenapa tadi merem?"


"Aku ... aku_"