Ms. Alara

Ms. Alara
Alara Pingsan



Ting


Alara mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja. Matanya masih fokus ke layar laptop, ia di tengah mempersiapkan materi mengajar. Sesaat ia melihat notifikasi sms masuk dari bank BRJ (Bank Rakyat Jelata), Alara terperangah, ada dana masuk senilai sepuluh juta rupiah. Ia kini fokus ke layar ponsel, ingin melihat siapa gerangan yang mentransfernya sebanyak itu, takutnya ada yang salah transfer nanti malah jadi sengketa, bahaya.


Sobat BRJ! Dana Rp 10.000.000,00 masuk ke rekening 0007***2001 pada 18/03/23 06:34:54. Ket: Ketemuan lagi yuk di restoran ABC ADAM ERLANGGA TO ALARA BINTANI


"Ih ngapain sih tuh orang, begini nih kalau duitnya berceceran, ngajak ketemu aja pakai transfer segala. Eh tapi apa jangan-jangan orang kaya itu chat nya pakai mbanking? ih kok keren sih," ucap Alara lirih. Ia jadi berfikir, ada apa gerangan lelaki itu ingin bertemu dengannya, ya walaupun dirinya juga butuh bertemu untuk membahas rencana membongkar kebejatan Edward.


Alara tak kehilangan akal, ia mentransfer uang pada rekening Adam kembali namun ia potong sepuluh ribu untuk biasa administrasi antar bank karena berbeda dengan keterangan setuju jam 4 sore nanti.


Adam yang mendapatkan notifikasi sejumlah uang masuk ke rekeningnya malah geleng kepala, kenapa mesti di kembalikan lagi, hanya terpotong sepuluh ribu, aneh memang, padahal dirinya ikhlas memberi. Sesaat kemudian tersenyum karena bu guru cantik menyetujui.


☘️☘️☘️


Selesai membuat bahan ajar, Alara bergegas ke toilet, tumben pagi ini mules di sekolah. Sesampainya di toilet, rasa mulesnya hilang karena mendengar suara perempuan menjerit di salah satu ruang toilet.


Alara segera berlari sambil menggedor pintu, tak ada respon, malah semakin keras menjerit, ia lalu berinisiatif mendobrak sekuat tenaga.


Brrakk


Pintu terbuka, Alara melihat murid perempuannya terkulai lemas bersimbah darah. Ia jadi panik sendiri, tidak bisa menolong sendirian, toilet juga sangat sepi. Untung sepi, kalau tidak pasti akan menjadi kehebohan nantinya.


"Tunggu di sini." Alara lalu berlari ke ruang guru mencari pertolongan, ia juga meminta tolong pada guru lain untuk mengevakuasi muridnya dari toilet.


"Ini sepertinya keguguran," ucap bu Dewi guru senior yang sudah berkeluarga.


"Hah?" Alara melongo, darahnya memang banyak, ia kira hanya menstruasi hari pertama.


Sasi murid perempuan yang bersimbah darah itu di gendong oleh pak satpam menuju parkiran, kepala sekolah meminjamkan mobilnya untuk membawanya ke rumah sakit.


Kepala sekolah memberi tugas pada staf guru, ada yang menemani ke rumah sakit, dan ada juga yang membersihkan toilet karena memang ada sisa-sisa darah dan gumpalan yang berceceran.


Alara kebetulan di tugaskan menemani ke rumah sakit. Ia cukup mual melihat darah dan gumpalan yang tercecer tadi, tapi ia berusaha kuat demi Sasi, murid yang memang butuh perhatian dan bimbingan.


Sesampainya di rumah sakit, Sasi langsung dilarikan ke UGD dan mendapatkan perawatan serius karena sangat pucat.


Beberapa jam ditangani, Sasi sudah diperbolehkan pindah ke ruang rawat inap. Terlihat mukanya sangat pucat dan tatapannya kosong. sebelumnya dokter menjelaskan jika Sasi memanglah keguguran.


Alara yang mual, malah semakin lemas mendengar penjelasan dokter. Ia merasa gagal menjadi pendidik karena tidak bisa menjaga muridnya dengan baik.


Di ruang rawat inap, Sasi kembali menangis, ia meminta maaf pada Alara.


"Maafkan saya, Bu," ucap Sasi lirih tak berdaya.


"Makan dulu, ngobrolnya nanti yah." Alara langsung saja menyuapi anak didiknya itu.


Selesai makan dan minum obat, Alara meminta nomor ponsel orang tua Sasi untuk dihubungi agar bisa menjaga di rumah sakit. Namun gadis itu justru menggeleng.


"Kenapa? keluarga kamu harus tahu."


"Percuma Bu, mereka nggak bakal perduli. Orangtua saya cuma sayang dengan uang, tidak dengan saya." Air mata kembali keluar dari mata Sasi.


"Nggak boleh gitu, mereka harus tahu, dan kamu harus meminta pertanggungjawaban dari lelaki itu." Alara terus membujuk.


"Mereka nggak akan perduli, Bu. Saya mati juga mereka akan tetap sibuk cari uang."


Sasi lalu bercerita jika ia hamil oleh pacarnya yang sudah dewasa, selama ini orangtuanya tidak memperhatikannya. Ia terbuai dengan kata manis dan janji palsu sang kekasih. Dengan segala perhatian dan kasih sayang yang pacarnya berikan, membuat Sasi mudah terbuai dalam mahligai cinta terlarang. Namun naasnya, dirinya hamil dan si pacar mendadak kabur entah kemana. Sasi menyesali perbuatannya, ia ingin berubah menjadi gadis yang baik.


Alara menelan salivanya ketika mendengarkan cerita Sasi. Ia semakin bersyukur menjomblo selama ini. Kejombloannya yang sering dihina orang itu ternyata merupakan berkah tersendiri.


Selesai bercerita, Alara membiarkan Sasi untuk istirahat. Ia lalu menelfon pihak sekolah bagaimana kelanjutan kasus Sasi ini. Dirinya juga tetap menelfon keluarga Sasi. Namun sepertinya apa yang siswinya ceritakan memang benar adanya karena sejam kemudian bukanlah orangtua Sasi yang datang melainkan Asisten rumah tangga yang selama ini merawat gadis itu dari kecil.


Terkadang uang memang membutakan segalanya, tapi tak punya uang juga tak kalah kacau kehidupannya.


Alara pamit pulang pada Bi Imah, asisten rumah tangga keluarga Sasi, hari ini tugas menjaga siswinya sudah selesai. Ia juga masih harus bertemu dengan Adam untuk menyelesaikan masalah berikutnya.


Alara bergegas menuju restoran tempat dirinya dan Adam Erlangga janji temu. Sebelum Alula melaksanakan ijab kabul, ia harus bisa membatalkan semuanya.


Untung saja restoran tidak jauh jaraknya dari rumah sakit, tapi sesampainya di sana, tubuh Alara sedikit limbung, mungkin karena kelelahan dan mual dengan darah yang pagi tadi ia lihat. Semuanya jelas masih terngiang-ngiang sampai membuatnya tak nafsu makan.


Masuk ke dalam restoran, ia mencari-cari wajah tampan sang bujangan. Lambaian tangan Adam membuatnya mudah untuk menemukan. Dirinya segera menghampiri lelaki yang menyambutnya dengan senyuman hangat. Senyumannya saja hangat, apalagi pelukannya. Eh.


"Kok pucat banget kamu, Ra." Adam panik saat melihat Alara yang kini sudah duduk di depannya.


"Emang yah?" Padahal tubuhnya merasakan pusing hebat dan mual. Tiba-tiba ia membenamkan kepalanya di meja dengan beralaskan tangannya sendiri.


Adam semakin panik. "Ra, Alara."


Tidak ada suara sahutan dari Alara. Adam beranjak dari tempat duduknya lalu mencoba membangunkan Alara. Gadis itu memejamkan mata dan tampak lemah.


Alara pingsan.