Ms. Alara

Ms. Alara
Nikah Yuk



"Mas SERIUS."


Alara melongo melihat lelaki itu tampak serius. Apa benar Adam serius?


"Nikah yuk." Adam mencoba memberanikan diri mengungkapkan keseriusannya dengan mengajak Alara menikah. Tidak mungkin rasanya menyatakan cinta dengan mengajak wanita itu pacaran. Melihat usia yang sudah tidak pantas lagi untuk haha hihi jalan sana sini memadu kasih tanpa kejelasan.


Alara terkekeh, "Pengen yah, pengen yang kaya di sana? celamitan ih." Alara menunjuk ke arah pelaminan. Sepasang suami istri baru yang tengah berbahagia.


"Ya pengen dong Ra, siapa sih yang nggak pengen nikah, bukan celamitan, tapi emang serius mau, usia kita udah bukan ABG lagi. Memangnya kamu nggak mau nikah?"


"Ih, mau dong."


"Itu jawabanmu?" Adam terkekeh.


"Ih bukan, nanti aja kita obrolin lagi, makan dulu aja yah."


Adam mengangguk, ia dan Alara makan terlebih dulu, rencananya setelah selesai makan, Adam ingin membawa Alara jalan di luar, sudahlah tak apa tidak jadi foto dengan pengantin karena saat ini sedang berjuang agar bisa menjadi manten.


Selesai makan Adam mengajak Alara jalan-jalan lebih dulu sesuai rencana. Ia ingin melanjutkan obrolan yang tadi sempat tertunda. Di dalam mobil Adam segera menanyakan kembali jawaban Alara.


"Hemm, aku kepikiran tentang kata-kata Donita, katanya nggak ada lelaki yang tulus, ujungnya pasti seperti ayah. Maaf yah mas, apakah semua lelaki begitu? aku hanya takut, orang terkasih di sekitarku selalu nya mendapatkan perlakuan nggak baik dari pasangan, boleh nggak sih kalau aku jadi semakin selektif." Alara belum menjawab pertanyaan dari Adam, melainkan ingin berdiskusi lebih dulu untuk meyakinkan hatinya.


"Setiap laki-laki menawarkan kisah hidup yang berbeda. Seumpama sebuah buku, setiap halamannya adalah cerita hidup yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang benar-benar sama. Aku, dengan setulus hati akan menyayangi kamu. Kamu hanya perlu memberikan aku kesempatan untuk membuktikan bahwa pernyataan semua laki-laki itu sama saja, nggak baik, adalah salah. Bagaimana? mau kasih kesempatan?" Dibalik jawaban Adam terselip permintaan jawaban dan kepastian dari Alara.


"Okeh, kita saling mengenal satu sama lain dulu boleh?" Alara akan berusaha menyembuhkan traumatik nya seiring dengan pendekatannya dengan Adam.


"Butuh waktu berapa lama, Nona?" Adam tersenyum sumringah, akhirnya, kondangan kali ini cukup hoki juga. Biasanya hanya berakhir dengan saling menjodohkan tanpa ada kelanjutan karena saling sibuk satu sama lain.


"3 bulan?"


"Lama banget, 1 bulan aja yah?"


"Ya sudah 1 bulan deh."


"Yes." Adam begitu girang, baginya 1 bulan sangat singkat, ia akan berusaha menjadi sosok lelaki idaman Alara. Keduanya lalu melanjutkan jalan-jalan sambil mengobrol banyak hal.


"Stop mas, stop." Alara seperti melihat seseorang yang ia kenal tengah berdiri di tepi jalan sambil menenteng sepatu hak tinggi.


Adam menepikan mobilnya, Alara lalu menyuruh Adam memundurkan mobilnya. Benar apa yang Alara lihat, Donita tengah menangis, bajunya terlihat lusuh ada beberapa bagian yang robek, entahlah kenapa.


Donita malah menangis kencang. Alara mengerutkan dahi, ia lalu mengajak Adam keluar dari mobil.


"Kamu kenapa?"


"Apes banget malam ini, kecopetan tadi ,ternyata aku ketemuan sama komplotan orang jahat." Donita kembali menangis, Alara menghela nafas, ingin bersyukur tapi tetap saja tidak tega, ada sisi kemanusiaan dalam dirinya walaupun wanita yang ada di depannya itu begitu jahat padanya.


"Tobat ih, ayah aku kan baik banget sama kamu, heran deh sama kamu, masih aja begitu."


"Aku nebeng yah sama pacar kamu." Donita tetap saja Donita, ia akan mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Alara melihat penampilan Donita yang sexy namun compang camping, takutnya terjadi hal-hal yang mengerikan, ia juga melirik ke arah Adam, tidak enak hati karena belum resmi jadian, walaupun yang pasti lelaki itu sangatlah baik.


"Aku pesankan taxi online saja ya mbak, sebentar, alamat nya di mana?" Adam berinisiatif memberikan bantuan dengan memesankan dan tentunya membayari juga taxi online yang akan mengantarkan Donita.


Alara menyebutkan alamat yang di tuju Donita. Setelah memesan, mereka menunggu hingga taxi online itu datang menjemput Donita.


Setelah Donita masuk ke dalam taxi online, Adam dan Alara juga masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan mengantar Alara pulang.


"Kok tadi Donita nggak boleh nebeng di sini? kan satu arah sama kontrakanku?" tanya Alara ingin tahu alasan Adam.


"Aku nggak mau cari penyakit, waktu di hotel tadi kamu marah-marah, jadi aku takut kamu cemburu lagi, nanti malah peluk-peluk, haduh bahaya, Ra," jawab Adam sambil tergelak.


"Mas Adam, nggak gitu ih." Alara memukul lengan Adam dengan gemas.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


Intermezzoo: Dengan segala kerendahan hati, emak san mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita dan menjadikan kita kembali dalam keadaan yang suci. Aamiin🥰