
Happy Reading ❤
👑
Aleta tidak masuk sekolah sejak dua hari yang lalu karena kakinya yang masih sakit. Iris, Sisil, dan Icha berniat menjenguk Aleta setelah pulang sekolah. Mereka akan menanyai alamat rumah Aleta pada wali kelas mereka.
Nata duduk di kursinya yang terdapat di pojok, ia melirik kursi Aleta yang kosong. Dimas melirik Nata, "cie, kangen ya sama Aleta," sahut Dimas. Nata langsung mengalihkan tatapan matanya, "gak, ngapain gue kangen sama dia," jawab Nata.
"Mending lo jenguk Aleta deh Nat, siapa tau kondisinya parah makanya dia gak sekolah-sekolah," sahut Julian. Nata melirik Julian, ucapan Julian terngiang-ngiang dalam benaknya.
Nata berdiri, "gue mau pergi," saat Nata akan melangkahkan kakinya, pergelangan tangannya dicekal oleh Dimas, "Nat, jangan bolos dulu. Kalau Papa lo tahu lo pasti tahu akibatnya Nat," larang Dimas.
Nata melirik Dimas, "gue gak papa, kalian gak usah khawatir," jelas Nata. Ia menjauhkan tangan Dimas dari pergelangan tangannya. Nata langsung berlari keluar sebelum guru masuk ke kelasnya.
Dimas dan Julian memandangi kepergian Nata, Dimas melirik Julian dengan tatapan tajam. Tanpa diduga ia menoyor kepala Julian, "lo sih! Ngapain coba ngomong kalau kondisi Aleta parah, Nata kan jadi pergi, " kesal Dimas.
Julian membalas menoyor kepala Dinas, "heh, upil unta. Belum tentu juga Nata mau ke rumah Aleta, siapa tahu dia mau boker," jawab Julian.
Nata berlari disepanjang koridor, ia melirik kanan kirinya, ia berharap tidak ada guru yang melihatnya berkeliaran saat jam pelajaran. Nata sudah berada di depan gerbang sekolahnya, ia lega karena tidak ada satpam yang menjaga gerbang itu.
Nata memanjat gerbang itu dengan cepat. Nata tersentak ketika satpam menuju ke arahnya, ia langsung berlari mencari kendaraan umum. Satpam itu menghembuskan napas kasar, Nata berhasil lolos. Ia tidak dapat mengejar Nata karena Nata sudah naik taksi.
Nata bernapas lega karena berhasil lolos dari satpam. Ia menyenderkan kepalanya di kursi taksi. Setelah beberapa menit, supir taksi itu memberhentikan taksinya.
Nata memberikan uang pada supir taksi itu sebagai ongkos. Nata keluar dari taksi itu dan mengucapkan terimakasih pada supir taksi itu karena sudah mengantarnya.
Nata mengetuk pintu rumah Aleta. Karena perkataan Julian tadi terus terngiang di kepalanya, Nata jadi ke rumah Aleta. Entah kenapa hatinya tidak suka jika memikirkan kalau kondisi Aleta parah.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pintu rumah Aleta terbuka. Milka tersenyum tipis melihat Nata ada di depan rumahnya, "ayo masuk," ucap Milka.
Nata mengikuti langkah Milka dari belakang, Milka menyuruh Nata untuk duduk terlebih dahulu, "bentar ya," ucap Milka. Ia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk Nata.
"Mama," panggil Aleta dari dalam kamarnya. Nata dapat mendengar suara Aleta, ia berdiri dan melangkahkan kakinya ke kamar Aleta.
Aleta membulatkan matanya saat melihat Nata yang ada di depan pintu kamarnya, "kamu ngapain di sini Nat?" tanya Aleta.
"Kenapa lo tadi manggil Mama lo?" tanya Nata. Ia tidak ingin menjawab pertanyaan Aleta tadi. Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku pengen ke ruang tamu, tapi jalannya masih sakit. Tadinya aku mau minta tolong sama Mama buat bantuin aku jalan," jelas Aleta panjang lebar.
"Oh," jawab Nata singkat dan jelas. Aleta menghembuskan napas pelan, ia selalu mencoba bersabar dengan sikap Nata yang dingin dan kadang berbicara ketus padanya.
Nata mendekati Aleta, ia berdiri membelakangi Aleta lalu ia membungkukkan badannya, "naik," Aleta tidak mengerti maksud Nata, "naik apa?" tanya Aleta bingung.
Nata mendengkus kesal, sepertinya bukan kaki Aleta saja yang sakit tapi otaknya juga sakit. Nata melirik Aleta, "naik ke punggung gue. Gue mau gendong lo, ngerti. Bego banget sih jadi cewek," sinis Nata.
Aleta mengerucut bibirnya, kenapa Nata tega mengatai ia bego. Tapi tunggu, tadi Nata bilang dia mau menggendongnya, apa ia tidak salah dengar? Itu gak mungkin, pasti dia salah dengar.
Aleta tersentak, "ih Nat, kenapa kamu gendong aku kaya gini, aku kan jadi malu. Kalau Mama liat gimana?" lirih Aleta.
Nata menatap tajam mata Aleta, Aleta meneguk ludahnya saat melihat tatapan mata Nata yang seperti ingin membunuhnya, "bacot banget sih lo. Diem atau gue jatuhin lo," sinis Nata.
Milka melihat Nata yang menggendong Aleta menuju ke arahnya. Milka tersenyum tipis, sepertinya Aleta sudah menemukan lagi kebahagiaannya, ia senang akan hal itu, "Nata, dudukin Aleta di sini. Kamu pasti keberatan gendong Aleta kaya gitu," ujar Milka.
Nata mendudukan Aleta di samping Milka, "iya Tante, dia berat banget kaya gajah," cetus Nata. Nata duduk di sofa sebelah Aleta.
Aleta melotot ke arah Nata. Apa yang Nata bilang tadi, ia seperti gajah? Yang benar saja, Nata memang kalau ngomong gak suka disaring dulu, "emangnya kamu pernah gendong gajah?" tanya Aleta.
Nata membalas melototi Aleta, "ya lo gajah pertama yang gue gendong," jawab Nata. Aleta berdecak kesal, ia melipat tangannya di depan dada, "dasar nyebelin," kesal Aleta.
Milka terkekeh pelan melihat perdebatan Nata dan Aleta. Milka mengambil segelas jus buah yang tadi ia buat untuk Nata, ia menyodorkan itu pada Nata, "nih minum dulu, kamu pasti haus," ucap Milka.
Nata mengambil gelas itu dari tangan Milka, "makasih Tante," ucap Nata.
"Ma, buat aku mana?" tanya Aleta. Milka tersenyum tipis, ia mengelus rambut Aleta, "bentar ya, Mama bikinin buat kamu," Milka berdiri dan melangkah ke dapur.
"Kamu gak sekolah Nat? Tapi kalau kamu gak sekolah gak mungkin kamu pakai seragam sekolah gini. Kamu pasti bolos ya," tebak Aleta.
"Ya," jawab Nata singkat. Ia meminum jus buah tadi sampai habis.
"Kenapa bolos? Dan kenapa kamu ke rumah aku?" tanya Aleta penasaran. Apa Nata sengaja bolos hanya untuk menemuinya? Akh, itu tidak mungkin.
"Bisa gak sih lo diem bentar aja, gue muak ngedenger suara lo," sinis Nata. Niatnya, hanya tidak ingin menjawab pertanyaan Aleta. Ia tidak mau menjawab kalau ia bolos karena khawatir pada keadaan Aleta.
Aleta menghembuskan napas kasar. Kenapa Nata begitu menyebalkan hari ini? Ingin sekali ia mencakar-cakar wajah Nata.
Aleta melirik wajah Nata, masih terdapat lebam di pipi Nata, "Nat, itu lebam di pipi kamu masih sakit gak?" tanya Aleta.
Nata melirik Aleta, "apa urusannya sama lo?" tanya Nata datar.
Aleta juga menatap mata Nata, "aku khawatir aja, entah kenapa hati aku gak suka kalau kamu kesakitan dan babak belur gitu," jawab Aleta jujur.
Jantung Nata tiba-tiba berdetak dengan cepat, ucapan Aleta membuatnya termenung, apa maksud Aleta mengatakan semua itu? Apa Aleta mencoba menarik perhatiannya?
Nata mengalihkan tatapan matanya, "kalau lo cuma mau narik perhatian gue, lo gak berhasil sama sekali. Mending lo diem aja, gue gak tertarik sama cewek kaya lo," ucap Nata.
Aleta mendengkus pelan, ia menyenderkan kepalanya di sofa, "siapa yang nyoba narik perhatian kamu. Aku ngomong kaya gitu karena hati aku yang mau," gumam Aleta.
👑
Makasih udah mau mampir ❤