Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 53}



Happy Reading❀


Maaf ya kalau banyak typo ❀


jangan lupa vote ya πŸ˜†


πŸ‘‘


Putra mondar-mandir di depan UGD. Para dokter dan suster sedang berusaha menyelamatkan nyawa Nata.


Putra mengacak rambutnya. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Seketika ingatkan Putra kembali pada saat ia menyiksa Nata. Ia menyesal telah melakukan semua itu pada Nata. Ia merasa sangat bersalah pada Nata.


Bela menyenderkan kepalanya di dinding. Hatinya terasa sakit, ia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Nata. Bela tidak ingin kehilangan Nata.


Bela menatap Putra yang ada di seberangnya. Tanpa pikir panjang Bela langsung mendekati Putra.


PLAK


Sebuah tamparan mendarat di pipi Putra. Bela tidak bisa lagi menahan emosinya yang sudah memuncak. "Ini semua gara-gara Om!" teriak Bela.


Putra hanya diam. Ia tahu kalau ia salah, ia pantas mendapatkan tamparan itu. Tamparan itu tidak seberapa dibandingkan saat ia menyiksa Nata dengan sangat kejam. Putra ingin sekali menghukum dirinya sendiri atas perbuatannya sendiri pada Nata.


Bela menarik kerah baju Putra. "Om brengsek! Kalau terjadi sesuatu sama Nata, aku gak bakal maafin Om!" peringat Bela sambil terisak.


Putra menunduk. "Maaf," lirih Putra pelan.


"Kenapa Om baru sadar dan ngerasa bersalah saat Nata udah kaya gini! Nata tuh sayang banget sama Om, tapi Om malah gak pernah nganggep kehadiran Nata ada dan Om malah nyiksa Nata seenaknya! BRENGSEK TAU GAK!" murka Bela.


Putra semakin merasakan rasa sakit menjalar di hatinya. Ia benar-benar menyesal telah bersikap buruk pada Nata. Putra berharap Nata baik-baik saja, ia akan menembus semua kesalahannya pada Nata.


Putra berjalan lemas mendekati UGD. Ia berdiri di depan pintu UGD, ia berharap dokter cepat keluar dan memberitahukan kalau Nata baik-baik aja.


Putra menunduk tanpa sadar air matanya menetes. "Maafin Papa Nata. Papa mohon kamu harus baik-baik aja, Papa gak mau kehilangan kamu Nak," gumam Putra.


Aleta menyuruh supir taksi memberhentikan taksinya saat sudah sampai di depan rumah Nata. Saat Aleta tahu kalau Nata pergi ke rumahnya untuk menjenguk Putra Aleta langsung pergi ke rumah Nata, ia takut Putra akan kembali menyakiti Nata.


Saat Aleta mau mengetuk pintu rumah Nata tiba-tiba suara isak tangis seorang perempuan terdengar dari dalam rumah Nata.


Tanpa pikir panjang Aleta langsung masuk ke dalam rumah Nata, untung saja pintunya tidak dikunci. Aleta mencari asal suara isak tangis itu, ia tersentak saat melihat Sarah sedang terduduk di lantai sambil menangis.


Aleta semakin terkejut saat melihat banyak sekali bercak darah di lantai itu. Perasaannya seketika langsung tidak enak. "Bi Sarah," panggil Aleta.


Sarah refleks menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Sarah mendapati Aleta sedang berdiri tak jauh darinya. Sarah berdiri lalu memeluk Aleta.


Aleta terkejut karena Sarah tiba-tiba memeluknya. Aleta membalas pelukan Sarah. "Ada apa Bi? Kenapa Bibi nangis gini?" tanya Aleta.


"Den Nata ketembak Non," jawab Sarah sambil terisak.


"Mak-sud Bi-bi apa?" tanya Aleta gemetar.


"Tadi Bibi abis pulang dari pasar terus ngeliat Den Nata dibawa sama Tuan Putra dan juga Non Bela. Bibi ngeliat baju yang dipakai Den Nata penuh darah terus tadi Bibi juga ngeliat ada pistol di lantai. Bibi takut terjadi sesuatu sama Den Nata, Non," jelas Sarah panjang lebar.


Aleta menjauhkan tubuh Sarah darinya. Ia menggelengkan kepalanya. "Gak mungkin Bi, ini cuma bercandaan kan!" ujar Aleta tanpa sadar air matanya sudah menetes.


"Bilang kalau ini cuma bercanda Bi! Gak mungkin Nata kena tembak! Gak mungkin Bi!" sergah Aleta.


"Bibi gak bercanda Non. Sekarang Den Nata udah dibawa ke rumah sakit," terang Sarah.


Tanpa mengatakan apapun Aleta langsung berbalik pergi. Ia berlari. Air matanya tidak berhenti menetes. "Na-ta," lirih Aleta.


Tiba-tiba saja hujan turun dengan deras disertai dengan petir. Aleta tidak memperdulikan tubuhnya yang kini sudah basah kuyup, ia terus berlari. "Aku yakin kamu baik-baik aja Nat," batin Aleta.


Aleta sudah kehilangan orang yang sangat ia sayangi, Alvaro. Aleta tidak mau jika ia juga harus kehilangan Nata.


Aleta tidak sadar kalau dari arah kanannya ada mobil yang melaju dengan sangat kencang.


BRAK


Mobil itu menabrak Aleta sampai tubuh Aleta terpental. Aleta merasakan kepalanya yang terasa sangat sakit. Darah segar mulai mengalir dari pelipis Aleta. "Na-ta," lirih Aleta sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.


Dokter kaluar dari UGD. Putra langsung menanyakan tentang keadaan Nata pada dokter itu. "Gimana keadaan anak saya Dok? Dia baik-baik aja kan?" tanya Putra.


Dokter itu menghela napas pelan. "Dia dalam keadaan kritis. Jantungnya mulai tidak berfungsi karena peluru tembakan bersarang cukup lama di jantungnya. Secepatnya dia membutuhkan pendonor jantung, sayangnya stok pendonor jantung di sini sedang tidak ada," jelas dokter itu.


"Kalau gitu pake jantung saya aja Dok," ujar Putra dan Bela berbarengan.


"Maaf, tidak bisa. Pendonor jantung biasanya dari orang yang sudah meninggal dan kita juga perlu melakukan beberapa tes apakah jantung itu cocok dengan pasien. Kita berdoa saja semoga ada pendonor jantung secepatnya yang cocok untuk pasien," jelas dokter itu.


"Kalau belum ada juga pendonor untuk anak saya sampai besok bagimana Dok?" tanya Putra.


Dokter itu kembali menghela napas pelan. "Maaf, kemungkinan anak anda tidak akan bisa selamat. Berdoa saja Pak semoga anak Bapak bisa bertahan dan segera ada pendonor yang cocok untuk anak Bapak," ujar Dokter itu.


πŸ‘‘


Gimana nih perasaan kalian di part ini?


Apa kabar? Semoga kalian baik-baik aja ya. Jaga kesehatannya ❀


Ada yang nunggu aku next lagi kah? πŸ˜†


Follow ig aku ya _jihansenja_ πŸ˜†