Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 43}



Happy Reading ❤


Maaf kalau banyak yang typo ❤


Jangan malu-malu buat komen, aku seneng kalau kalian komen. Yang masih mau marah-marah sama Putra dipersilahkan😁❤


👑


"Om kenapa sih bisa benci banget sama Nata?" tanya Aleta.


Putra tersenyum sinis. "Karena dia sering sekali membuat masalah dan merepotkan saya. Dan karena dia juga cuma anak seorang ****** yang gak tau diri," cetus Putra.


PLAK


Satu tamparan keras mendarat di pipi Putra. Putra terkejut karena Nata berani menamparnya. "Jangan pernah hina Bunda aku! Bagaimanapun Bunda aku itu istri Papa!" tegas Nata.


Nata sangat membenci orang yang berani menghina Bundanya, ia tidak akan tinggal diam jika Bundanya dihina. "Papa boleh mukul atau hina aku sepuas Papa. Tapi aku gak bakal diem aja kalau Papa berani ngehina Bunda aku," lanjut Nata.


Putra menarik kerah seragam Nata kasar. "BERANI SEKALI KAMU BRENGSEK!" murka Putra.


Aleta mencoba melepaskan cengkraman Putra dari seragam Nata. Tapi cengkraman itu terlalu kuat. Putra melirik Aleta dengan tatapan yang seperti ingin membunuh, Putra mendorong Aleta kasar sampai Aleta terduduk di lantai.


Nata membulatkan matanya. Ia melepaskan cengkraman Putra dari seragamnya dengan mudah. Nata mendekati Aleta, ia jongkok di depan Aleta. "Aleta, lo gak papa?" tanya Nata khawatir.


"Akhh," pekik Nata.


Aleta terkejut saat tiba-tiba Putra menjambak rambut Nata. "MATI KAMU *******! SAYA TIDAK MENGINGINKAN ANAK BRENGSEK SEPERTI KAMU!" bentak Putra.


Putra menjambak rambut Nata dengan kasar sampai Nata merintih kesakitan. Nata merasakan kulit kepalanya yang terasa sangat perih.


Aleta berdiri. Ia menarik-narik tangan Putra agar menjauh dari rambut Nata. "Om, lepasin Om. Nata kesakitan Om. Aku mohon cukup buat Nata tersiksa Om," pinta Aleta.


Aleta mulai terisak saat Putra semakin menjadi-jadi, Putra memukul-mukuli kepala Nata. "PAPA BENCI KAMU NATA! MENDING KAMU MATI NYUSUL IBU KAMU YANG ****** ITU!" murka Putra.


Nata merasakan kepalanya yang sangat pusing. Penglihatannya mulai buram.


Putra berhenti memukuli Nata. Ia beralih pada Aleta, ia mendorong Aleta sampai kepala Aleta terbentur dinding. Aleta memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing, tidak lama kemudian pandangannya gelap. Aleta pingsan.


Nata berdiri, ia mencoba menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Ia mendekati Aleta yang pingsan. Tanpa sadar Nata meneteskan air matanya. "Maafin gue Ta, gara-gara gue lo terluka," gumam Nata.


Nata mengangkat tubuh Aleta dengan hati-hati. Ia menghembuskan napas kasar, ia harus membawa Aleta ke rumah sakit, Nata takut terjadi sesuatu pada Aleta.


Nata tidak memperdulikan tubuhnya yang meronta-ronta kesakitan.


Arsen hanya diam sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ia memandangi Nata yang berjalan keluar membawa Aleta di gendongnya. "Cih, sok kuat. Semoga aja lo mati," gumam Arsen.


Sarah memandangi punggung Nata dengan tatapan sendu. Ia menyaksikan semuanya, tapi ia hanya bisa diam. Ia mendoakan Nata agar baik-baik saja.


Nata keluar dari rumahnya. Ia terus menyusuri jalan dengan terseok-seok. Nata tidak punya uang untuk naik taksi maupun angkutan umum lainnya.


Banyak pasang mata yang memperhatikan Nata. Ada yang menatap Nata dengan tatapan sendu dan ada juga tatapan jijik karena terdapat bercak-bercak darah di seragam Nata.


Nata menatap wajah Aleta yang masih terpejam. "Sabar ya Sayang, sebentar lagi kita sampe rumah sakit," gumam Nata.


Nata sudah sampai di rumah sakit ia langsung membawa Aleta ke UGD agar cepat diperiksa oleh dokter. Dokter menyuruh Nata untuk menidurkan Aleta di ranjang rumah sakit. "Saya periksa dulu keadaannya," ujar dokter itu.


Sesekali dokter itu melirik ke arah Nata. Dokter itu merasa aneh karena sepertinya yang terluka lebih parah itu Nata. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya dokter itu.


"Saya baik-baik aja Dok. Tolong pastikan keadaan dia baik-baik aja Dok," ujar Nata masih merasa khawatir dengan keadaan Aleta.


Dokter itu menghela napas pelan. "Dia tidak apa-apa, sebentar lagi juga sadar. Tapi sepertinya kamu yang tidak baik-baik saja, biar saya periksa keadaan kamu," ujar dokter itu.


Nata menggeleng. "Saya sudah bilang kalau saya baik-baik aja Dok," jawab Nata.


Nata mendudukkan dirinya di samping ranjang Aleta. Tangan Nata terulur menyelipkan anak rambut Aleta ke belakang telinga. "Cepet sadar Ta, gue khawatir," gumam Nata.


Dokter itu masih memperhatikan Nata. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dokter itu mendekati Nata lalu menarik tangan Nata. "Kamu harus diobati dan juga kamu harus mengganti pakaian kamu," ujar dokter itu.


Dokter itu membawa Nata ke ruangannya. Ia membuka loker yang ada di ruangannya lalu mengambil baju dari loker itu. "Ganti baju kamu," Dokter itu menyodorkan bajunya kepada Nata.


Nata mengambil baju itu. "Iya, nanti saya bakal ganti baju. Kalau gitu saya mau ke Aleta dulu," saat Nata mau keluar, dokter itu mencekal pergelangan tangannya. "Kamu harus diobati dulu, setelah itu kamu boleh pergi," ujar dokter itu.


Nata tersenyum tipis. "Gak usah Dok. Saya maunya Aleta yang ngobatin luka saya. Jadi Dokter gak usah repot-repot ngobatin saya. Makasih Dok untuk bajunya," Nata menjauhkan tangan dokter itu dari pergelangan tangannya. Lalu ia pergi.


"Dasar bocah bucin," gumam dokter itu terkekeh pelan.


👑


Gimana nih menurut kalian part ini?


Gimana keadaan kalian? Semoga baik-baik aja ya. Jaga kesehatannya❤


Next gak nih?