
Happy Reading ❤
👑
Nata menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia baru saja sampai di rumahnya. Ia menyenderkan kepalanya di sofa.
Nata memandangi langit-langit rumahnya, Nata mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Neta meneken nomor seseorang dan menghubunginya, Nata menempelkan ponsel itu ke telinganya, "halo Ta," ucap Nata.
"Kamu udah nyampe rumah Nat?" tanya Aleta dari sebrang sana. Nata menjawabnya dengan gumaman, "maaf Ta," lirih Nata.
"Kenapa minta maaf?" tanya Aleta bingung. Nata mengusap wajahnya kasar, "semenjak lo kenal sama gue, lo selalu dapet masalah gara-gara gue," terang Nata.
"Apaan sih Nat, masalah yang aku dapetin itu bukan salah kamu. Jangan terus-terusan minta maaf sama aku, kamu gak salah," jelas Aleta.
"Nat, aku pengen tau kenapa kamu ngomong ke Diva kalau aku orang spesial dalam hidup kamu? Apa maksudnya Nat, aku penasaran banget," lanjut Aleta.
Aleta ingin sekali menanyakan ini saat masih berada di sekolah. Tapi ia malu. Jadi, ia bertanya sekarang pada Nata. Ia sudah penasaran dengan jawaban yang akan Nata berikan padanya.
FLASHBACK ON
Diva meringis pelan karena Nata mencengkram pergelangan tangannya dengan sangat kuat. Aleta menyentuh tangan Nata, "Nat, jangan cengkram tangan Diva gitu Nat. Kasian dia kesakitan," terang Aleta.
Nata langsung menjauhkan tangannya dari pergelangan tangan Diva. Nata menarik Aleta ke belakangnya. Nata melirik Diva sinis, "apa sih mau lo!" bentak Nata.
Diva tersentak mendengar bentakkan Nata. Ia mencoba menyembunyikan rasa takutnya, "aku gak suka kamu deket-deket sama dia Nat," ungkap Diva.
Nata menyeringai, "emangnya lo siapa gue? Hah!" tanya Nata dengan intonasi yang masih meninggi.
Aleta mengelus punggung Nata bermaksud untuk menenangkan Nata, "Nat. Jangan kaya gini, aku takut ngeliat kamu marah-marah gini," lirih Aleta pelan.
"Aku calon pacar kamu Nat," tegas Diva. Ia tidak takut jika Nata akan marah padanya karena ucapannya.
Nata terkekeh pelan. Ia merasa lucu pada Diva karena Diva terus mengejar-ngejarnya padahal Diva sudah tahu kalau Nata tidak akan mau dengannya.
Nata mundur ke samping sampai ia bersebelahan dengan Aleta. Aleta tersentak ketika tiba-tiba Nata merangkul pundaknya, "pede banget lo ngomong kaya gitu. Jangan kebanyakan halu deh, gue gak akan mau sama cewek kaya lo! Dan asal lo tau, orang yang saat ini ada di sebelah gue adalah orang yang paling spesial dalam hidup gue. Dan lo gak akan bisa gantiin posisi dia di dalam hidup gue! Ngerti!" tegas Nata.
"Kalau lo berani macem-macem sama Aleta, gue bakal bikin perhitungan sama lo. Gue gak akan peduli walaupun lo cewek. Gue gak akan ngebiarin orang yang gue sayang terluka," jelas Nata.
"Pergi lo! Sebelum gue abisin lo di sini!" bentak Nata.
Diva meneguk ludahnya, tatapan mata Nata sangat menakutkan sampai tubuhnya bergetar. Ucapan Nata tidak sedikitpun terdengar main-main. Diva membalikan badannya dan langsung berlari meninggalkan Aleta dan Nata.
Nata bernapas lega karena Diva sudah pergi. Ia membalikan tubuhnya ke belakang, Nata melirik wajah Aleta yang masih basah dan juga seragam Aleta yang ikut basah.
Nata maju satu langkah ke depan Aleta. Aleta tersentak ketika menyadari kalau jaraknya dengan Nata sangat dekat.
Kalau Nata maju satu langkah saja, sudah pasti tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Nata, "Nat, kamu mau apa?" tanya Aleta.
"Gue anter lo ke wc," Nata menarik tangan Aleta. Mereka berjalan beriringan, hanya ada keheningan diantara mereka. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Nata dan Aleta sudah sampai di depan wc. Nata menyodorkan seragam sekolahnya pada Aleta, "nih. Sana ganti seragam lo, gue tunggu di sini," jelas Nata.
Aleta mangangguk. Ia memasuki wc yang tampak sepi, mungkin karena masih jam pelajaran jadi tidak banyak orang yang mau ke wc.
Nata menyenderkan kepalanya di dinding. Nata menegakan tubuhnya saat ada dua orang cewek yang mau masuk ke wc, "ke wc yang ada di lantai atas aja," ucap Nata.
Kedua cewek itu mengerutkan kening bingung, "emangnya kenapa?" tanya salah seorang cewek itu.
"Udah sih gak usah banyak bacot," sinis Nata. Kedua cewek itu langsung takut mendengar ucapan Nata, mereka tahu betul siapa Nata. Dan mereka tidak mau membuat masalah dengan Nata, mereka berbalik pergi.
Nata juga tidak tahu kenapa ia melakukan semua ini. Ia hanya ingin membiarkan Aleta sendirian di wc.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Aleta keluar dari wc. Nata terkekeh pelan saat melihat seragamnya yang sekarang dipakai Aleta kebesaran di tubuh mungilnya.
"Nat, seragam kamu besar banget deh," ujar Aleta.
Nata tersenyum tipis, ia mencubit pipi Aleta pelan, "udah gak papa lo tetep cantik kok," ucap Nata.
Aleta mencubit lengan Nata pelan, "gombal. Ohya Nat, untung aja di wc tuh gak ada orang, jadi aku gak ngerasa risih ganti bajunya," jelas Aleta.
Nata tersenyum tipis. Sudah ia duga kalau Aleta pasti tidak merasa nyaman kalau ada orang lain di dalam wc.
"Pulang yuk. Gue yang bakal nganterin lo pulang," ucap Nata.
Bel pulang sekolah memang sudah berbunyi sejak Aleta masih berada di dalam wc tadi. Aleta mengangguk, tentu saja dia mau diantar pulang oleh Nata.
Ia menarik kembali ucapannya yang ingin menjauhi Nata. Ia tidak bisa, karena Nata sekarang adalah alasan ia bisa bahagia.
FLASHBACK OF
"Karena gue sayang sama lo Ta. Gue gak suka saat lo selalu kena masalah gara-gara deket sama gue. Tapi, gue gak bisa ngelepasin lo gitu aja. Karena sekarang, lo kehidupan gue. Lo alesan gue tetep bertahan hidup sampe sekarang," gumam Nata.
"Nata!" panggil Putra. Nata langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Aleta. Nata berdiri dan melirik Putra yang sudah ada di depannya, "ada apa Pa? Papa perlu sesua-" sebelum Nata menyelesaikan ucapannya, Putra lebih dulu menampar pipi kanannya sampai menimbulkan suara yang keras.
"DASAR ANAK GAK BERGUNA! KENAPA KAMU PUKUL ARSEN SAMPAI DIA PINGSAN! KAMU PIKIR KAMU SIAPA? HAH!" murka Putra.
Putra menarik kerah baju Nata dengan kasar, "PAPA UDAH PERNAH BILANG SAMA KAMU JANGAN MUKULIN ARSEN LAGI! KAMU BENAR-BENAR ANAK BERENGSEK!" umpat Putra.
Putra meninju ujung bibir Nata. Tidak hanya sampai disitu, Putra terus memukuli Nata. Ia duduk di atas Nata dan memukulinya tanpa ampun, "KENAPA KAMU GAK IKUT IBU KAMU MATI AJA SIH! PERCUMA SAYA MEMBIAYAI HIDUP KAMU SAMPAI SEKARANG KALAU KAMU HIDUP CUMA BISA BIKIN MASALAH AJA! SAYA MALU PUNYA ANAK KAYA KAMU! MENDING KAMU MATI AJA SANA!" kesal Putra.
👑