Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 35}



Happy Reading ❀


Maaf kalau banyak typo 😁


Komen sebanyak-banyaknya yaπŸ˜†β€


πŸ‘‘


"Ka-mu ken-apa Nat?" tanya Aleta bergetar.


"Maaf Ta. Gue gak mau lo terluka gara-gara gue, mungkin ini yang terbaik buat kita," batin Nata.


Nata sama sekali tidak berniat untuk membentak Aleta. Tapi ia harus melakukannya agar Aleta menjauh darinya.


Aleta menatap Nata yang hanya diam. Aleta menyentuh tangan Nata, tapi Nata langsung menepis tangan Aleta, "jangan deket-deket gue lagi," ucap Nata.


Aleta mengernyit bingung. Ia sangat bingung dengan perubahan sikap Nata, sebenarnya apa yang terjadi dengan Nata sampai ia bersikap seperti ini padanya? Julian dan Dimas hanya bisa diam. Mereka tidak tahu harus apa.


"Kamu kenapa sih Nat? Apa maksud kamu bilang aku gak boleh deket-deket kamu lagi? Kenapa Nat," tanya Aleta butuh penjelasan.


Nata berdiri, ia menarik tangan Bela lalu menggenggamnya, "gue udah jadian sama Bela. Jadi lo jangan deket-deket gue lagi," jelas Nata.


Aleta tersentak mendengar ucapan Nata. Bukan hanya Aleta, tapi Julian, Dimas, dan Bela juga tersentak mendengar ucapan Nata. Julian dan Dimas tahu kalau Nata menyukai Aleta, tapi mereka berfikir mungkin Nata masih mencintai Bela.


"Nat, lo masih cinta sama Bela?" tanya Julian.


Nata melirik Julian, "iya, gue masih cinta banget sama Bela. Makanya gue nyuruh Aleta buat jangan deket-deket gue lagi," jawab Nata.


Tanpa Aleta sadari kini air matanya sudah menetes. Aleta tidak mengerti dengan Nata, kalau Nata masih mencintai Bela, kenapa Nata tidak bilang dari kemarin. Kenapa kemarin Nata malah memilihnya? Apa Nata sengaja mempermainkannya.


Nata menatap Aleta. Sejujurnya, ia tidak tega melihat Aleta menangis, rasanya Nata ingin sekali menghapus air mata Aleta dan mengatakan kalau ia sangat mencintainya.


Aleta menatap Nata dengan air mata yang masih menetes, "kalau kamu masih cinta sama Bela, kenapa kamu gak bilang dari kemarin Nat. Kenapa kemarin kamu malah milih aku, kamu sengaja permainin aku Nat?" tanya Aleta.


"Iya. Gue sengaja permainin lo, seru aja permainin cewek kaya lo," jawab Nata.


PLAK


Aleta menampar Nata dengan cukup keras. Kenapa Nata begitu tega padanya? Ia kira Nata tidak akan berbuat seperti ini padanya, tapi ternyata ia salah.


Aleta mendorong tubuh Nata pelan, "kamu jahat Nat, kamu jahat. Aku benci sama kamu!" Aleta langsung berlari keluar.


"Julian, gue mohon kejar Aleta. Pastiin dia baik-baik aja," pinta Nata.


Julian melirik Nata. Ia masih tidak mengerti dengan semua ini, tapi saat ia melihat raut wajah Nata yang terlihat sedih, Julian memutuskan untuk langsung mengejar Aleta.


"Sebenernya ada apa sih Nat?" tanya Dimas bingung.


Nata melirik Dimas, "Papa nyuruh gue buat jauhin Aleta. Kalau gue gak jauhin Aleta, Papa bakal bikin Aleta terluka, gue gak mau itu sampai terjadi," jawab Nata.


Dimas menghembuskan napas kasar. Ia mendekati Nata lalu menepuk-nepuk pelan punggung Nata, "sampai kapan lo harus nurut terus sama Papa lo Nat, dia selalu nyakitin lo. Harusnya lo pergi sejauh-jauhnya dari Papa lo itu," ujar Dimas.


"Kalau lo cinta sama Aleta, perjuangin dia. Lo bisa ngelindungin dia dari Papa lo Nat, lo bakal nyesel kalau Aleta udah sama orang lain," lanjut Dimas.


Nata tersenyum miris. Baru membayangkan Aleta bersama orang lain saja sudah membuat hati Nata terasa sesak.


Tiba-tiba ponsel Dimas berbunyi. Dimas mengambil ponselnya yang terdapat di saku celananya. Tertera nama Julian di layar ponselnya, Dimas mengangkat telfon dari Julian, "ada apa?" tanya Dimas.


Dimas membulatkan matanya saat mendengar ucapan Julian, Dimas melirik Nata yang ada di sampingnya, "Nat, Aleta pingsan di depan rumah sakit," jelas Dimas.


Nata langsung menatap Dimas. Ia merebut ponsel yang berada di genggaman Dimas, "Aleta kenapa? Sekarang lo di mana?" tanya Nata.


"Gue gak tau, tiba-tiba pas dia lari dia pingsan gitu aja, sekarang gue ada di UGD. Aleta masih belum sadar," jawab Julian.


Nata mematikan sambungannya dengan Julian. Dengan kasar ia melepas infus yang terpasang di tangannya, Nata berlari keluar ruangannya dan langsung mencari UGD.


Nata tidak memperdulikan Bela dan Dimas yang terus memanggil namanya. Nata terus berlari, ia sangat mencemaskan Aleta.


Bela dan Dimas berusaha mengejar Nata. Tapi mereka tidak dapat menandingi kecepatan lari Nata, "Nata berhenti!" teriak Bela. Nata tidak memperdulikan ucapan Bela, ia terus berlari.


Dimas dan Bela memberhentikan langkahnya. Mereka kelelahan mengejar Nata, Bela melirik Dimas, "ini semua gara-gara lo! Harusnya lo gak bilang sama Nata kalau Aleta pingsan!" kesal Bela.


"Lo masih sayang sama Nata Bel?" tanya Dimas penasaran.


Bela tersenyum sinis, "iya, gue masih sayang banget sama Nata. Gue seneng Om Putra nyuruh Nata buat jauhin Aleta, gue mohon sama lo jangan ngehasut Nata buat terus perjuangin Aleta," ucap Bela.


Dimas menghela napas pelan. Dimas kembali melanjutkan langkahnya, Bela mengikuti langkah Dimas, "apa lo gak liat kesedihan Nata saat dia harus jauhin Aleta? Kadang cinta itu gak harus memiliki, kadang kita harus ikhlasin orang yang kita sayang sama orang lain agar dia bahagia sama orang itu," ujar Dimas.


Bela tersenyum sinis pada Dimas, "gak usah sok ceramahin gue, gue tau apa yang harus gue lakuin," cetus Bela.


πŸ‘‘


Apa kabar kalian? Semoga baik-baik aja ya. Selalu jaga kesehatannya, sering-sering minum dan cuci tangan supaya terhindar dari Covid-19 πŸ€—β€


Yang masih sekolah kalian diliburin gak? Kalau aku harus tetep masuk karena ujian😴


Next gak nih?