
Happy Reading ❤
👑
Aleta sudah membujuk Nata puluhan kali agar Nata mau tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. "Nat, plis tinggal di rumah aku ya," bujuk Aleta untuk kesekian kalinya.
Nata tersenyum tipis. Ia mengacak pelan rambut Aleta. "Aku gak mau ngerepotin kamu dan Mama Papa kamu, aku tinggal di rumah Julian aja untuk sementara waktu," jawab Nata.
Aleta mengerucutkan bibirnya. Ia merangkul lengan Nata. "Di rumah aku aja Nat, aku pengen ngerawat luka kamu sampe sembuh. Ya, plisssss," pinta Aleta sambil menampilkan puppy eyesnya.
Nata terkekeh pelan. Ia mencubit pelan hidung Aleta. "Kok kamu jadi gemesin banget gini sih, jadi makin sayang deh," ujar Nata.
"Mau kan Nat tinggal di rumah aku?" tanya Aleta.
Nata menghembuskan napas pelan. "Gimana aku bisa nolak permintaan dari orang yang paling aku sayang ini," jawab Nata tersenyum.
Aleta tersenyum lebar. "Berarti kamu mau dong tinggal di rumah aku?" tanya Aleta memastikan.
Nata mengangguk. "Iya Sayang," jawab Nata sambil mengelus pipi Aleta pelan.
Karena Aleta sangat senang mendengarnya ia dengan refleks memeluk Nata. Aleta sadar akan perbuatannya, ia langsung menjauhkan tubuhnya dari Nata.
"Kenapa dilepas pelukannya?" tanya Nata.
Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Malu," jawab Aleta jujur.
Nata terkekeh pelan. Tanpa aba-aba ia menarik tangan Aleta sampai Aleta terduduk di pangkuannya. Nata melingkarkan tangannya di perut Aleta. "Kalau kamu malu meluk aku, biar aku aja yang meluk kamu," ujar Nata.
Aleta tersenyum tipis. Aleta memegang tangan Nata yang melingkar di perutnya. "Aku sayang kamu Nat. Jangan terluka lagi ya, aku gak suka," gumam Aleta.
Nata mengeratkan pelukannya. Ia menaruh dagunya di bahu Aleta. "Aku juga gak suka ngeliat kamu terluka gini Sayang," gumam Nata.
"Ehem..." Aleta dan Nata langsung menoleh ke arah sumber suara. "Jangan mesra-mesraan di depan jomblo elah," ujar Julian.
"Iri aja lo," sahut Nata.
"Hayuk pulang kagak?" tanya Julian.
Aleta berdiri. "Hayuk Nat pulang ke rumah aku," ujar Aleta.
Nata mengangguk. Ia berdiri lalu menggenggam tangan Aleta. "Yuk," Nata melangkah keluar bersama Aleta.
Julian menghembuskan napas kasar. Ia melangkah menyusul langkah Aleta dan Nata.
Julian menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Aleta dan Nata duduk di belakangnya, ia berasa jadi supir duduk di depan sendirian.
Aleta menyenderkan kepalanya di bahu Nata. "Nat, aku ngantuk. Kalau udah sampe bangunin aku ya," ujar Aleta.
Julian memutar bola matanya malas. "Oke," Julian tidak habis pikir dengan Nata yang masih aja memikirkan Putra.
Julian memberhentikan mobilnya saat sampai di rumah Putra. Nata melirik Aleta yang masih tertidur pulas, ia tidak tega membangunkan Aleta. Nata menyenderkan kepala Aleta di sandaran jok mobil.
"Lo di sini aja jagain Aleta," ujar Nata.
Julian melirik Nata dari kaca spion mobilnya. "Kalau lo diapa-apain sama Papa lo gimana? Gue ikut aja sama lo," ujar Julian.
"Gak usah. Lo di sini aja jagain Aleta," Nata keluar dari mobil Julian.
Julian menghembuskan napas kasar. Ia melihat punggung Nata yang sudah memasuki rumah.
"Ngapain kamu ke sini lagi!" Nata memberhentikan langkahnya lalu menolehkan wajahnya ke arah Putra yang sedang duduk di ruang tamu.
"Aku mau ambil barang-barang aku Pa, sementara waktu aku bakal tinggal di rumah Aleta," jawab Nata jujur.
Putra tersenyum sinis. "Gak tau malu banget kamu tinggal di rumah orang. Tapi baguslah kalau kamu pergi dari rumah ini, jangan sementara lebih baik kamu selamanya aja jangan balik lagi ke rumah ini! Kamu tinggal di sini cuma ngerepotin saya!" sinis Putra.
Nata menghembuskan napas pelan. "Kalau Papa ada apa-apa atau butuh bantuan Papa hubungin aku aja ya," ujar Nata.
Putra memutar bola matanya malas. "Cih, sok banget kamu. Papa gak bakal minta bantuan sama anak yang gak berguna kaya kamu," jawab Putra.
"Cepetan pergi dari rumah ini. Papa muak liat kamu ada di sini," lanjut Putra.
Putra berjalan melewati Nata. "Jaga diri baik-baik ya Pa. Jangan terlalu sibuk kerja, Papa juga harus istirahat. Jangan sampe Papa sakit," ungkap Nata.
"Gak usah sok perhatian sama Papa. Makin jijik Papa sama kamu!" tegas Putra.
Nata berjalan ke kamarnya. Ia memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. Nata mengambil sebuah bingkai foto yang berada di atas nakas. Ia memandangi foto itu, di foto itu terdapat foto Putra dan juga Bundanya. Nata memasukkan bingkai foto itu ke dalam koper.
Setelah selesai memasukkan yang ia butuhkan ke dalam koper, ia berjalan keluar sambil mendorong kopernya.
Nata berhenti sejenak di ruang tamu. Ia melihat sekelilingnya. Pandangannya berhenti di sebuah bingkai foto besar yang terpasang di dinding ruang tamu itu. Di foto itu terdapat Putra, Rina, dan juga Arsen. Sementara dirinya tidak ada di foto itu. Nata hanya bisa tersenyum pedih.
Nata kembali mendorong kopernya keluar dari rumahnya. Arsen menyilangkan tangannya di depan dada. Ia sangat senang saat mengetahui Nata pergi dari rumah. "Baguslah Nata udah pergi dari rumah ini. Gue tinggal ngelanjutin rencana selanjutnya sama Mama," gumam Arsen tersenyum puas.
👑
Apa kabar semuanya? Semoga kalian baik-baik aja ya. Jaga kesehatannya ❤
Maaf ya kalau ceritanya ngebosenin 😌❤
Next gak nih?