
Happy Reading β₯
Maaf kalau ada typo, soalnya aku gak baca dulu langsung aku up ajaπ
Komen sebanyak-banyaknya ya, aku seneng kalau kalian komenπβ₯
π
Putra menghembuskan napas kasar. Putra mulai kesal dengan Nata karena ia hanya diam saja tak kunjung memberikan keputusan siapa yang akan dia pilih. Putra tidak habis pikir dengan Nata, apa susahnya untuk menjauhi Aleta?
"Sampai kapan kamu hanya diam saja seperti ini. Cepat jawab siapa yang akan kamu pilih Papa atau Aleta, buruan jawab *******!" kesal Putra.
Bela melirik Nata, Nata hanya diam dan menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa memilih antara Aleta dan Putra karena dua-duanya sangat penting di kehidupan Nata.
"Kamu tuli ya! Buruan jawab, Papa gak punya banyak waktu!" bentak Putra.
Putra berkacak pinggang. Ia menggeram kesal karena Nata hanya diam saja, ingin sekali rasanya Putra melayangkan pukulan di wajah Nata, "jawab Nata! Pokonya Papa gak mau tau kamu harus jauhin Aleta, kalau gak, Aleta bakal celaka! Ingat itu! Papa akan terus mengawasi kamu, kalau kamu berani dekat-dekat dengan Aleta, dia akan langsung Papa celakai," Putra membalikan badannya dan langsung pergi dari ruangan Nata.
Nata menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Kenapa Putra tega sekali padanya? Nata tidak ingin Aleta terluka. Nata sangat mengenal Putra, Putra tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Apa sekarang ia harus menjauhi Aleta? Mungkin iya, karena ia tidak mau melihat Aleta terluka karena dirinya. Nata sangat menyayangi Aleta, Nata akan sangat menyesal jika nanti Aleta terluka karena dirinya.
Bela mengelus punggung Nata. Bela mengerti ini pasti berat bagi Nata, tapi ini juga kesempatan besar baginya agar Nata kembali mencintainya.
"Mungkin ini saatnya kamu ngelepas Aleta Nat, kamu pasti gak mau dia terluka kan. Kamu tau sendiri Nat, Papa kamu gak pernah main-main sama ucapannya," ujar Bela.
"Gue sebenernya gak mau ngelepas Aleta, tapi gue juga gak mau ngeliat Aleta terluka gara-gara gue. Gue sayang banget sama Aleta Bel, Aleta kebahagiaan gue. Tapi kenapa Papa jahat banget ngambil kebahagiaan gue," lirih Nata.
"Kenapa Papa selalu mentingin Arsen daripada gue, kayanya kebahagiaan gue gak penting banget di mata Papa. Gue harus gimana Bel, gue gak mau kehilangan Aleta, tapi gue juga gak mau ngeliat dia terluka," lanjut Nata.
Bela mendekap tubuh Nata, "kamu tenang aja Nat, masih ada aku yang bakal selalu ada di samping kamu. Aku janji gak bakal ninggalin kamu lagi, aku bakal jadi pelindung kamu lagi seperti dulu," sahut Bela.
Bela memang selalu menjadi pelindung Nata saat Putra melakukan kekerasan padanya. Bela tahu Nata tidak akan bisa melawan Putra karena dia sangat menyayangi Putra.
Nata memang tidak mau membalas kekerasan Putra dengan kekerasan juga. Saat Nata dipukuli oleh Putra pun ia hanya diam, ia selalu membiarkan Putra memukulinya sampai Putra merasa puas.
π
"Apa maksud kamu ngomong kalau Nata gak sepenuhnya baik?" tanya Aleta.
Arsen melirik Aleta sekilas, "kamu tau kan kalau Nata tuh sering berantem. Dia selalu membuat masalah. Aku yakin kamu pasti tau tentang Papa aku yang benci sama Nata, Papa aku benci Nata karena Ibu kandung Nata itu seorang ******," jelas Arsen.
Aleta mengeratkan genggaman tangannya. Ia mulai emosi, kenapa Arsen tega sekali mengatai Ibu kandung Nata seorang ******. Apa tidak ada kata yang lebih baik dari itu? Ia tidak suka mendengarnya.
"Bukan hanya itu. Nata juga pura-pura sayang sama Papa biar dia dapet semua warisan Papa, dia jahat Ta. Cewek baik-baik kaya lo gak pantes buat Nata, lo mending cari cowok yang lebih baik dari Nata. Contohnya gue," lanjut Arsen tersenyum tipis.
Aleta menatap Arsen lekat-lekat. Aleta tersenyum sinis pada Arsen, "cowok tukang bohong dan tukang fitnah kaya kamu gak pantes sama aku. Bahkan menurut aku kamu gak pantes buat siapapun. Kamu terlalu jahat Arsen," ungkap Aleta.
Aleta membuka pintu mobil Arsen dan langsung keluar dari mobil Arsen. Arsen menggeram kesal, ia memukul stir mobilnya, "sial. Awas aja lo Aleta, gue bakal buat lo nyesel karena udah berani ngomong kaya tadi ke gue," gumam Arsen.
π
Aleta berjalan dengan malas ke arah kelasnya yang ada di lantai dua. Saat Aleta sudah mencapai ujung tangga dia dikejutkan dengan kehadiran Julian, "Aleta," panggil Julian.
Aleta menghentikan langkahnya. Ia melirik Julian, "ada apa?" tanya Aleta.
"Nata dirawat di rumah sakit ya?" tanya Julian.
"Kemarin gue ke rumah Nata. Terus nanya Nata di mana ke Bi Sarah kata Bi Sarah Nata dirawat di rumah sakit tapi Bi Sarah gak tau rumah sakitnya di mana," jelas Julian.
Aleta ingat kalau kemarin ia sempat memberitahu Sarah kalau Nata dirawat di rumah sakit. Aleta sengaja tidak memberi tahu Sarah di mana letak rumah sakitnya karena ia takut Sarah akan mengatakan itu pada Putra.
Tapi tetap saja Putra tahu di mana Nata dirawat karena dia memiliki banyak mata-mata untuk mengawasi Nata.
Aleta jadi ingat tentang kejadian tadi malam. Tadi malam, Aleta mencoba menelepon suster yang mengontrol keadaan Nata, kebetulan Aleta sempat meminta nomor telpon suster itu.
Aleta meminta tolong pada suster itu kalau ia ingin bicara dengan Nata. Tapi Nata malah bicara ketus padanya, "ini udah malem. Lo gangguin gue tidur aja, udah jangan telpon-telpon lagi," itulah yang diucapkan Nata padanya.
Apa Nata marah padanya karena ia langsung pulang begitu saja tanpa berpamitan. Kalau itu yang membuat sikap Nata ketus padanya, nanti sore ia akan meminta maaf pada Nata.
Julian menepuk pundak Aleta pelan, "woy, kok lo malah ngelamunin sih," ucap Julian.
Aleta tersenyum malu, "maaf. Iya Nata emang dirawat. Kamu mau ikut jengukin Nata gak pas sepulang sekolah?" tanya Aleta.
"Mau lah. Nanti gue juga ajak Dimas," jawab Julian cepat.
Tanpa terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aleta, Dimas, dan Julian berjalan beriringan menuju parkiran.
Dimas dan Aleta masuk ke dalam mobil Julian. Mereka duduk di belakang, Julian membalikan badannya menatap Aleta dan Dimas, "masa gue duduk di depan sendirian sih, gue bukan supir ya. Ta, lo duduk di depan aja bareng gue," pinta Julian.
"Di sini aja Ta sama Abang Dimas biarin aja Julian duduk di depan sendirian, dia kan jomblo, gak perlu lah ditemenin dia udah terbiasa sendiri. Tampang dia juga pantes kok disebut supir," jelas Dimas pada Aleta.
Julian mengumpat pelan, ia mulai melajukan mobilnya. Setelah beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit. Julian langsung mencari tempat parkir untuk mobilnya.
Mereka berjalanan beriringan ke ruangan Nata. Saat Aleta membuka pintu ruangan Nata, ia melihat pemandangan yang membuat hatinya terasa sesak.
Bela tengah menyuapi Nata. Nata terlihat senang disuapi Bela, mereka bahkan tertawa bersama.
"Woy," panggil Julian. Ia masuk ke dalam ruangan Nata bersama Dimas. Aleta ikut masuk ke dalam.
Aleta mendekati Nata dan Bela. Aleta mengambil alih roti yang ada di tangan Bela, "biar aku yang nyuapin kamu ya Nat," Aleta menyodorkan roti itu ke mulut Nata, tapi Nata enggan membuka mulutnya.
"Gak usah. Gue udah kenyang," tolak Nata. Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Dikit lagi aja Nat, ini rotinya juga tinggal dikit. Kan membazir kalau gak dihabisin," Aleta kembali menyodorkan rotinya ke arah mulut Nata.
Aleta tersentak ketika tiba-tiba Nata menepis tangannya dengan kasar sampai roti yang ada di tangannya terjatuh ke lantai, "gue bilang gue udah kenyang! Lo tuli ya! Mending lo pergi deh, ganggu aja!" bentak Nata.
Aleta takut dengan tatapan mata Nata yang terlihat sangat menyeramkan, Nata seperti ingin memangsanya hidup-hidup. Keliatan sekali kalau Nata sangat marah padanya, apa kesalahannya sampai Nata bersikap seperti ini padanya.
"Ka-mu ken-apa Nat?" tanya Aleta bergetar.
π
Gimana ya kelanjutan hubungan Nata sama Aleta?
Next gak nih?
Semoga hari minggu kalian menyenangkan ya β₯
Maaf kalau ceritanya ngebosenin πβ₯