
Happy Reading ♥
👑
Jantung Nata seakan berhenti berdetak saat itu juga. Ia sangat terkejut mendengar ucapan Sarah kalau Bela ada di sini.
Nata melirik Aleta yang tampak terkejut sama sepertinya, "Ta, bisa anterin gue ke Bela," pinta Nata.
Aleta melirik Nata. Aleta menghembuskan napas pelan lalu mengangguk, "ayo, aku bantuin kamu jalan ya," ucap Aleta.
Aleta melingkarkan tangan Nata ke pundaknya. Perlahan-lahan mereka berjalan ke arah ruang tamu.
Aleta melihat dari kejauhan sudah ada wanita yang sedang duduk di ruang tamu membelakanginya dengan rambut panjang terurai.
Saat Nata dan Aleta sudah dekat dengan wanita itu, "Bela," panggil Nata.
Bela langsung menengok ke arah Nata. Dia tersenyum lebar, Bela langsung berlari memeluk Nata.
Aleta menahan rasa sesak yang ada di hatinya. Ia menjauhkan tangan Nata dari pundaknya, perlahan ia mundur ke belakang.
Bela memeluk Nata dengan erat, "aku kangen banget sama kamu Nat. Maaf karena aku udah ninggalin kamu, tapi sekarang penyemangat kamu udah kembali lagi ke kamu Nat. Aku gak bakal ninggalin kamu lagi," ungkap Bela.
Aleta menahan air matanya agar tidak terjatuh. Sementara Nata, ia hanya diam tanpa berucap satu katapun. Ia juga tidak membalas pelukan Bela.
Nata sangat bingung dengan perasaannya. Dia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ada rasa bahagia di hatinya karena Bela sudah kembali, tapi ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Bela mendongakan kepalanya menatap Nata, "kamu gak kangen sama aku Nat?" tanya Bela. Bela merasa aneh karena Nata tidak membalas pelukannya.
Perlahan, Nata melingkarkan tangan kanannya di pundak Bela. Ia membalas pelukan Bela, "gue kangen banget sama lo Bel. Gue gak bisa berkata apa-apa, gue bahagia banget karena lo udah kembali lagi," ujar Nata.
Perkataan Nata mampu membuat air mata Aleta terjatuh. Apa ini akhir ceritanya dengan Nata? Nata benar-benar memilih Bela.
Aleta tidak bisa diam saja menyaksikan kemesraan Nata dan Bela. Hatinya terasa hancur berkeping-keping, Aleta langsung berlari keluar rumah Nata dengan air mata yang terus menetes.
Nata tidak menyadari kepergian Aleta. Bela tersenyum di dalam dekapan Nata, "aku sayang kamu Nat," gumam Bela.
Nata memejamkan matanya, "gue juga sayang sama lo Bel," sahut Nata.
Bela melepaskan pelukannya. Ia melirik tangan Nata yang di perban, Bela langsung menyentuhnya, "Nat, tangan kamu kenapa? Ini pasti perbuatan Om Putra kan," tebak Bela.
Bela menatap mata Nata, "maaf ya Nat, kamu pasti tersiksa banget. Maaf karena aku gak ada di samping kamu saat Om Putra menyiksa kamu," lirih Bela merasa bersalah.
Nata tersenyum tipis. Dia mengelus pelan rambut Bela, "gak papa. Yang penting kan sekarang lo ada di samping gue," ucap Nata.
Nata melirik ke belakang. Ia tersentak ketika menyadari kalau Aleta tidak ada, "kamu nyari siapa Nat?" tanya Bela.
Nata melirik ke arah jendela besar yang ada di samping pintu rumahnya. Ia bisa melihat dari jendela itu kalau di luar sedang hujan deras. Nata mulai mengkhawatirkan Aleta.
Nata melirik Bela, "Bel, lo tunggu di sini ya. Gue mau pergi sebentar," ucap Nata.
Bela mengerutkan keningnya, "kamu mau kemana Nat? Di luar hujan deras Nat, aku mohon jangan keluar," pinta Bela.
"Tapi-" sebelum Nata menyelesaikan ucapannya, Bela lebih dulu menyela, "demi aku Nat, jangan keluar di luar hujan deras. Keadaan kamu juga lagi gak baik, aku gak mau kamu kenapa-napa," ungkap Bela.
Nata menghembuskan napas kasar. Ia mengusap wajahnya, "oke," jawab Nata singkat. Nata berharap Aleta sudah sampai rumah.
Bela tersenyum lebar, "makasih Nat. Duduk yuk, kamu pasti cape berdiri terus," Bela membantu Nata berjalan sampai Nata duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
Bela duduk di sebelah Nata. Ia melingkarkan tangannya di lengan Nata, lalu ia menyenderkan kepalanya di bahu Nata, "di sana aku selalu mikirin kamu Nat. Kamu lagi apa? Apa kamu udah makan? Apa kamu bahagia tanpa aku? Dan apa kamu udah gak cinta lagi sama aku atau kamu punya cewek lain. Aku selalu bertanya-tanya tentang hal itu setiap hari di sana Nat," curhat Bela panjang lebar.
Bela melirik wajah Nata, "kamu masih cinta kan sama aku Nat? Kamu gak punya cewek lain kan?" tanya Bela.
Nata melirik mata Bela, "iya gue masih cinta sama lo Bel," Bela tersenyum lebar mendengar jawaban Nata. Bela memajukan wajahnya lalu mengecup pipi Nata, "makasih Sayang," ucap Bela.
Nata merasa aneh dengan perasaannya. Kenapa jantungnya tidak berdebar hebat saat Bela ada di sampingnya dan kenapa daat Bela mengecup pipinya ia tidak merasakan perasaan apapun. Hanya kehampaan yang dia rasakan.
Apa sekarang perasaannya sepenuhnya untuk Aleta?
Aleta berjalan di sepanjang jalan. Ia tidak tahu mau kemana, ia hanya ingin terus melangkahkan kakinya.
Aleta tidak peduli dengan hujan deras yang membasahi tubuhnya. Air matanya sudah bercampur dengan air hujan.
Aleta berjalan di jalanan yang sepi karena hujan deras. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat.
Aleta tidak memperhatikan jalanan. Ia hanyut dalam lamunannya, ia tidak menyadari kalau sebuah truk sedang menuju ke arahnya.
Saat truk itu sudah dekat, seseorang menarik tubuh Aleta. Orang itu bernapas lega karena bisa menyelamatkan Aleta, "lo udah gila ya," ujar orang itu sinis.
Aleta melirik wajah orang itu, Aleta memukul-mukul pelan perut orang itu, "kenapa kamu nyelamatin aku sih, aku benci, aku benci. Harusnya kamu biarin aku ditabrak sampe truk itu," ujar Aleta.
Orang itu menghembuskan napas kasar. Dia menarik tubuh Aleta ke dalam dekapannya, "udah-udah jangan ngomong yang gak-gak, mending lo diem aja," ucap orang itu.
👑
Siapa ya orang yang nyelamatin Aleta?
Next gak nih? Komen ya, biar aku semangat terus buat up😂♥