
Happy Reading ♥
👑
"Aku mohon jangan sakitin aku, aku mohon jangan sakitin aku," Aleta terus mengulangi kalimat itu dalam dekapan Nata. Nata bisa menebak kalau Aleta memiliki trauma yang membuatnya seperti ini.
Nata mengelus punggung Aleta, "gue gak akan ngebiarin lo disakitin. Jangan takut, gua ada buat ngelindungin lo," lirih Nata.
Seorang guru BK yang dikenal bernama Zahra datang dalam kerumunan itu dan menyuruh murid-muridnya pergi ke kelas masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi.
"Kenapa kalian ribut di sini! Ke ruangan saya sekarang!" tegas Zahra. Zahra melirik Aleta, ia kasian pada Aleta yang terlihat sangat ketakutan, "Nata. Bawa dia ke UKS untuk istirahat," jelas Zahra.
Zahra melangkah pergi dengan Diva, Syifa, Dea, Iris, Icha, dan Sisil. Mereka masih saling bertukar pandang dengan penuh kebencian. Diva menoleh ke belakang, "awas aja lo Aleta," batin Diva.
Aleta mendongakkan kepalanya, ia baru menyadari kalau yang memeluknya adalah Nata. Aleta melingkarkan tangannya di pinggang Nata, "aku takut Nat. Aku gak mau disakitin lagi. Aku gak tau salah aku apa, kenapa mereka nyakitin aku. Aku takut," lirih Aleta dengan nada bergetar.
Entah kenapa hati Nata terasa sesak melihat Aleta seperti ini. Ia merasa hatinya terluka, tapi ia tidak mengerti kenapa perasaannya bisa begitu.
"Lo tenang aja. Gue gak akan biarin siapapun nyakitin lo," gumam Nata. Aleta tersenyum tipis, air matanya mulai menetes. Ia teringat dengan orang yang ada di masa lalunya, "Al, aku disakitin lagi. Kenapa kamu gak dateng? Aku rindu kamu Al," batin Aleta.
Nata melepaskan pelukannya, ia melihat ada air mata di pipi Aleta. Nata langsung mengusap air mata itu dengan tangannya. Nata menatap lekat mata Aleta, "kenapa nangis? Gue kan udah bilang kalau gue gak akan ngebiarin siapapun nyakitin lo. Jangan takut, gue ada di sini," ucap Nata lembut.
Aleta tersenyum tipis. Ia tidak pernah melihat sosok Nata yang lembut seperti ini. Saat ia melihat mata Nata, ia merasakan ketenangan. Nata juga tidak pernah berbicara selembut tadi. Ia suka dengan sosok Nata yang seperti ini, "makasih Nat," ucap Aleta.
Nata menggenggam tangan Aleta, tangan Aleta sudah tidak bergetar lagi. Nata lega akan hal itu, "lo udah makan?" tanya Nata. Aleta menggelengkan kepalanya, ia belum memesan apapun tadi karena Diva tiba-tiba saja datang ke mejanya dan membuat keributan.
"Makan dulu ya, lo duduk dulu. Gue mau pesenin makanan buat lo," ucap Nata. Ia langsung melangkah menjauh dari Aleta, Nata memesan nasi goreng untuk Aleta.
Aleta duduk di kursi yang tersedia di kantin itu. Aleta tidak tahu kenapa kejadian di masa lalunya membuat ia sangat trauma, Aleta sudah berusaha keras menghilangkan trauma itu, tapi ia selalu gagal.
Nata datang dengan membawa sepiring nasi goreng dan sebotol minuman manis. Nata menaruh sepiring nasi goreng itu di depan Aleta, Aleta menggelengkan kepalanya, "aku gak mau makan itu. Aku mohon jauhin itu dari aku," lirih Aleta. Tubuh Aleta kembali bergetar.
Nata langsung menjauhkan nasi goreng itu dari Aleta. Aleta menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia mengingat kejadian di masa lalunya saat ia disuruh untuk makan nasi goreng yang dicampur jus, kecap yang sangat banyak, dan saus yang sangat banyak.
"Gue udah jauhin nasi gorengnya," jelas Nata. Aleta menurunkan tangannya dan melihat apakah masih ada nasi goreng di depan matanya. Aleta menghela napas lega karena nasi goreng itu tidak ada di depannya.
"Mau lawan rasa takut lo gak?" tantang Nata. Aleta melirik Nata, dia menggelengkan kepalanya, "gak Nat, aku gak mau," jelas Aleta dengan nada ketakutan.
Nata menggenggam tangan Aleta, ia memandang mata Aleta, "lawan rasa takut lo. Jangan biarin masa lalu lo membuat lo trauma kaya gini," terang Nata.
Benar dengan apa yang Nata katakan. Ia harus mencoba menghilangkan trauma itu, "oke," ucap Aleta. Nata tersenyum, ia mengelus rambut Aleta, "gue yakin lo bisa nghilangin trauma lo itu," lirih Nata.
Aleta tersentak ketika melihat Nata tersenyum. Baru kali ini ia melihat Nata tersenyum, senyum Nata sangat indah dan membuat ketampanan Nata semakin meningkat.
Nata menyuapi sesendok nasi goreng pada Aleta. Aleta mulai merasakan rasa nasi goreng itu di dalam mulutnya, rasanya sangat enak. Ingatan di masa lalunya tentang nasi goreng itu langsung lenyap seketika. Aleta tersenyum, "enak, makasih Nat," ucap Aleta.
Nata membalas senyuman Aleta, "sama-sama," jawab Nata lembut. Aleta benar-benar menyukai sosok Nata yang seperti ini.
"Biar aku makan sendiri aja Nat," saat Aleta mau mengambil piring itu dari tangan Nata, Nata malah menjauhkannya, "gak boleh. Biar gue yang suapin lo, tangan lo masih gemeter. Kalau piringnya jatuh gue yang repot," jelas Nata menatap Aleta sinis.
Aleta mengerucutkan bibirnya, sifat asli Nata mulai keluar lagi. Padahal ia sangat suka sosok Nata yang lembut seperti tadi, tapi sosok Nata yang ketus mulai kembali lagi, "ya udah deh," ucap Aleta.
Nata menyuapi Aleta sampai nasi goreng itu habis tidak tersisa sedikitpun. Nata menyodorkan sebotol minuman pada Aleta yang sudah ia buka tutup botolnya.
Aleta mengambil botol minuman itu dari tangan Nata dan ia langsung meneguk minuman itu sampai habis. Nata mengulurkan tangannya untuk membersihkan sisa minuman yang menempel di bibir Aleta.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang mengawasi mereka. Orang itu tersenyum lebar, "menarik," gumam orang itu.
👑
Makasih udah mau mampir ♥
Next gak nih?