
👑
Bel istirahat berbunyi di penjuru sekolah. Siswa-siswi langsung berhamburan keluar kelas. Iris keluar bersama Icha dan Sisil. Sisil menyipitkan matanya ke arah lapangan, "itu kaya Aleta," tunjuk Sisil ke arah lapangan.
Iris dan Icha langsung menatap ke arah yang ditunjuk Sisil, "kayanya iya deh, ayo kita samperin aja," sahut Icha. Iris dan Sisil mengangguk setuju, mereka langsung menuruni anak tangga dan berjalan ke arah lapangan.
"Aleta," panggil Iris. Aleta menolehkan kepalanya, ia tersenyum tipis, "kalian ngapain di sini?" tanya Aleta.
"Harusnya kita yang nanya, lo ngapain di sini? Kenapa lo gak balik ke kelas?" tanya Iris.
"Aku nemenin Nata dihukum," jelas Aleta. Iris, Icha dan Sisil melongo mendengar ucapan Aleta. Kenapa Aleta harus menemani Nata dihukum, aneh sekali. Itulah kata-kata yang ada di dalam benak mereka.
Tanpa berkata apa-apa Nata mengambil kemeja yang ada di atas kepala Aleta, "jagain tuh temen kalian, dia ganggu gue banget," jelas Nata pada Iris, Sisil dan Icha.
Aleta memandangi punggung Nata yang semakin jauh. Sisil menatap Aleta, ia menyilangkan tangannya di depan dada, "gue udah nebak ini. Lo harus jelasin tentang hubungan lo sama Nata," ucap Sisil.
Icha langsung mengangguk setuju. Ia sangat penasaran kenapa Nata bisa bersikap seperti itu pada Aleta, secara tidak langsung Nata selalu bersikap perhatian pada Aleta. Dan Aleta terlihat sekali kalau dia menyukai Nata.
Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia bingung harus menjelaskan bagaimana pada Sisil dan Icha. Iris merangkul pundak Aleta, "nanti aja dibahasnya, gue laper nih. Mending kita ke kantin," sahut Iris.
Sisil dan Icha mengangguk. Mereka akan bertanya lagi pada Aleta ketika sudah di kantin.
Aleta melihat sekeliling kantin yang dipenuhi siswa-siswi, tidak ada tempat yang kosong untuk mereka duduki, "gimana dong, gak ada kursi yang kosong," ucap Aleta.
Dimas melirik Aleta yang berdiri di depan kantin, "Nat, Aleta tuh, kayanya dia mau duduk tapi gak ada tempat yang kosong," jelas Dimas.
Nata mengerutkan kening, "terus, urusannya sama gue apa?" tanya Nata. Seolah-olah tidak peduli pada Aleta. Ia melirik ke arah Aleta. Nata menghembuskan napas pelan, "gue pergi dulu," Nata berdiri dari duduknya.
Dimas dan Julian memandangi kepergian Nata, "gue yakin dia mau nyamperin Aleta," tebak Julian. Dimas mengangguk setuju.
Aleta tersenyum saat ia melihat Nata mendekat ke arahnya, "Nat, kamu udah makan?" tanya Aleta. Nata mengabaikan pertanyaan Aleta, ia menyodorkan sebotol minuman pada Aleta, "minum," perintah Nata.
"Kamu udah minum? Kamu aja yang minum duluan," ucap Aleta. Nata mendengus kesal, ia membuka tutup botol itu dan mengarahkan minuman itu di bibir Aleta, "gak usah banyak bacot. Buruan minum," tegas Nata.
Aleta mengambil sebotol minuman itu dari tangan Nata. Ia meneguk minuman itu sampai tersisa setengah. Aleta menyodorkan minuman itu pada Nata, "kamu juga minum," ucap Aleta.
Tanpa berkata apa-apa Nata langsung menarik tangan Aleta. Iris, Sisil, dan Icha mengikuti mereka dari belakang. Nata berhenti di depan tempat yang sedang di duduki Dimas dan Julian, "kalian, ikut gue," perintah Nata pada Dimas dan Julian.
Dimas dan Julian langsung berdiri. Nata menjauhkan tangannya dari tangan Aleta, "ayo," ucap Nata. Dimas dan Julian mengikuti Nata yang pergi dari kantin.
Aleta tidak mengerti kenapa tadi Nata menariknya sampai ke sini. Iris duduk di tempat yang tadi Dimas duduki, "buruan duduk," ucap Iris. Sisil, Icha dan Aleta langsung duduk.
Sisil menatap Aleta serius, "Ta, lo pacaran ya sama Nata?" tanya Sisil.
Aleta melirik ke arah Sisil, "gak kok, aku emang suka sama Nata, tapi Nata gak suka sama aku," jelas Aleta jujur.
Icha ikut melirik Aleta, "masa sih Nata gak suka sama lo?" Icha tidak yakin jika Nata tidak menyukai Aleta. Perhatian yang Nata berikan pada Aleta sudah menunjukan bahwa dia tertarik pada Aleta.
BRAK
Aleta tersentak ketika tiba-tiba Diva menggebrak mejanya. Diva menatap tajam ke arah Aleta, "apa maksud lo ngedeketin Nata cowok gue! Lo cuma murid baru! Jangan sok cantik deh," murka Diva.
Iris berdiri. Ia ikut menggebrak meja, "sejak kapan Nata jadi cowok lo! Dasar cabe, mau ngapain sih lo keseni," kesal Iris. Ia tidak suka jika salah satu temannya ada yang mengganggu.
Suasa kantin langsung ricuh, mereka menatap ke arah meja Aleta. Aleta hanya diam, tubuhnya bergetar. Sekarang, di dalam benak Aleta terlintas masa lalunya yang mengerikan, ia sangat trauma jika mengingat hal itu.
Nata, Julian dan Dimas sedang melangkah di koridor. Mereka bingung ketika siswa-siswi berlarian ke arah kantin, ada apa sebenarnya? Nata menghentikan salah satu siswa, "ada apa sih?" tanya Nata.
"Katanya murid baru lagi dibully sama Diva," jelas siswa itu. Nata langsung berlari ke arah kantin. Nata melihat kerumunan orang-orang, Nata menyelip kerumunan orang-orang itu sampai ia bisa melihat kejadian dengan jelas.
Nata melihat Diva yang sedang menjambak rambut Aleta. Iris, Sisil dan Icha berusaha untuk menghentikan aksi Diva, tapi teman-teman Diva malah ikut menyerang mereka.
Nata langsung maju dan mendorong tubuh Diva sampai Diva terduduk di lantai. Nata menatap Diva tajam, "lo apa-apaan sih! Dasar gila!" bentak Nata.
Nata membalikan tubuhnya menghadap Aleta, Nata bisa melihat tubuh Aleta yang bergetar hebat. Sepertinya Aleta sangat ketakutan, Nata menarik tangan Aleta dan membawa tubuh Aleta ke dalam dekapannya, "udah gak papa, jangan takut, ada gue yang jagain lo," gumam Nata.
👑