
Happy Reading ♥
Aku lebih suka kalian komen daripada vote😁♥
👑
Aleta turun dari taksi ketika ia sudah sampai di depan rumah Nata. Aleta melihat sekeliling rumah Nata yang tampak sangat mewah dan indah. Rumah Nata dipenuhi pepohonan dan bunga-bunga yang sangat cantik.
Aleta mengetuk pintu rumah Nata. Ia menunggu beberapa saat sampai pintu itu terbuka. Sarah tersenyum saat melihat Aleta, "ayo masuk, biar saya antar ke Den Nata," ucap Sarah.
Aleta mengikuti langkah Sarah, Aleta melirik foto keluarga yang terdapat di ruang tamu. Di foto itu ada Putra, Arsen, dan Rina. Aleta bertanya-tanya kenapa tidak ada Nata di foto itu?
Aleta memberhentikan langkahnya ketika sudah di depan pintu kamar Sarah, "masuk aja, Den Nata ada di dalem," ucap Sarah ramah.
Aleta mengangguk, ia melirik Sarah, "makasih Bi," ujar Aleta. Aleta membuka pintu kamar Sarah, ia masuk ke dalam kamar Sarah.
Aleta membekap mulutnya karena terkejut melihat lebam di tangan Nata. Aleta juga terkejut melihat wajah Nata yang babak belur, Aleta tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Nata.
Nata membuka kedua matanya. Dia baru sadar kalau Aleta sudah ada di sini, ia melirik Aleta dan tersenyum, "sini," ujar Nata.
Aleta mendekat ke arah Nata. Ia duduk di kursi yang ada di samping kasur. Nata tersentak saat melihat Aleta tiba-tiba meneteskan air mata, Nata menjulurkan tangannya lalu menghapus air mata Aleta, "kenapa lo nangis?" tanya Nata pelan.
Aleta mengelus tangan Nata yang masih berada di pipinya. Aleta merasakan tekstur kasar dari tangan Nata, "kenapa kamu bisa sampe kaya gini Nat? Aku gak bisa liat kamu kaya gini," lirih Aleta.
Aleta kembali meneteskan air matanya. Ia benar-benar merasa terluka saat melihat Nata seperti ini. Aleta tahu bagaimana rasa sakitnya karena dulu dia juga pernah merasakannya.
Nata tersenyum tipis, "gue gak papa. Jangan nangis dong, lo jelek tau kalau nangis. Sini gue peluk," Nata menegakan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh Aleta.
Nata menaruh dagunya di atas kepala Aleta, ia mengelus punggung Aleta, "katanya, kalau cewek nangis tuh harus dipeluk biar tenang. Gue gak papa Ta, gue gak papa. Jangan nangis gini, gue gak suka kalau ngeliat orang yang gue sayang nangis," gumam Nata.
Aleta merangkulkan tangannya di pinggang Nata, "aku gak bakal nangis kalau keadaan kamu gak kaya gini Nat. Kalau kamu gak mau ngeliat aku nangis lagi, aku mohon jangan terluka lagi, aku gak suka ngeliat kamu kaya gini Nat," lirih Aleta sambil terisak.
Nata tersenyum tipis. Ia sangat bersyukur karena Tuhan menghadirkan Aleta di dalam kehidupannya. Bagi Nata, Aleta segalanya. Aleta hidupnya. Dan Aleta adalah penyemangat hidupnya.
Nata melepaskan pelukannya, dia menatap Aleta. Aleta ikut menatap Nata, ia merasakan ketenangan saat melihat mata Nata. Nata menghapus air mata Aleta, "maaf ya tekstur tangan gue jadi kasar gini. Gue nyuruh lo buat dateng ke sini itu buat ngobatin luka gue, bukannya malah nangis gini," cetus Nata.
"Apa upah aku kalau ngobatin kamu?" tanya Aleta.
Nata tersenyum lebar. Dia mengacak-acak pelan rambut Aleta, "apapun yang lo minta gue turutin," jawab Nata.
Aleta tersenyum tipis, "kalau gitu, aku cuma pengen kamu cepet sembuh Nat," jelas Aleta.
Saat Aleta mau berdiri, Nata malah menarik tangannya sampai ia terduduk di pangkuan Nata. Jantung Aleta mulai berpacu dengan cepat, ia merasakan pipinya yang terasa panas, "Nat, kamu apa-apaan sih," gumam Aleta.
Nata melingkarkan tangannya di perut Aleta, ia memeluk Aleta erat. Nata menaruh dagunya di atas bahu Aleta, "kalau lo mau gue cepet sembuh, gampang kok. Lo tinggal obatin luka gue dan selalu ada di samping gue," terang Nata.
"Aku mau ambil kotak P3K nya Nat, aku mau obatin kamu. Lepasin," ujar Aleta lembut.
Bukannya malah melepaskan Aleta, justru Nata semakin mengeratkan pelukannya, "gini dulu, sebentar aja. Lo tau Ta, gue sayang sama lo. Lo udah masuk ke kehidupan gue, dan gue gak bakal lepasin lo atapun biarin lo pergi gitu aja. Gue bakal perjuangin lo Ta," ujar Nata pelan tepat di samping telinga Aleta.
Aleta hanya diam. Ia tidak mampu berkata-kata. Perkataan Nata mampu membuatnya diam seribu bahasa. Tapi hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Nata.
Ia jadi yakin kalau yang mengirimkannya pesan itu bukan Nata. Karena ia tahu Nata sebenarnya orang yang baik, Nata tidak mungkin tega mempermainkan perasaannya.
"Kalau lo mau tau gimana gue bisa dapetin luka-luka ini, gue dapetin ini semua dari Papa gue. Gue gak pernah kepikiran buat benci sama Papa walaupun dia sering kasar sama gue. Gue sayang banget sama Papa gue Ta, dia satu-satunya keluarga yang gue punya saat ini. Tapi kenapa ya dia malah benci sama gue," curhat Nata.
"Gue emang bandel, suka bikin masalah. Tapi gak seharusnya kan Papa benci sama gue Ta, gue selalu berusaha buat Papa sayang sama gue Ta. Tapi kenapa dia malah makin benci sama gue. Gue iri sama Arsen karena dia selalu dapet perhatian dari Papa. Gue juga pengen di perhatiin sama Papa Ta, gue pengen deket lagi sama Papa. Gue bertahan di rumah ini karena gue selalu pengen tinggal satu rumah sama Papa, gue gak mau pisah sama dia. Gue gak peduli seberapa sering pun Papa nyakitin gue, gue bakal tetep sayang sama dia," Lanjut Nata panjang lebar.
Aleta tidak pernah tahu kalau Nata mengalami masa-masa yang sulit. Dari luar, Nata memang terlihat kuat dan bahagia, bahkan Nata tidak pernah sedikitpun menunjukkan kesedihannya. Tapi dari dalam, Nata sangat rapuh. Dia butuh seseorang untuk menyemangatinya.
👑
Kok aku nangis ya pas bikin part ini😂
Maaf ya kalau ceritanya ngebosenin 😁♥
Next gak nih?
Semangatin aku dong biar aku cepet updatenya😁♥