
Happy Reading ❤
Maaf kalau banyak typo, kalau ada typo komen aja ya ❤
Komen sebanyak-banyaknya ya 😁♥
👑
Nata berhenti berlari ketika sudah di depan UGD. Ia mengontrol napasnya agar stabil. Nata masuk ke dalam UGD. Dia mencari keberadaan Aleta.
Julian tersentak saat melihat Nata. Julian langsung mendekati Nata. "Nat, lo ngapain di sini sih?" tanya Julian.
"Di mana Aleta?" tanya Nata mengabaikan pertanyaan Julian.
Julian mengacak rambutnya. Julian memegang bahu Nata. "Nat, mending sekarang lo balik ke ruangan lo. Gue gak mau keadaan lo drop lagi. Aleta cuma kecapean Nat, sebentar lagi juga dia sadar," jelas Julian.
Nata menghembuskan napas kasar. "Gue khwatir banget sama Aleta. Gue takut dia kenapa-napa. Gue mau liat Aleta dulu Jul," ujar Nata.
Julian sudah melihat kekhawatiran Nata dari wajahnya. Julian juga bisa menebak kalau Nata lari-lari ke sini karena keringat bercucuran di pelipis Nata.
Julian merangkul pundak Nata. "Tenang aja Nat. Aleta baik-baik aja," ucap Julian bermaksud menenangkan Nata.
Nata melihat Aleta yang terbaring di ranjang rumah sakit. Nata memandang Aleta dengan tatapan sendu, ia sedih melihat wajah pucat Aleta.
Nata berdiri di samping Aleta. Nata melihat anak rambut Aleta menutupi mata Aleta, Nata menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinga Aleta.
Nata menggenggam tangan Aleta. Nata bisa merasakan dinginnya tangan Aleta. "Ta. Gue gak suka ngeliat lo terbaring lemah kaya gini, lo harus selalu sehat, jangan buat gue khawatir," gumam Nata.
Nata memajukan wajahnya lalu mengecup dahi Aleta. "Cepet sembuh Sayang," lirih Nata.
Nata menyelimuti tubuh Aleta sampai bahu agar Aleta tidak kedinginan. Ia tidak boleh berlama-lama di sini, ia takut mata-mata Putra mengetahuinya.
Nata keluar dari UGD. Ia melihat Julian sedang duduk di kursi panjang di depan UGD. Nata duduk di samping Julian. "Ini pasti gara-gara Papa lo kan? Pasti Papa lo yang nyuruh lo jauhin Aleta," tebak Julian.
Nata menyenderkan kepalanya di dinding. "Iya. Papa ngancem gue kalau gue gak jauhin Aleta dia bakal lukain Aleta, dan gue gak mau itu sampai terjadi," jelas Nata.
Julian melirik Nata sekilas. "Tapi kenapa Papa lo nyuruh lo jauhin Aleta? Dia kenal Aleta?" tanya Julian penasaran.
"Kemarin Papa marah-marah sama gue dan nyuruh gue buat jauhin Aleta karena Arsen suka sama Aleta," jelas Nata.
Julian tersenyum sinis. "Brengsek. Gue yakin Arsen gak beneran suka sama Aleta, dia cuma pengen buat lo terluka. Emang gak ada otak tuh anak!" kesal Julian.
"Udahlah biarin aja, gue udah terbiasa terluka. Jul, mending sekarang lo ke dalem takutnya Aleta udah sadar. Gue bakal tunggu di sini sampe Aleta sadar," ucap Nata.
Julian memandang Nata dengan tatapan seriusnya. "Sampai kapan lo mau terluka kaya gini Nat! Lo harus bisa bahagiain diri lo sendiri, jangan mau terluka cuma karena Papa lo yang brengsek itu!" murka Julian.
Julian sudah menganggap Nata sebagai saudaranya kandungnya sendiri. Julian tidak tega jika terus-menerus melihat Nata terluka. Nata berhak bahagia.
Julian menghembuskan napas kasar. Ia tidak mengerti dengan pemikiran Nata, sudah jelas Putra tidak menyayanginya dan selalu kasar padanya tapi kenapa Nata tetap menyayangi Putra.
"Mending sekarang lo balik ke ruangan lo Nat. Jangan lama-lama di luar gue gak mau kondisi lo drop lagi, gue bakal kabarin lo kalau Aleta udah sadar," ujar Julian.
Julian berdiri. "Gue bakal nunggu di sini sampe Aleta sadar," Julian melirik Nata, ia menghembuskan napas kasar. "Nat, plis jangan keras kepala. Gue mohon balik ke ruangan lo," pinta Julian.
Bela dan Dimas menghampiri Julian dan Nata di depan ruang UGD. Bela berdiri di depan Nata. "Ayo balik ke ruangan kamu Nat," ajak Bela.
"Gue gak mau," tolak Nata.
Bela jongkok di depan Nata, ia menggenggam tangan Nata. "Nat, plis. Kamu lagi sakit, kalau kamu drop lagi gimana. Ayo Nat balik ke ruangan kamu," pinta Bela.
"Bener kata Bela Nat. Lo harus balik ke ruangan lo," sahut Dimas.
"Gue bilang gue gak mau!" bentak Nata.
Bela tersentak mendengar bentakan Nata. "Nat, kamu kenapa sih! Kamu lupa kalau Om Putra nyuruh kamu jauhin Aleta. Kamu harus jauhin Aleta kalau kamu gak mau liat dia terluka Nat," jelas Bela sedikit emosi.
Nata menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. "Gue cuma mau nungguin Aleta sampe dia sadar. Gue mohon jangan minta gue buat kembali ke ruangan gue dulu, gue bakal balik ke ruangan gue kalau Aleta udah sadar," lirih Nata.
Julian menghembuskan napas pelan. Julian menepuk pelan bahu Nata. "Oke. Lo bisa di sini sampe Aleta sadar. Kalau gitu gue masuk dulu mau ngeliat keadaan Aleta," ucap Julian.
Julian melangkah masuk ke dalam UGD. Belum sampai tiga langkah berjalan, Julian sudah memberhentikan langkahnya. Julian membulatkan matanya saat melihat Aleta berdiri tak jauh darinya. "Aleta," panggil Julian.
Aleta menatap Julian. "Kenapa Nata mau nungguin aku sampe aku sadar?" tanya Aleta dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan oleh Julian.
Julian tersentak. Sepertinya Aleta mendengar percakapannya dengan Nata.
"Kenapa Nata mau nungguin aku sampe aku sadar Jul? Kenapa? Katanya dia cuma permainin aku, tapi kenapa dia mau nungguin aku sampe sadar?" tanya Aleta penasaran.
Julian tidak tahu harus menjawab apa. Apa ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Aleta?
"Kenapa lo nanya sama Julian. Harusnya lo nanya langsung ke gue," sahut Nata yang sudah berada di belakang Julian.
👑
Hai semuanya 🤗 apa kabar nih? Semoga kalian sehat selalu ya ♥ jaga kesehatannya ya ♥
Gimana perasaan kalian di part ini?
Maaf kalau ceritanya ngebosenin 🙃♥
Next gak nih?