Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 18}



Happy Reading ❤


Aku lebih suka kalian komen dari pada vote 😁❤


👑


Aleta dan Nata sudah berada di ruangan Rina. Mereka duduk bersebelahan, sementara Rina duduk di depan mereka.


Rina melipat kedua tangannya di atas meja, ia melirik Aleta, "bisa kamu keluar dulu Aleta. Saya ingin membicarakan sesuatu yang serius dengan Nata," pinta Rina dengan nada tegasnya.


Tangan Nata terus menggenggam tangan Aleta, "kalau anda menyuruh Aleta pergi, saya juga bakal pergi," sahut Nata.


Aleta melirik Nata. Aleta bisa melihat aura yang tidak menyenangkan dari Nata. Aleta mengeratkan genggaman tangannya pada Nata, ia mengelus tangan Nata, "tenang Nat. Ada aku, aku gak bakal pergi," lirih Aleta.


Rina menghembuskan napas pelan. Ia melirik tajam pada Nata, "kenapa kamu memukuli Arsen sampai dia pingsan? Ada masalah apa diantara kalian berdua?" tanya Rina.


Nata bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya kalau ia tidak suka saat Arsen mencium pipi Aleta dan ketika Arsen mengatakan kalau Aleta adalah mainan barunya.


"Dia memancing emosi saya," jelas Nata.


"Tapi, gak seharusnya kamu mukul dia sampai dia pingsan Nata! Arsen pasti kesakitan gara-gara kamu!" tanpa sengaja Rina berbicara dengan intonasi yang tinggi pada Nata.


Aleta meringis pelan saat Nata mengeratkan genggaman tangannya seperti ingin menghancurkan tangannya.


Nata sudah menduga kalau Rina lebih mencemaskan Arsen. Ia sadar diri akan hal itu, karena ia hanya anak tiri Rina.


"Apa kamu tidak bosan berantem dan membuat masalah! Kamu udah kelas 12, sebentar lagi kamu lulus. Harusnya kamu berubah. Kalau kamu berantem atau membuat masalah lagi, saya skors kamu!" lanjut Rina.


Nata berdiri dari duduknya. Aleta ikut berdiri, "sudah kan ceramahnya. Kalau gitu saya pergi," tanpa menunggu jawaban dari Rina, Nata menarik tangan Aleta lalu keluar dari ruangan Rina.


Nata terus berjalan. Aleta merasakan perih di pergelangan tangannya karena Nata terlalu erat mencekal pergelangan tangannya, "Nat, sakit," rintih Aleta.


Nata langsung memberhentikan langkahnya. Ia melirik tangannya yang mencekal pergelangan tangan Aleta, ia menjauhkan tangannya dari tangan Aleta.


Nata tersentak ketika melihat pergelangan tangan Aleta yang memerah karena ulahnya. Nata menyentuh pergelangan tangan Aleta dengan hati-hati, "sakit ya?" tanya Nata pelan.


Aleta tersenyum tipis saat melihat Nata yang serius memandangi pergelangan tangannya yang memerah, "gak papa kok Nat," jelas Aleta.


Nata melirik Aleta dengan rasa bersalah. Ia mengelus pelan pergelangan tangan Aleta, "maaf ya, Ta. Gue gak ada niat buat bikin lo kesakitan. Ini pasti sakit, maaf ya," lirih Nata.


"Kita ke balkon aja yuk, aku lagi males belajar," ajak Aleta.


Nata menyeringai, "sejak kapan lo jadi nakal gini," cetus Nata.


Aleta tersenyum lebar. Ia menautkan jari-jari tangannya dengan jari-jari tangan Nata yang lebih besar darinya. Ia menarik tangan Nata dan belari menuju balkon.


Aleta dan Nata sudah berada di balkon. Aleta bisa melihat gedung-gedung tinggi dari atas balkon. Ia juga bisa melihat jalanan yang tidak begitu ramai hanya ada kendaraan bermotor dan angkutan umum yang melintas.


Aleta melirik Nata yang berdiri di sebelahnya, "Nat," panggil Aleta.


Nata menyahuti panggilan Aleta dengan gumaman. Aleta ingin bertanya tentang hubungan Rina dan Nata yang terlihat tidak baik. Tapi, ia malu untuk menanyakan hal itu.


Nata melirik Aleta. Ia bisa melihat ada kegelisahan di raut wajah Aleta, "kalau ada yang mau lo omongin, omongin aja," ujar Nata.


Aleta menghembuskan napas pelan. Ia berharap Nata tidak akan marah karena ia bertanya tentang privasinya, "hubungan kamu sama Bu Rina lagi gak baik ya Nat?" tanya Aleta pelan.


Nata tersenyum miris. Ia sudah menduga kalau Aleta akan bertanya hal seperti itu, "gue gak pernah suka sama dia karena dia Ibu tiri gue. Dia gak pernah bener-bener sayang sama Bokap gue, dia cuma pengen nguasain seluruh harta Bokap gue," jelas Nata.


Aleta terkejut dengan penjelasan Nata. Ia tidak mengira kalau Rina bukan Ibu kandung Nata, "kamu tau dari mana kalau Bu Rina cuma pengen nguasain seluruh harta Papah kamu Nat? Bisa aja kan itu salah," ucap Aleta.


"Gue pernah denger obrolan dia sama Arsen. Dia pengen nguasain semua harta Bokap gue kalau Bokap gue udah gak ada. Dia juga pernah nyoba buat ngebunuh Bokap gue dengan menaruh obat mematikan di minuman Bokap gue," terang Nata.


"Untung aja saat itu gue tau rencana busuk dia. Gue pecahin tuh gelas yang mau Bokap gue minum," lanjut Nata.


Aleta benar-benar tidak bisa berkata apa-apa mendengar penjelasan Nata. Ia tidak menduga kalau Rina bisa sejahat itu. Padahal, ia kira Rina itu orang yang baik karena wajahnya yang terlihat ramah. Tapi nyatanya ia salah.


"Dia gak tau kalau gue udah tau rencana busuk dia yang pengen nguasain seluruh harta Bokap gue. Dia terus berusaha ngedeketin gue dan baikin gue supaya gue bisa nerima dia sebagai Ibu tiri gue. Tapi, itu hal yang gak mungkin. Karena gue udah benci banget sama dia sejak gue tau rencana busuknya itu," jelas Nata panjang lebar.


"Kenapa kamu cerita ini sama aku Nat?" tanya Aleta.


Nata menatap mata Aleta. Aleta bingung dengan tatapan mata Nata, ia tidak bisa memahami apa arti dari tatapan mata itu, "karena sekarang, lo hidup gue," lirih Nata.


👑


Next gak nih? Komen ya 😁