
Lo hidup gue. Kata itu terus terngiang dalam pikiran Aleta. Ia tidak mengerti apa maksudnya, "maksudnya apa Nat?" tanya Aleta.
Nata tersenyum tipis. Dia menyelipkan anak rambut Aleta ke belakang telinga, "lo bakal tau sendiri maksudnya apa," jawab Nata.
Nata melirik pergelangan tangan Aleta. Nata merasa bersalah karena pergelangan tangan Aleta masih memerah, "tangan lo, masih sakit?" tanya Nata.
Aleta tersenyum. Dia menggelengkan-gelengkan kepalanya, "gak Nat. Aku udah gak papa, jangan khawatir," jelas Aleta.
Nata menyodorkan telapak tangannya pada Aleta, "ke kantin yuk. Lo pasti laper kan. Gue janji gak bakal genggam tangan lo terlalu erat lagi, gue gak mau lo terluka lagi karena gue," Nata memegang tangan kanan Aleta dan menggenggamnya.
Aleta tidak bisa menyembunyikan senyuman yang ingin terbit di bibirnya. Aleta merasakan kehangatan di genggaman tangan Nata.
Mereka berbalik pergi meninggalkan balkon. Saat di koridor, banyak tatapan mata yang mengarah pada Aleta dan Nata. Jam istirahat sudah berbunyi dari beberapa menit yang lalu.
Aleta tidak peduli dengan pandangan siswi-siswi yang terlihat tidak suka saat ia menggenggam tangan Nata.
"Kapan gue bisa pegang tangan Nata,"
"Duh, gue juga mau dong digenggam gitu tangannya sama Nata."
"Beruntung banget cewek yang di pegang tangannya sama Nata. Andai gue jadi dia, gue pasti seneng banget."
Bisik-bisik dari siswi-siswi itu dapat Aleta dengar. Ia hanya tersenyum menanggapinya. Ia memang beruntung karena Nata mau menggenggam tangannya.
Aleta dan Nata sudah sampai di depan kantin. Kantin tampak sangat ramai. Aleta tidak melihat ada tempat duduk yang kosong, "kantin penuh banget. Kayanya gak ada tempat duduk yang kosong, gimana Nat?" tanya Aleta.
"Nata," panggilan itu membuat Nata menoleh ke belakang. Aleta ikut menoleh ke belakang. Rina sudah ada di belakang mereka dengan tangan yang menyilang di depan dada, "kamu harus hormat ke tiang bendera sekarang sampai pulang sekolah! Kamu gak boleh membantah!" tegas Rina.
Aleta melepaskan genggaman tangannya dari Nata. Ia maju satu langkah mendekati Rina, "tapi Bu, ini kan jam istirahat. Nata juga belum makan," sahut Aleta.
Nata maju ke depan Aleta. Ia menyembunyikan Aleta di balik punggungnya, "lo diem aja," cetus Nata.
"Saya tidak peduli. Pokonya kamu harus dihukum karena telah memukul Arsen sampai pingsan," ujar Rina.
"Kalau kamu gak mau hormat ke tiang bendera sekarang, kamu akan saya skors," lanjut Rina. Ia membalikkan badannya dan berlalu pergi begitu saja. Ia akan menemui Arsen yang ada di UKS.
Nata mengepalkan kedua tangannya. Ia mencoba untuk sabar. Ia tidak bisa membantah perintah Rina, "gue mau ke lapangan. Lo di sini aja, lo harus makan," ujar Nata.
Nata membalikan badannya menghadap Aleta. Ia mengelus rambut Aleta, "gue bukan cowok lemah Ta. Gue gak mau tau pokonya lo harus makan. Jangan khawatirin gue," jelas Nata lembut.
Nata menjauhkan tangan Aleta dari pergelangan tangannya. Ia melangkah pergi ke lapangan. Aleta tidak bisa mencegah Nata, ia memperhatikan punggung Nata yang semakin menjauh.
Aleta tersentak ketika tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya, "kenapa lo bolos?" tanya Iris yang sudah ada di samping Aleta.
Aleta melirik Iris, "gue cuma mau nemenin Nata. Kelihatannya dia lagi gak baik," jelas Aleta.
Iris menghembuskan napas pelan, "gue tau lo suka sama Nata. Tapi, jangan kaya gini Ta. Lo murid baru di sini, gak seharusnya lo bolos cuma gara-gara Nata. Lo harus membimbing Nata ke arah yang lebih baik," jelas Iris panjang lebar.
Aleta tersenyum tipis mendengar ucapan Iris. Aleta tahu Iris bermaksud baik untuk mengingatkannya agar tidak memilih jalan yang salah, "aku ngerti Ris. Makasih ya udah nasehatin aku," ucap Aleta.
Iris menepuk pelan pucuk kepala Aleta, "gue gak mau lo kena masalah karena ini udah kedua kalinya lo bolos. Untung aja setiap kali lo bolos guru gak masuk," terang Iris.
"Aku laper nih, cacing di perut aku udah pada konser minta makan," lirih Aleta sambil mengusap perutnya. Iris terkekeh pelan. Ia merangkul pundak Aleta, "lo tenang aja. Gue udah pesenin makanan buat lo," jelas Iris.
Rina memasuki UKS yang tampak sepi. Ia melihat Arsen yang terbaring di ranjang UKS, "Nak," sapa Rina.
Arsen membuka kedua matanya. Ia langsung menegakkan tubuhnya saat mengetahui ada Rina, "Ma, kok Mama ada di sini?" tanya Arsen.
Rina tersenyum. Ia mendekati Arsen lalu mengelus rambut Arsen, "Mama kan mau liat keadaan anak kesayangan Mama, kamu gak papa Sayang?" tanya Rina cemas.
Rina meringis pelan melihat luka-luka yang Arsen dapat di wajahnya. Rina mengelus pelan pipi Arsen, "berengsek banget si Nata itu berani mukulin anak kesayangan Mama ini sampai babak belur gini. Liat aja, Mama bakal kasih dia pelajaran," ucap Rina.
Arsen menyeringai, "tenang aja Ma. Nata pasti dapet masalah besar karena berani mukulin aku, Papa gak mungkin tinggal diem saat tau Nata mukulin aku sampe pingsan," terang Arsen.
"Kamu beneran pingsan Sayang? Atau itu rencana kamu doang supaya Papa marah besar sama Nata?" tanya Rina.
Arsen terkekeh pelan. Ia melirik Rina, "itu cuma rencana aku Ma. Aku gak mungkin pingsan, aku kan kuat. Aku cuma pengen Nata dapet masalah besar," jelas Arsen.
"Kita harus singkirkan dia secepatnya Ma. Kayanya dia udah tau tentang rencana kita yang pengen nguasain seluruh harta Papa," lanjut Arsen.
Rina menganggukan kepalanya setuju. Ia juga merasa kalau Nata sudah tau sejak awal tentang rencananya itu, "tenang aja Sayang. Mama pasti bakal singkirin dia, kalau perlu, kita bunuh aja dia. Dia itu cuma anak yang gak berguna dan bodoh," ujar Rina.