
Happy Reading ❤
Aku lebih suka kalian komen daripada vote 😁❤
👑
Aleta terkejut melihat pesan yang dikirimkan Nata padanya. Ia tidak pernah menyangka Nata akan berkata seperti itu. Ada apa dengan Nata? Itu lah yang ada di pikiran Aleta.
"Aleta," panggil Milka. Ia mendekati Aleta yang sedang duduk di atas kasurnya. Ia terkejut saat mendapati Aleta menangis, "kamu kenapa Sayang?" tanya Milka panik.
Milka duduk di tepi kasur Aleta, Aleta mendongakkan kepalanya menatap mata Milka, "Mah," lirih Aleta.
"Ada apa Sayang? Sini cerita sama Mama," ucap Milka. Aleta menyodorkan ponselnya pada Milka, Milka mengambil ponsel itu dari tangan Aleta. Ia membaca teks pesan dari Nata, "Mama gak percaya kalau yang ngirim pesan ini Nata," jelas Milka.
"Bisa saja kan ini orang lain yang ngetik, jangan percaya dulu Sayang. Coba kamu tanyain ke Nata pas di sekolah," lanjut Milka.
Aleta mengangguk. Ia juga tidak boleh mudah percaya, bisa saja itu orang lain. Aleta segera bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Aleta menaiki anak tangga menuju kelasnya yang ada di lantai dua. Ia memasuki kelasnya yang hanya ada beberapa orang. Ia datang terlalu pagi.
Aleta duduk di tempatnya. Ia menunggu kedatangan Nata, biasanya Nata akan datang lima menit sebelum bel pelajaran dimulai.
Iris memasuki kelas dengan Sisil dan Icha, "tumben lo dateng pagi Ta," sahut Icha.
"Iya nih lagi kepengen berangkat pagi aja," jawab Aleta.
Iris duduk di sebelah Aleta, ia melihat raut wajah Aleta yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu, "lo kenapa Ta?" tanya Iris.
Aleta melirik Iris. Aleta mengeluarkan ponselnya dari saku seragam sekolahnya. Aleta memperlihatkan pesan Nata kepada Iris.
"Kok Nata ngomong gini sih, berengsek banget tuh anak," kesal Iris setelah membaca pesan yang dikirimkan Nata tersebut.
"Mungkin gak sih kalau itu bukan Nata? Bisa aja kan ponsel Nata dibajak sama orang lain," lirih Aleta. Ia masih berfikiran positif.
Iris melirik Aleta. Ia juga tidak yakin Nata yang mengirimkan pesan itu pada Aleta. Iris bisa melihat dari mata Nata kalau Nata mencintai Aleta dengan tulus. Tidak mungkin Nata akan berkata sekasar itu pada Aleta.
Di sisi lain. Sarah mengambil kunci wc yang ada di atas meja ruang tamu. Ia tidak akan membiarkan Nata berlama-lama di dalam wc. Ia sudah menganggap Nata seperti anaknya sendiri.
Sarah bernapas lega karena Arsen, Rina, dan Putra sudah pergi dari rumah. Sarah melangkah menuju wc sambil membawa kunci wc di tangan kanannya.
Sarah membuka pintu itu dengan hati-hati. Saat pintu terbuka lebar, ia tersentak melihat keadaan Nata. Nata masih tidak sadarkan diri.
Sarah meneteskan air matanya. Ia tidak sanggup melihat keadaan Nata seperti ini, hatinya terasa sakit dan sesak. Sarah mendekati Nata yang penuh darah dan luka di tubuhnya, "Den Nata," panggil Sarah.
Tidak ada sahutan dari Nata. Sarah merasa khawatir dengan keadaan Nata, ia menelepon satpam yang juga bekerja di rumah Putra untuk mendatanginya di wc.
Setelah beberapa menit kemudian. Satpam yang bernama Dadang masuk ke dalam wc, ia tersentak melihat keadaan Nata, "yaa Allah Den Nata," sahut Dadang. Dadang mendekati Sarah dan Nata, "kenapa mereka begitu jahat sama Den Nata, kasian Den Nata," lanjut Dadang.
"Ayo bawa Den Nata keluar dari sini," ucap Sarah. Ia merangkulkan tangan kanan Nata ke pundaknya dengan hati-hati. Sementara Dadang merangkulkan tangan kiri Nata ke pundaknya.
Sarah dan Dadang membawa Nata ke kamar Sarah. Sarah dan Dadang tidak mungkin membawa Nata ke kamarnya karena kamar Nata ada di lantai dua.
Sarah dan Dadang menidurkan tubuh Nata di atas kasur. Sarah melirik wajah Nata yang babak belur, "saya harus segara obatin luknya. Saya ambil kotak P3K dulu, kamu tungguin Den Nata di sini," jelas Sarah.
Dadang mendekati Nata, ia mengelus pipi Nata yang mengeluarkan darah, "Den, maaf karena saya gak bisa jagain Den Nata dari Tuan Putra. Kenapa Aden harus hidup seperti ini, kalau suatu saat nanti Aden sudah tau semuanya. Mungkin Aden bakal memilih pergi dari rumah ini," lirih Dadang.
Sarah datang dengan membawa kotak P3K. Dia duduk di samping Nata dan langsung mengobati luka-luka Nata dengan hati-hati.
Sarah merasa sangat khawatir karena Nata belum sadar juga. Padahal jam sudah menunjukan pukul satu siang, "apa kita bawa aja Den Nata ke rumah sakit?" tanya Sarah pada Dadang.
"Jangan, nanti Tuan Putra bisa marah besar sama kita. Tuan Putra bisa aja nyakitin Den Nata lebih dari ini kalau kita bawa Den Nata ke rumah sakit," jawab Dadang.
Alhasil Putra marah besar pada Sarah dan Dadang. Ia melampiaskan amarahnya itu pada Nata, ia sampai memukul Nata saat Nata dirawat di rumah sakit.
Kalau saja tidak ada Bela waktu itu, mungkin Nata tidak akan bisa hidup sampai sekarang. Bela selalu melindungi Nata dari amarah Putra.
"Andai aja Non Bela ada di sini," gumam Sarah.
Nata membuka kedua matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah Sarah, "Bi," panggil Nata pelan.
Sarah tersenyum senang karena Nata sudah sadar, "Den. Alhamdulillah Aden udah sadar, Bibi sama Mang Dadang khawatir banget sama Aden," ucap Sarah.
"Aku gak papa Bi, Mang. Aku kan orangnya kuat," lirih Nata.
Nata tersenyum miris karena rasa sakit yang luar biasa saat ia menyenderkan punggungnya di dinding, "Den, jangan nyender di tembok dulu. Punggung Aden masih memar-memar," ujar Sarah.
"Bener kata Bi Sarah Den, mending Aden tiduran aja dulu," sahut Dadang.
"Aku gak papa," ucap Nata tersenyum tipis. Nata melirik tangan kanan dan kirinya yang terbalut perban, "Bi, bisa aku minjem ponsel Bibi?" tanya Nata.
Sarah mengangguk. Ia merogoh saku roknya, ia menyerahkan ponselnya pada Nata. Nata mengetikan nomor seseorang di ponsel Sarah, ia menelepon seseorang.
"Aleta," panggil Nata ketika sambungan telepon tersebut sudah tersambung.
Aleta sangat mengenali suara tersebut. Ia langsung mengeratkan genggaman tangannya di ponselnya, "Nata," panggil Aleta.
"Iya, ini gue Nata. Lo bisa ke rumah gue sekarang? Gue kesakitan Ta," ucap Nata dengan suara lemah.
Aleta tersentak, "di mana alamat rumah kamu? Kirimin ke aku sekarang juga, aku bakal ke sana sekarang," sahut Aleta cemas.
Nata mengirimkan alamat rumahnya lewat SMS. Aleta bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan Nata? Ia juga bingung bagaimana caranya agar ia bisa keluar dari sekolah. Gerbang sekolah pasti dijaga oleh satpam.
Jam pelajaran terakhir baru saja dimulai. Saat ini, Aleta sedang berada di dalam wc. Aleta melangkah keluar wc, ia melirik kanan dan kirinya, ia harus segera pergi ke rumah Nata. Ia sangat mencemaskan Nata.
Aleta melangkah ke arah gerbang. Ia bisa melihat satpam yang sedang berdiri di depan gerbang, ia memberanikan diri mendekat ke arah satpam itu, "Pak," panggil Aleta.
Satpam itu menoleh pada Aleta, "ada apa? Kenapa kamu keluar kelas saat jam pelajaran terakhir sudah dimulai?" tanya Satpam itu.
Aleta mengeratkan genggaman tangannya, ia berusaha menyembunyikan kegugupannya, "saya disuruh beli sesuatu di luar sama Bu Lastri," jelas Aleta.
Satpam itu mengerutkan keningnya, "masa sih? Coba saya telpon Bu Lastrinya," Satpam itu langsung menelepon Lasti yang sebagai guru fisika di sekolah.
Aleta membuka pintu gerbang saat Satpam itu fokus telponan dengan Lastri. Satpam itu mendengus kesal saat tahu kalau Aleta membohonginya, saat ia akan memarahi Aleta, Aleta malah tidak ada di tempatnya.
Aleta berlari sekuat tenaganya. Ia takut Satpam sekolahnya ikut mengejarnya, Aleta memberhentikan salah satu taksi dan langsung menaikinya.
"Bi, bisa tolong lepasin perbannya," pinta Nata pada Sarah. Sarah mengerutkan keningnya bingung, kenapa Nata meminta ia melepaskan perbannya, "tapi kan tangan Aden luka," jawab Sarah.
Nata tersenyum tipis, "Bibi tenang aja, bakal ada orang yang dateng dan dia yang bakal obatin aku. Aku cuma mau diobatin sama dia Bi," jelas Nata.
👑
Maaf karena baru bisa update, aku lagi gak mood nulis nih 😢♥
Bosen gak nih nunggunya? 😁
Maaf kalau ceritanya ngebosenin 😁
Komen ya biar mood aku balik lagi 😁♥