
Happy Reading β₯
Aku lebih suka kalian komen daripada vote β₯
Gak tau kenapa aku senyum^ sendiri pas buat part ini. Semoga kalian juga ngerasain hal sama kaya aku π
π
Aleta masih diam di pangkuan Nata. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Jangan tinggalin gue Ta, gue butuh lo di hidup gue," gumam Nata.
Aleta menjauhkan tangan Nata dari perutnya. Aleta berdiri dan menatap manik hitam mata Nata. Aleta mengelus pipi Nata, "aku gak bakal tinggalin kamu Nat, aku sayang sama kamu," ucap Aleta jujur.
Nata tersenyum tipis, ia menyentuh tangan Aleta yang berada di pipinya, "gue juga sayang sama lo," ungkap Nata.
Aleta tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia tersenyum lebar, ia tidak menyangka Nata akan berkata seperti itu. Ternyata Nata merasakan hal sama seperti dirinya. Ia senang cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Udah jangan senyum-senyum gitu, buruan obatin luka gue," cibir Nata.
Aleta tersenyum tipis. Aleta mengacak pelan rambut Nata, "siap Bosku," ucap Aleta.
Aleta mengambil kotak P3K yang ada di atas nakas. Dia membuka kotak P3K itu lalu mengambil obat merah, kapas, juga perban untuk membalut tangan Nata.
"Maaf ya kalau sakit," Aleta mulai mengobati luka di wajah Nata. Nata hanya diam sambil memandang wajah Aleta yang tampak serius, "cantik," gumam Nata.
"Kamu ngomong apa Nat? Aku gak denger," tanya Aleta. Aleta menempelkan kapas yang sudah ia teteskan obat merah di ujung bibir Nata, "kenapa lo bisa secantik ini sih? Gue suka mata lo," ucap Nata.
"Gue suka hidung lo," Nata mulai menyentuh hidung Aleta menggunakan jari telunjuknya.
"Gue suka pipi lo," lanjut Nata sambil mengelus pelan pipi Aleta. Nata terkekeh pelan saat menyadari kalau Aleta salah tingkah karenanya, "ih Nat, udah dong aku malu," ungkap Aleta sambil menundukan kepalanya.
Nata tersenyum tipis. Nata mengacak rambut Aleta pelan, lalu ia merapihkannya, "gue suka semua yang ada di diri lo Ta. Di mata gue, lo itu sempurna Ta," jelas Nata.
Aleta mendongakkan kepalanya agar bisa menatap mata Nata, "makasih Nat. Aku gak pernah nyangka bisa suka orang seketus kamu, aku juga gak pernah nyangka kalau kamu juga suka sama aku," ujar Aleta.
Nata mengeluarkan tangannya ke pipi Aleta, lalu ia mengelus-elus pipi Aleta, "gue bakal mencintai lo di tiga waktu. Sekarang, besok, dan selamanya," ucap Nata.
Aleta tidak menemukan kebohongan dari ucapan Nata. Tatapan Nata begitu lembut, Nata terdengar sangat tulus saat mengatakan hal itu.
"Sekarang kamu pinter banget ngegombal ya Nat," ujar Aleta sambil terkekeh pelan.
Nata tersenyum tipis, "gak papa dong. Kan gue gombalnya ke lo doang," jawab Nata.
Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku bohongin satpam pas di gerbang. Aku bilang ke satpam kalau aku disuruh beli sesuatu di luar sama Bu Lastri, terus satpam itu nelpon Bu Lastri. Pas satpam itu fokus telponan sama Bu Pasti aku kabur deh," jelas Aleta panjang lebar.
Nata mencubit hidung Aleta pelan, "dasar. Besok lo pasti kena marah sama Bu Lastri, maaf ya," ucap Nata.
Aleta menghembus napas pelan, "apa sih Nat. Ini bukan salah kamu, jangan minta maaf kalau itu bukan kesalahan kamu. Kamu udah terlalu sering ngomong maaf ke aku, padahal kamu gak salah apa-apa," omel Aleta.
"Gue ganti deh bukan kata maaf lagi yang bakal terus gue ucapin, tapi kata sayang aja. Boleh kan?" goda Nata sambil tersenyum lebar.
Aleta mencubit lengan Nata pelan, "ih, sejak kapan sih Nata genit gini," cetus Aleta malu.
Nata melirik pipi Aleta yang merah seperti tomat, Nata mencolek dagu Aleta, "Sayang," goda Nata sambil terkekeh.
Aleta sangat malu. Jantungnya sudah seperti lari maraton, pipinya terasa sangat panas. Aleta menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, "ih udah Nat, aku malu banget nih. Jantung aku udah kaya lari maraton, pipi aku juga panas banget ini," jujur Aleta.
Nata tertawa melihat tingkah Aleta, di matanya sekarang Aleta sangat menggemaskan. Nata mendekati Aleta, lalu ia memeluk Aleta, "udah-udah, jangan malu Sayang," Nata mengelus rambut Aleta.
Aleta memukul perut Nata pelan, "astaga Nat, kalau kamu gombalin aku terus kaya gini kayanya nanti aku bisa pingsan deh," terang Aleta.
Aleta mendorong tubuh Nata pelan, "udah jangan gombal terus, sini aku perban tangan kamu," ucap Aleta.
Aleta mulai memperban tangan Nata dengan hati-hati. Aleta meringis pelan melihat luka di tangan Nata, Aleta mengelus pelan luka itu, "pasti sakit ya Nat?" tanya Aleta.
"Sakit sih, tapi kan udah ada lo sebagai penyembuhnya," jelas Nata. Bagi Nata, Aleta memang penyembuh lukanya.
"Den Nata!" panggil Sarah dengan intonasi yang sedikit meninggi. Aleta dan Nata melirik Sarah yang sudah ada di depan pintu.
Aleta merasa aneh dengan raut wajah Sarah, "kenapa Bi?" tanya Nata.
Nata juga merasakan hal sama dengan Aleta. Nata merasa aneh dengan raut wajah Sarah, sepertinya apa yang akan Sarah katakan sangat penting.
"Non Bela ada di sini," ungkap Sarah pelan.
Aleta menutup mulutnya dengan tangannya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Kenapa Bela datang di saat Aleta sudah sangat mencintai Nata? Apa Nata akan kembali pada Bela? Apa Nata akan lebih memilih Bela daripada dirinya? Aleta merasa sesak saat memikirkan hal itu.
π
Wah Bela udah dateng nih, menurut kalian Nata bakal pilih Aleta atau Bela?
Maaf ya baru update β₯
Next gak nih? Komen dong biar aku semangat terus nerusin ceritanya sampe endingπβ₯