
Happy Reading ❤
Maaf kalau banyak yang typo ❤
👑
Aleta sedang berada di dalam mobil bersama Nata. Aleta sesekali melirik Nata yang sedang fokus mengendarai mobilnya. "Kok kamu makin hari makin ganteng aja sih Nat," ujar Aleta jujur.
Nata hanya menanggapinya dengan senyuman. Nata melirik Aleta sekilas lalu kembali fokus ke depan. "Aku boleh nanya sesuatu gak?" tanya Nata.
Aleta mengernyitkan alisnya. Tidak biasanya Nata mau bertanya meminta izin dulu darinya. "Nanya apa Nat?"
"Siapa foto cowok yang ada di nakas kamar kamu itu?" tanya Nata.
Aleta melirik Nata. "Kenapa? Kamu cemburu ya," tebak Aleta.
Nata tetap memfokuskan pandangannya ke depan. "Gak," elak Nata. Padahal apa yang dikatakan oleh Aleta itu memang benar. Nata cemburu pada cowok itu.
Aleta menusuk-nusuk pelan pipi Nata dengan jarinya. "Kalau cemburu bilang aja kali Nat," ujar Aleta terkekeh pelan.
"Iya aku cemburu. Habisnya kamu kelihatan bahagia banget di foto itu, aku jarang ngeliat kamu bisa sebahagia itu," jujur Nata.
Aleta tersenyum tipis. Memang hari-hari yang ia lewati bersama Alvaro adalah hari-hari bahagianya. Tapi kini semua itu hanya bisa menjadi kenangan yang tidak akan pernah bisa terulang lagi.
Nata melirik Aleta. Nata tersentak saat melihat raut wajah Aleta yang berubah, tatapannya terlihat sendu. Nata tidak suka melihat Aleta seperti ini. Nata memberhentikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.
Nata mengulurkan tangannya mengelus pipi Aleta. "Hei... Kenapa? Kok kamu jadi sedih gini, aku salah nanya ya. Maaf ya, aku gak bermaksud buat kamu sedih gini," ujar Nata lembut.
Aleta melirik Nata. Aleta tersenyum tipis lalu memegang tangan Nata yang berada di pipi kanannya. "Aku gak papa, aku cuma keinget masa lalu aja," jelas Aleta.
"Nama dia Alvaro. Dia orang pertama yang ngenalin aku pada kebahagiaan, dia ngelindungin aku dari orang-orang yang jahat sama aku, bahkan dia sampe ngorbanin nyawanya buat aku," jelas Aleta yang mulai terisak.
Nata menarik tangan Aleta lalu ia membawa tubuh Aleta ke dalam dekapannya. Nata mengelus punggung Aleta bermaksud ingin menenangkan Aleta. "Udah jangan dilanjutin kalau itu buat perasaan kamu kesiksa," ujar Nata lembut.
Aleta melingkarkan tangannya di pinggang Nata. Ia memeluk Nata dengan sangat erat. "Dia pergi gara-gara aku Nat, kalau aja dia gak kenal aku mungkin dia gak akan pergi secepat ini. Ini semua salah aku," jelas Aleta.
"Ini udah takdir Sayang. Kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri," ujar Nata pelan.
"Aku takut kamu juga bakal pergi ninggalin aku, aku gak mau kalau itu sampe terjadi Nat. Aku takut kehilangan kamu," ungkap Aleta.
Nata mengecup pelan pucuk kepala Aleta. "Aku gak bakal pergi ninggalin kamu Sayang. Aku bakal selalu ada di samping kamu sampe kita menua bersama nanti," jelas Nata.
Nata menyesal telah menanyakan tentang Alvaro pada Aleta. Seharusnya tadi ia tidak bertanya apa-apa pada Aleta. Ia menyesal karena membuat wanita yang ia sayangi menangis seperti ini.
Rasa cemburu yang tadi hinggap di hati Nata kini hilang begitu saja. Ia malah merasa bersalah pada Aleta karena mengingatkan Aleta pada masa lalunya.
"Maaf," lirih Nata pelan sambil menundukkan kepalanya.
Aleta tersenyum tipis. Ia bersyukur karena kini ada Nata di hidupnya, ia bahagia dengan kehadiran Nata di hidupnya. Nata merubah hidupnya yang begitu suram menjadi lebih berwarna.
Aleta mengelus rambut Nata. "Gak papa Nat. Kamu gak perlu minta maaf gini, kamu berhak tau masa lalu aku," ujar Aleta.
Cup!
Aleta membulatkan matanya saat tiba-tiba Nata mengecup bibirnya. Pipinya terasa panas dan jantungnya berdebar dengan sangat cepat.
Aleta melirik Nata yang sedang tersenyum ke arahnya. Apa Nata sudah gila?! Dia telah mencium bibirnya tapi dia tidak memperlihatkan tampang berdosanya sama sekali.
Nata terkekeh pelan lalu ia mencubit pelan pipi Aleta. "Ternyata bener ya dugaan aku. Kamu bakal langsung berhenti nangis kalau dicium," ujar Nata.
Aleta memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil. Ia merasa sangat malu, kenapa Nata selalu bisa menggodanya seperti ini. Mungkin saat ini pipinya merah seperti kepiting rebus.
Aleta melirik Nata. Nata masih saja menatapnya sambil tersenyum. "Nanti aku cium aja deh kalau kamu nangis lagi," ujar Nata sambil menaik turunkan alisnya.
Aleta menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu. "Udah akh Nat," ujar Aleta.
Nata lebih suka melihat Aleta salah tingkah begini daripada melihat Aleta menangis, ia sama sekali tidak suka jika melihat Aleta menangis, itu membuat hatinya terasa sesak. Aleta sangat menggemaskan jika sedang salah tingkah begini.
Nata mengacak pelan rambut Aleta. "Jangan nangis lagi ya, nanti kalau kamu nangis lagi aku bakal cium kamu lagi," goda Nata yang semakin membuat pacuan jantung Aleta tidak terkontrol sampai rasanya ingin meledak-ledak.
"Aku gak suka ngeliat kamu nangis. Kamu nangis makin gemesin tau gak buat aku gak tahan buat cium kamu," Nata semakin gencar menggoda Aleta.
Aleta mendengus kesal. Ia melayangkan cubitan-cubitan kecil untuk Nata. "Ish, nyebelin banget sih kamu Nat. Hobi banget godain aku. Aku malu tau," ujar Aleta jujur.
Mereka terus bercanda di dalam mobil sampai Nata melajukan kembali mobilnya.
👑
Ada yang nunggu aku next lagi gak nih?