Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 44}



Happy Reading ❤


Maaf kalau banyak yang typo ❤


👑


Aleta mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia terus menggumamkan nama Nata. "Nata... Nata..." lirih Aleta.


Nata menggenggam tangan Aleta. Ia mengelus pucuk kepala Aleta. "Gue di sini Ta," ujar Nata lembut.


Aleta tersenyum tipis saat melihat Nata duduk di sampingnya. Aleta memperhatikan luka di wajah Nata. Aleta mengulurkan tangannya menyentuh pelan luka di pelipis Nata. "Kenapa belum diobatin?" tanya Aleta dengan nada parau.


Nata tersenyum tipis. "Gue maunya lo yang ngobatin," jawab Nata.


Nata membantu Aleta untuk duduk. Aleta turun dari ranjangnya. "Sekarang ganti posisi. Kamu duduk di ranjang dan aku bakal duduk di sini. Aku bakal obatin luka kamu," ujar Aleta.


"Lebih baik lo istirahat aja dulu Ta," pinta Nata.


Aleta menggelengkan kepalanya. "Luka kamu harus cepet diobatin Nat, emang kamu gak ngerasa kesakitan apa? Aku tau kamu pasti kesakitan. Bentar ya, aku mau minta obat merah, kapas, sama plester ke Suster," ucap Aleta panjang lebar.


Saat Aleta mau melangkahkan kakinya, Nata mencekal pergelangan tangannya. "Gak usah. Biar gue yang minta itu ke Suster, lo istirahat aja," cegah Nata.


Aleta menghembuskan napas pelan. Ia menggenggam kedua tangan Nata, lalu ia tersenyum. "Aku gak papa Sayang. Kamu yang harusnya istirahat Nat," Aleta menarik Nata berdiri, lalu ia mendudukan Nata di ranjang rumah sakit. "Tunggu di sini, jangan kemana-mana," peringat Aleta.


Aleta meminta obat merah, kapas, dan juga plester pada suster. Suster itu langsung memberikan apa yang diminta Aleta tanpa bertanya untuk apa.


Nata melihat Aleta berjalan mendekatinya. Aleta duduk di depan Nata. "Aku obatin luka kamu dulu ya Nat," ujar Aleta.


"Tunggu," Aleta mengerutkan keningnya bingung saat melihat Nata berdiri lalu berdiri di belakangnya. Nata menarik kunciran Aleta, ia merapihkan rambut Aleta dengan telaten. "Gue gak suka ngeliat rambut lo nutupin kecantikan lo," ungkap Nata jujur.


Nata kembali duduk di atas ranjang di depan Aleta. "Silahkan obatin gue," ujar Nata tersenyum.


Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hmm... Apa aku boleh liat luka-luka yang kamu dapet Nat? Aku yakin luka yang kamu dapet gak hanya di wajah kamu," ujar Aleta.


Nata menghembuskan napas kasar. Ia melepaskan kaosnya, lalu ia berbalik membelakangi Aleta.


Aleta membekap mulutnya dengan kedua tangannya, ia sangat terkejut saat melihat punggung Nata yang membiru. Itu pasti sangat sakit. Tapi kenapa Nata seperti tidak merasakan apapun?


Tanpa aba-aba Aleta berdiri lalu memeluk Nata. "Pas-ti sak-it kan Nat," ujar Aleta gemetar sambil terisak.


Nata membalas pelukan Aleta. Ia mengelus punggung Aleta bermaksud ingin menenangkan Aleta. "Gak papa Ta, gue baik-baik aja. Selama ada lo di sisi gue, rasa sakit ini bakal hilang dengan sendirinya. Makannya, jangan pernah pergi dari hidup gue," gumam Nata.


Nata melepaskan pelukan Aleta. Ia menatap Aleta yang masih menangis. Nata menghapus air mata Aleta. "Hei, kenapa nangis? Gue gak papa. Jangan nangis Sayang," jelas Nata lembut.


Aleta memalingkan wajahnya ke arah lain. Kenapa disaat seperti ini Nata masih saja bisa menggodanya.


Nata tersenyum tipis. Ia menggengam kedua tangan Aleta lalu ia mengelus tangan Aleta. "Lo tetep cantik ya walaupun nangis gini," goda Nata.


Aleta mendengus pelan. "Udah akh Nat. Aku mau minta salep dulu ke Suster buat diolesin ke punggung kamu biar cepet sembuh," tanpa menunggu persetujuan Nata, Aleta langsung berbalik pergi.


Setelah beberapa menit, Aleta kembali dengan membawa salep di tangannya. "Balik badan, terus buka kaos kamu. Aku mau olesin salep ke punggung kamu," perintah Aleta.


Nata langsung menurut. Ia membalikan badannya membelakangi Aleta lalu ia melepaskan kaosnya. Aleta meringis pelan melihat punggung Nata. "Maaf ya kalau sakit," ujar Aleta. Aleta mengoleskan salep itu dengan sangat hati-hati.


"Udah selesai. Pake baju kamu terus balik badan," perintah Aleta. Nata kembali menurut. Ia menggunakan kembali kaosnya lalu berbalik menghadap Aleta.


Nata mengulurkan tangannya lalu mengelus pucuk kepala Aleta. "Makasih ya," ungkap Nata tulus.


Aleta hanya tersenyum menanggapinya. Aleta meneteskan obat merah ke kapas, ia mengobati luka di wajah dan di tangan Nata dengan sangat hati-hati.


Aleta menempelkan plester di pelipis Nata. Setelah ia selesai menempelkan plester itu, ia mengecup plester itu. "Cepet sambuh," ujar Aleta pelan.


Nata tersenyum. Ia menarik Aleta ke dalam dekapannya. "Makasih, karena lo masih ada di sisi gue walaupun gue udah bersikap jahat sama lo. Gue sayang banget sama lo Ta, jangan pergi. Kali ini, gue gak bakal biarin lo pergi ataupun ngelepasin lo lagi, gue bakal perjuangin lo apapun yang terjadi," ungkap Nata panjang lebar.


👑


Seneng gak ngeliat Nata sama Aleta mesra-mesraan lagi? 😂


Gimana perasaan kalian di part ini?


Next gak nih?