
Happy Reading ❤
👑
Nata membuka matanya. Ia melirik jendela, ternyata sudah pagi. Nata berdiri dengan perlahan-lahan, ia keluar dari kamar. Lukanya masih terasa perih, tapi ia tetap menahan rasa sakitnya.
Aleta tersenyum tipis ketika melihat Nata yang sudah bangun. Aleta menghampiri Nata, ia melingkarkan tangan kanan Nata di pundaknya, "kamu masih kesakitan, gak ada salahnya kalau aku bantu kamu jalan. Jangan marah-marah dulu masih pagi," ungkap Aleta.
Nata menghembuskan napas pelan, ia memang tadinya mau memarahi Aleta karena tiba-tiba Aleta memegang tangannya dan melingkarkannya di pundaknya. Tapi, ia urungkan niat itu. Ia membiarkan Aleta membantunya berjalan. Padahal Nata kuat untuk berjalan sendiri.
Aleta membantu Nata untuk duduk di sofa. Nata melirik laki-laki yang duduk di hadapannya. Sepertinya laki-laki itu Papa Aleta, "hai, saya Dani. Saya Papanya Aleta," jelas Dani tersenyum tipis pada Nata.
"Dia Papa aku Nat, Papa aku jarang pulang karena dia harus kerja di luar kota. Dia Nata Pa, dia temen aku," jelas Aleta.
"Papa kira dia pacar kamu," ujar Dani. Aleta langsung menggelengkan kepalanya, "apaan sih Pa, dia cuma temen aku. Lagian dia juga udah punya orang spesial," sahut Aleta.
Dani tersenyum lebar, "ceritanya anak Papa lagi ngode nih kalau anak Papah ini cemburu karena Nata punya orang spesial," tebak Dani sambil terkekeh pelan.
Aleta merasa pipinya terasa panas, ia menatap Dani sebal, "ih, apa sih Pa. Udah akh, aku mau bantuin Mama buat sarapan," Aleta melirik Nata, "Nat, aku bantuin Mama buat sarapan dulu ya," ucap Aleta.
"Iya," jawab Nata acuh. Nata mengambil handphone di saku celananya, Ia mengirimkan pesan pada Julian agar menjemputnya di rumah Aleta.
Suasana diantara Dani dan Nata terasa canggung. Mereka tidak tahu mau membahas tentang apa. Dani menatap Nata, "kenapa wajah kamu babak belur gitu, kamu dipukulin sama siapa?" tanya Dani, memecahkan keheningan diantara mereka.
"Saya gak kenal mereka Om. Tiba-tiba mereka mukulin saya gitu aja, dan mereka juga bawa motor saya pergi," jelas Nata.
Dani berdiri dari duduknya. Ia beralih duduk di samping Nata, ia memperhatikan lebam di wajah Nata, "masih sakit banget gak? Kalau masih sakit banget bilang aja, nanti luka kamu diobatin lagi. Kalau perlu di bawa ke dokter," terang Dani perhatian.
Perasaan Nata tiba-tiba menghangat karena Dani memberikan perhatian kecil padanya. Nata tidak pernah mendapatkan perhatian itu dari Papanya.
"Saya udah gak papa ko Om. Makasih atas perhatiannya Om," ungkap Nata tulus.
Dani tersenyum tipis, Dani bisa melihat kesedihan dari sorot mata Nata. Dani mengelus punggung Nata, "sepertinya kamu ada masalah. Apapun masalah kamu, kamu pasti bisa menyelesaikannya," jelas Dani.
Aleta kembali dengan membawa dua piring nasi goreng di tangannya. Ia meletakan kedua piring itu di atas meja makan, "Pa, Nat. Ayo makan," ajak Aleta.
"Mama mana Sayang?" tanya Dani.
"Katanya Mama lagi gak enak badan Pa. Mamah lagi istirahat di kamarnya," jawab Aleta.
"Papa nanti aja sarapannya sama Mama. Kamu sarapan aja duluan sama Nata, Papa ke kamar dulu nemuin Mama," jelas Dani. Sebelum melangkah pergi, ia mengecup kening Aleta.
Padahal, Aleta bukan anak kandung Dani dan Milka. Ia hanya anak tiri mereka, tapi Aleta bersyukur karena mereka menyayangi Aleta seperti Aleta yang juga menyayangi mereka.
Aleta mengambil sepiring nasi goreng yang ia taruh di atas meja tadi. Ia membawa piring itu ke Nata, "nih Nat," Aleta menyodorkan sepiring nasi goreng itu di depan Nata.
Saat Nata mengambil piring itu menggunakan tangannya, tangannya tiba-tiba terasa sakit dan tanpa sengaja ia menjatuhkan sepiring nasi goreng itu di lantai. Piring itu pecah.
Dengan bodohnya Aleta menginjak pecahan piring itu, ia tidak menyadari tindakan bodohnya. Aleta memegang tangan Nata, "Nat, kenapa? Tangan kamu sakit ya? Mau aku obatin?" ucap Aleta cemas.
Aleta baru menyadari kalau tadi ia menginjak pecahan piring dan menyebabkan kakinya berdarah. Ada beberapa beling yang tertancap di kakinya.
Aleta mulai merasakan sakitnya, "sakit Nat," lirih Aleta. Aleta tersentak ketika tiba-tiba Nata mengangkat tubuhnya ala brsytle. Aleta reflek mengalungkan tangannya di leher Nata, "diem dulu jangan banyak bacot. Kalau sakit tahan aja," jelas Nata sinis seperti biasanya.
Nata benar-benar tidak habis pikir dengan Aleta. Kenapa Aleta begitu bodoh menginjak pecahan piring tadi, ia yang jadi repot harus menggendong Aleta.
Nata membuka pintu kamar Aleta. Ia membaringkan Aleta di atas kasur, "bentar, gue ambil kotak P3K dulu," Nata melangkah keluar mengambil kotak P3K yang ada di kamar yang ia tempati tadi malam.
Aleta merasakan jantungnya yang berdetak dengan cepat. Aleta membayangkan saat tadi ia ada di pangkuan Nata dan saat Nata menggendongnya, ia merasakan panas di pipinya.
Nata kembali dengan membawa kotak P3K. Nata duduk, ia mengangkat kedua telapak kaki Aleta dan menaruhnya di pangkuannya.
"Maaf kalau sakit," Nata mulai mencabuti Pecahan beling yang tertancap di telapak kaki Aleta. Aleta meringis pelan, rasanya benar-benar sakit.
Aleta melirik Nata yang terlihat serius mengobati lukanya. Aleta tersenyum tipis, ia tidak menyangka Nata akan peduli dengan keadaanya.
Nata membalut telapak kaki Aleta dengan perban, "udah selesai," ucap Nata.
"Cie, soswit banget sih Abang Nata," sahut Julian. Julian terkekeh pelan di depan pintu kamar Aleta.
Nata terkejut dengan kehadiran Julian, "sejak kapan lo di situ?" tanya Nata.
"Sejak tadi. Gue sebagai jomblo merasa iri dengan kemesraan kalian," jelas Julian. Julian mendekat ke arah Aleta dan Nata.
Julian melirik kaki Aleta yang ada di pangkuan Nata, "ih, soswit banget sih," ucap Julian dramatis sambil menunjuk kaki Aleta yang ada di pangkuan Nata. Nata mendengkus kesal, "bacot. Lo mau gue tampol ya," kesal Nata.
Nata mengangkat kaki Aleta dengan hati-hati, ia berdiri dan menaruh kaki Aleta kembali ke atas kasur, "gue mau pulang dulu. Jangan banyak gerak, lain kali jangan ceroboh. Lo nyusahin banget tau gak," sinis Nata.
"Makasih Nat," ucap Aleta tersenyum. Nata mengabaikan ucapan terima kasih itu, ia langsung keluar dari kamar Aleta.
Julian masih di tempatnya, ia tidak beranjak sedikitpun. Julian melirik Aleta, "makasih ya Ta, karena lo udah jagain Nata. Gue pergi dulu, maaf tadi gue nyelonong masuk aja ke rumah lo. Semoga cepet sembuh ya kaki lo," ungkap Julian tersenyum.
Nata mengetuk pintu kamar Dani dan Milka. Ia ingin berpamitan pada mereka. Setelah beberapa menit kemudian, Dani membuka pintu kamarnya, "ada apa Nata?" tanya Dani.
"Saya mau pamit pulang Om. Hmm, kaki Aleta tadi kena pecahan beling Om. Saya udah obatin kakinya, tapi sebaiknya Aleta di bawa ke dokter aja Om takutnya kenapa-napa," terang Nata.
Dani tersenyum tipis. Sepertinya, Nata juga menaruh rasa pada Aleta. Terlihat sekali kalau Nata khawatir dengan keadaan Aleta dari raut wajahnya, "nanti Om ke kamar Aleta. Kamu pulang sama siapa? Mau dianterin aja gak?" tawar Dani.
Nata menggelengkan kepalanya, "gak usah Om. Saya pulang bareng temen, saya permisi ya Om. Sampein salam saya buat Tante ya Om," Nata menyalami punggung tangan Dani.
Dani menepuk pelan pundak Nata, "jangan kapok ya main ke sini. Hati-hati di jalan ya Nata," ujar Dani.
Julian menatap Nata dan Dani dari kejauhan, Nata telihat sedikit semangat menjalani hidupnya, "kayanya Aleta benyak ngasih perubahan ke Nata. Syukur deh kalau Nata semangat lagi menjalani hidupnya," gumam Julian.
👑
makasih udah mau mampir ❤