
Happy Reading ❤
👑
Aleta berjalan dengan lesu ke arah kelasnya. Iris, Icha, dan Sisil sudah menunggu Aleta di depan kelas. Mereka ingin tahu keadaan Aleta karena kemarin mereka tidak bertemu dengan Aleta setelah kejadian di kantin itu.
Saat Iris melihat Aleta, ia langsung berlari ke arah Aleta. Ia memeluk tubuh Aleta, "Aleta, lo gak papa?" tanya Iris.
Iris melepaskan pelukannya. Icha dan Sisil ikut mendekati Aleta, "aku udah gak papa," jelas Aleta tersenyum.
Icha menggenggam tangan Aleta, "kita khwatir banget sama lo. Beneran lo udah gak papa? Maaf ya karena kita gak bisa jagain lo saat Diva jambak rambut lo," jelas Icha merasa bersalah.
Aleta tersenyum tipis, ia menarik tangan Icha. Ia memeluk Icha, ia sangat senang saat bisa mempunyai teman yang menyayanginya seperti Icha, Sisil, dan Iris, "aku udah gak papa," lirih Aleta.
Sisil dan Iris ikut memeluk Aleta. Mereka berpelukan di depan kelas, sampai beberapa mata memperhatikan mereka.
"Minggir. Kalau mau pelukan jangan di sini, ngehalangin jalan orang aja," sinis Nata yang baru saja datang.
Aleta tersentak ketika melihat wajah Nata yang babak belur. Terdapat darah di ujung bibirnya, dan juga terdapat lebam di pipi kanan dan kiri Nata.
Saat Aleta mau mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Nata, ia langsung mengurungkan niatnya. Ia sudah berinisiatif untuk menjauhi Nata agar ia tidak jatuh cinta terlalu dalam pada Nata. Ia harus melupakan Nata.
"Aku ke toilet dulu ya," ucap Aleta. Ia melangkah pergi menjauh dari Nata dan teman-temannya. Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati, saat ia akan berbelok ke arah koridor tubuhnya malah menabrak bahu seseorang.
"Maaf," ucap Aleta. Aleta mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah orang yang telah ia tabrak, "Arsen," lirih Aleta.
Arsen tersenyum pada Aleta, ia menepuk pelan pucuk kepala Aleta, "kenapa lo suka banget sih nabrak gue. Lo sengaja ya nabrak gue biar bisa deket sama gue," tebak Arsen sambil memperlihatkan senyum menggodanya.
Aleta mendorong bahu Arsen pelan, "ih geer," ujar Aleta.
Arsen terkekeh pelan. Ia mencubit pelan pipi kanan Aleta, "kali ini, gue gak mau maafin lo. Lo harus di hukum," terang Arsen.
Aleta mengerutkan keningnya bingung. Memangnya Arsen mau memberinya hukuman apa?
"Temenin gue makan di kantin, itu hukumannya," tanpa aba-aba Arsen langsung menarik tangan Aleta untuk melangkah bersamanya.
"Aku kan belum bilang mau. Kenapa kamu main narik tangan aku gitu aja," ucap Aleta. Arsen memberhentikan langkahnya, Aleta ikut berhenti.
Arsen menatap manik mata Aleta, "gue kasih lo dua pilihan. Pertama, temenin gue makan di kantin. Ke dua lo gue cium," Aleta langsung menarik tangan Arsen untuk melangkah ke arah kantin.
Arsen memperhatikan tangannya yang digenggam tangan mungil Aleta, "gue kira lo bakal milih pilihan ke dua. Padahal, banyak loh cewek-cewek yang minta gue cium. Tapi kenapa lo malah nolak," ungkap Arsen.
"Karena aku gak mau dicium seenaknya sama orang lain," sahut Aleta. Aleta melirik sekelilingnya, ia merasa risih karena banyak tatapan mata yang mengarah padanya.
Aleta juga sering mendapatkan tatapan sinis itu dari cewek-cewek di sekolahnya ketika ia berdekatan dengan Nata.
Aleta menjauhkan tangannya dari tangan Arsen. Ia mulai menjaga jarak, ia merasa risih karena terus ditatap sinis oleh orang-orang.
Ia akan mengabaikan tatapan sinis itu jika yang bersamanya saat ini adalah Nata. Karena, ia merasa nyaman berada di dekat Nata.
Arsen tahu apa yang dipikirkan oleh Aleta. Aleta membulatkan matanya saat Arsen merangkul pundaknya, "jangan ngomong dan jangan protes. Kalau lo ngomong satu kata aja, gue cium," ancam Arsen tepat di telinga Aleta.
Aleta menjauhkan tangan Arsen dari pundaknya, "apaan si-" Aleta tersentak ketika bibir Arsen mendarat di pipinya. Aleta mendengus kesal, kenapa Arsen berani berbuat seperti ini padanya.
Aleta mendorong tubuh Arsen kasar, "kamu apa-apaan sih!" kesal Aleta.
BRUK
Aleta membulatkan matanya saat melihat Nata tiba-tiba meninju pipi Arsen sampai Arsen terjatuh ke lantai. Sejak kapan Nata ada di sini? Kenapa Nata tiba-tiba memukul Arsen?
Nata menarik kerah seragam Arsen dengan kasar sampai Arsen kesulitan untuk bernapas, "dia milik gue. Jangan pernah berani nyentuh dia kalau lo gak mau mati di tangan gue," ancam Nata serius.
Arsen menyeringai, "dia mainan baru gue," gumam Arsen.
"*******!" umpat Nata. Nata dapat mendengar gumaman Arsen. Ia meninju pipi Arsen berkali-kali. Terjadilah perkelahian diantara mereka.
Orang-orang langsung menonton pergulatan sengit antara Arsen dan Nata. Tidak ada yang berani memisahkan mereka berdua.
Tubuh Aleta bergetar. Ia takut saat melihat Nata yang memukuli Arsen tanpa ampun. Nata seperti kesetanan. Tatapan mata Nata sangat menakutkan, sampai ia tidak berani untuk melerai perkelahian diantara mereka.
Aleta melirik sekelilingnya yang sudah penuh dengan murid-murid yang menonton pergulatan antara Arsen dan Nata. Kenapa mereka diam saja? Aleta bertanya-tanya tentang hal itu.
Arsen sudah tidak berdaya. Ia terbaring di lantai dengan napas yang tidak stabil dan wajah yang babak belur karena Nata.
Wajah Nata juga hancur. Lebam dan luka yang beberapa waktu lalu ia dapatkan saja belum ia obati, dan sekarang ia mendapatkan lebam dan luka baru di wajahnya karena Arsen.
Saat Nata mengambil ancang-ancang untuk meninju wajah Arsen, Aleta memeluknya dari samping, "udah Nat. Jangan kaya gini, kamu bikin aku takut," lirih Aleta dengan nada yang gemetar.
Nata bisa merasakan tubuh Aleta yang bergetar hebat. Nata menghembuskan napas pelan, ia membalas pelukan Aleta dan mengusap punggungnya, "maaf kalau gue bikin lo takut. Maaf, gue cuma gak mau lo deket sama cowok lain selain gue, karena gue sayang sama lo Aleta," gumam Nata.
👑
Tunggu chapter selanjutnya ya ❤