Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 42}



Happy Reading ❤


Maaf kalau ada yang typo ❤


Jangan malu-malu buat komen, aku suka kalau kalian komen. Yang mau ngehujat Putra atau Arsen dipersilahkan😂


👑


Nata melirik ke arah pintu, ia melihat Aleta yang sedang memandanginya. "Aleta," panggil Nata.


Aleta mendekati Nata. Ia tersentak melihat wajah Nata yang babak belur, terdapat luka sobek di pelipis, pipi, dan sudut bibir Nata. Ia juga melihat bercak darah di seragam sekolah Nata.


Aleta mengelus pelan pipi Nata. "Kenapa kamu bisa kaya gini Nat?" tanpa sadar air mata Aleta terjatuh. Ia tidak suka melihat Nata terluka.


Nata menepis tangan Aleta yang berada di pipinya dengan kasar. "Pergi!" perintah Nata.


Aleta menggelengkan kepalanya. "Gak. Aku bakal tetep di sini, aku mau obatin luka kamu," ujar Aleta.


Aleta melirik lantai. Ia memejamkan matanya saat melihat darah di lantai, ia yakin kalau itu darah Nata. Siapa yang berbuat sekejam ini pada Nata? Aleta ke rumah Nata karena ia ingin bicara dengan Nata tentang hubungan mereka. Tapi kenapa ia malah melihat keadaan Nata seperti ini?


Nata melirik kamar Putra. Ia takut Putra keluar dari kamarnya. "Pergi Aleta!" ujar Nata dengan tatapan tajam.


"Aku gak mau Nat. Aku gak mau, aku pengen di sini nemenin kamu, aku pengen obatin luka kamu," ungkap Aleta.


Nata menghembuskan napas kasar. "PERGI DARI SINI! GUE GAK MAU NGELIAT LO LAGI!" bentak Nata.


Perasaan Nata terasa sesak saat ia sadar baru saja membentak Aleta. "Maafin gue Ta. Gue cuma gak mau Papa tau lo ada di sini, gue takut Papa lukain lo," batin Nata.


Aleta hanya diam. Jujur saja ia sedikit takut saat Nata membentaknya, tapi ia akan tetap berada di sini. Ia tidak mau meninggalkan Nata, ia takut Nata kembali dilukai.


Putra yang sedang serius berkutik dengan leptopnya merasa terganggu karena suara Nata yang keras. Putra menaruh leptopnya. "Ada apa lagi sih sama anak itu!" jengkel Putra.


Arsen menatap Aleta dan Nata dari kamarnya. Ia akan keluar dari kamarnya jika waktunya sudah tepat.


Aleta membalikan badannya saat mendengar suara langkah kaki dari arah belakangnya. Ia melihat Putra berjalan mendekatinya. Aleta merentangkan tangannya ketika Putra sudah berdiri di depannya. "Jangan sakitin Nata. Aku tau, Om kan yang udah nyakitin Nata," tegas Aleta.


Putra tersenyum sinis, ia menatap Nata yang berada di balik punggung Aleta. "Anak brengsek, kamu ngadu sama Aleta kalau Papa mukulin kamu. Cih, pecundang," ketus Putra.


Aleta mengepalkan kedua tangannya. Emosinya mulai memuncak saat Putra memanggil Nata anak brengsek. Apa dia tidak mikir kalau Nata itu anaknya?


"Pergi Ta. Lo ngapain sih ada di sini, cepetan pergi," ujar Nata dengan nada pelan.


Arsen keluar dari kamarnya mendekati Putra. "Hai Aleta," sapa Arsen lembut.


Aleta melirik Arsen tak suka. "Apa lo!" sinis Aleta.


Putra mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa kesal karena Aleta bersikap sinis pada Arsen.


Aleta melangkah ke samping, lalu ia mundur tepat di samping Nata. Aleta memegang jari tangan Aleta. Sebenarnya ia ingin sekali menggenggam tangan Nata, tapi Aleta menyadari kalau tangan Nata juga terluka, ia tidak mau membuat luka itu semakin menyakitkan.


"Tentu saja saya pilih Nata. Saya tidak akan mau bersama iblis seperti Arsen," terang Aleta.


Putra membulatkan matanya. Nata maju di depan Aleta, ia menyembunyikan Aleta di balik punggungnya.


Putra mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya sudah memuncak, kalau saja Aleta bukan perempuan sudah pasti ia akan menghabisinya sekarang juga karena berani menyebut Arsen iblis.


"APA MAKSUD KAMU MANGGIL ANAK SAYA IBLIS? HAH! YANG PANTES DISEBUT IBLIS ITU COWOK YANG ADA DI DEPAN KAMU! ARSEN ITU SEPERTI MALAIKAT, YANG IBLIS ITU DIA," murka Putra sambil menunjuk Nata.


Nata merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. Kenapa Putra tega mengatainya iblis. Apa ia seburuk itu di mana Putra?


Nata menunduk. "Maaf kalau di mata Papa aku kaya iblis. Aku bakal berusaha bersikap lebih baik lagi supaya Papa gak samain aku dengan iblis atau memanggil aku brengsek lagi," ujar Nata, air mata yang sedari tadi ia bendung kini sudah menetes di lantai.


Aleta sudah tidak tahan dengan semua ini. Ia maju ke depan Putra. "Om sadar gak sih apa yang baru Om ucapin ke anak Om sendiri!" bentak Aleta.


Nata menarik tangan Aleta kebelakang. "Jangan bentak Papa aku Ta," peringat Nata.


Aleta menatap Nata dengan tatapan tidak percaya. Kenapa Nata masih saja baik pada Putra padahal Putra sudah bersikap keterlaluan padanya. "Kamu kenapa sih Nat! Harusnya kamu marah sama Papa kamu! Kenapa kamu malah tetep baik sih sama dia!" kesal Aleta.


"Karena gue sayang banget sama Papa. Gue gak mau Papa terluka gara-gara sikap gue atau kata-kata gue Ta," jelas Nata.


Putra diam di tempatnya. Ia mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Nata, kenapa tiba-tiba hatinya merasa bersalah karena bersikap keterlaluan pada Nata.


"Pa. Aku gak papa kok relain Aleta buat Nata. Kalau Nata bahagia aku juga bakal bahagia kok Pa," bisik Arsen.


"Gak. Papa pengen liat kamu bahagia sama orang yang kamu cintai Arsen. Kamu yang pantas bahagia, bukannya Nata," ujar Putra.


"Aleta, kamu harus bersama Arsen!" tegas Putra.


Aleta menatap Putra dengan tatapan tajam. "Aku maunya sama Nata, udah deh Om jangan maksa-maksa aku buat sama Arsen," sinis Aleta.


Putra menggeram kesal. "Nata itu cuma cowok brengsek yang suka bikin masalah. Lebih baik kamu sama Arsen aja, kamu akan bahagia jika bersama Arsen. Kamu akan terluka jika terus bersama Nata!" tegas Putra.


"Dasar orang tua gila," geram Aleta.


"Apa yang diomongin Papa gue bener Ta. Gue cuma cowok brengsek yang suka bikin masalah, gak seharusnya lo milih gue Ta," lirih Nata.


👑


Aku kesel dan sedih pas bikin part ini. Kalau perasaan kalian gimana pas baca part ini?


Gimana kabar kalian? Semoga baik-baik aja ya, jaga kesehatannya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan stay with home 😁❤


Next gak nih?