
Happy Reading ❤
Maaf kalau banyak typo❤
Jangan malu-malu buat komen 😁❤
👑
Nata menatap Alveno dengan tatapan datar. "Minggir," sinis Nata.
Alveno masih diam di tempatnya. "Biar gue yang gendong Aleta," ujar Alveno.
Nata menghembuskan napas kasar. "Gak," jawab Nata singkat dan jelas. Ia melangkah ke arah kiri Alveno.
Alveno mengikuti langkah Nata. Aleta melirik Alveno. "Pergi," ucap Aleta tanpa suara. Alveno mengerti apa yang dikatakan oleh Aleta. Tapi Alveno tetap mengikuti langkah Nata, ia tidak mau pergi begitu saja.
Nata memasuki UKS. Ia menidurkan Aleta di ranjang UKS dengan hati-hati. Nata membalikan badannya, ia manatap Alveno yang berdiri di pintu UKS. "Jaga dia, obatin lukanya," ujar Nata.
"Aduh, sakit," rintih Aleta. Nata langsung membalikan badannya, ia mendekati Aleta. Aleta memegangi pelipisnya yang terluka. "Lo kenapa?" tanya Nata khawatir.
"Sakit. Rasanya perih banget," lirih Aleta yang masih memegangi pelipisnya yang terluka.
Nata menyingkirkan tangan Aleta dari pelipisnya. Nata mencondongkan wajahnya di pelipis Aleta, ia meniup-niup pelan luka Aleta. "Jangan terluka Ta, gue gak suka," lirih Nata.
Nata menegakkan tubuhnya. Lalu ia berbalik mencari kotak P3K. Alveno mendekati Aleta. "Lo gak papa Ta?" tanya Alveno.
Aleta tersenyum tipis. "Aku gak papa. Aku laper No, bisa beliin aku makanan gak," pinta Aleta.
Alveno tersenyum tipis. Ia mengelus pucuk kepala Aleta. "Oke. Gue tinggal bentar ya," ujar Alveno lembut. Alveno melirik Nata yang sedang mencari kotak P3K di lemari obat.
"Nata," panggil Alveno. Nata menolehkan kepalanya ke arah Alveno. "Gue titip Aleta ya. Gue minta tolong obatin luka Aleta, terus hati-hati juga ngobatinnya," pinta Alveno.
Nata mengangguk. Kenapa rasanya menyakitkan saat ada laki-laki lain yang peduli pada Aleta. Nata menemukan kotak P3K di dalam lemari obat itu, ia langsung mendekati Aleta. "Dia pacar lo?" tanya Nata saat Alveno sudah keluar UKS.
"Iya," jawab Aleta.
Nata menghembuskan napas pelan. Ia berusaha menyembunyikan rasa sakit yang menjalar di hatinya. "Kalian cocok. Langgeng ya," ujar Nata tanpa menatap Aleta.
Aleta memandangi Nata yang sedang menunduk. "Sampai kapan kamu bakal kaya gini Nat. Jangan nyiksa perasaan kamu sendiri Nat, tanpa kamu sadari aku juga ikut terluka," batin Aleta.
Nata membuka kotak P3K itu. Ia mencari obat merah dan juga kapas. Setelah menemukan obat merah dan kapas, ia meneteskan obat merah itu ke kapas lalu ia mengobati luka di pelipis Aleta dengan sangat hati-hati, ia tidak mau Aleta kesakitan.
Nata melirik Aleta sekilas. "Jangan ngomong, gue lagi ngobatin luka lo," cetus Nata.
Nata sudah selesai mengobati luka Aleta. Nata kembali menaruh kotak P3K itu di dalam lemari. "Nat, aku sayang kamu," ujar Aleta.
Nata tersentak, ia langsung membalikan badannya. Ia melihat tatapan sendu dari Aleta. "Aku udah tau semuanya Nat. Aku udah tau Papah kamu yang nyuruh kamu buat jauhin aku," terang Aleta.
Nata hanya diam. Ia tidak tahu harus merespon apa. Aleta turun dari ranjang UKS, dia berjalan mendekati Nata.
Nata memejamkan matanya saat Aleta memeluknya. "Aku tau kamu sayang sama aku Nat. Dan aku juga sayang banget sama kamu. Ayo berjuang sama-sama Nat, apapun yang terjadi kita harus hadepin sama-sama. Jangan kaya gini Nat, aku gak mau kehilangan kamu," lirih Aleta, mulai terisak.
Tanpa Aleta duga ternyata Nata membalas pelukannya. Nata menenggelamkan wajahnya di leher Aleta. "Gue sayang banget sama lo Ta. Gue gak mau lo terluka gara-gara gue, lebih baik lo lupain gue Ta, cowok kaya gue gak pantes buat lo," ungkap Nata.
"Gak Nat, gak. Aku cuma pengen sama kamu. Kebahagiaan aku itu sama kamu Nat. Aku mohon jangan kaya gini Nat, ayo berjuang sama-sama," ujar Aleta sambil terisak.
Nata mengeratkan pelukannya. Rasanya ia ingin sekali menghentikan waktu yang sedang berjalan, ia ingin terus memeluk Aleta seperti ini. Ia tidak mau melepaskan Aleta.
"Gue gak mau Papa lukain lo Ta. Lebih baik gue yang terluka, lo harus selalu bahagia Ta," lirih Nata.
Aleta merasakan lehernya yang terasa basah. Apa Nata menangis?
Aleta melepaskan pelukannya. Ia menjauhkan tubuh Nata pelan. Sekarang Aleta melihat dengan jelas kalau Nata sedang menangis.
Aleta menggenggam kedua tangan Nata dengan erat. "Aku gak bakal biarin kamu terluka sendirian Nat. Aku bakal selalu ada di samping kamu," jelas Aleta.
Nata menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia merasa malu karena menangis di depan Aleta.
Nata lelah dengan hidupnya. Setiap hari yang ia rasakan hanya luka yang ada di dalam hatinya, ia juga ingin mendapatkan kebahagiaannya.
Nata sudah menemukan kebahagiaannya, yaitu Aleta. Apa sekarang ia harus melepaskan kebahagiaan itu atau ia akan mempertahan kebahagiaan itu, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Tanpa Nata dan Aleta sadari ada seseorang di luar UKS yang sedang memotret mereka. "Liat aja, setelah ini hidup lo bakal hancur Nat," gumam orang itu. Ia langsung berbalik pergi.
👑
Kok aku nangis ya bikin part ini 😂 menurut kalian part ini gimana?
Apa kabar? Sehat selalu ya buat kalian ❤ jaga kesehatannya, stay with home ❤
Next gak nih?