Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 20}



Happy Reading ❤


👑


Nata berdiri di depan tiang bendera saat matahari sangat terik. Ia tidak memperdulikan saat orang-orang menatapnya dengan bingung. Mungkin orang-orang itu bertanya-tanya kenapa Nata berdiri di depan tiang bendera saat jam istirahat.


Aleta berjalan mendekati Nata yang masih berdiri di depan tiang bendera saat jam istirahat sudah selesai. Hanya ada beberapa orang yang masih berada di luar kelas.


"Nat," panggil Aleta. Nata menolehkan kepalanya ke belakang, "lo ngapain di sini?" tanya Nata.


Aleta sudah berdiri di samping Nata. Ia melihat keringat bercucuran di pelipis Nata. Aleta mengulurkan tangannya lalu mengelap keringat Nata, "aku mau nemenin kamu di sini. Aku juga bawa roti buat kamu makan," jelas Aleta.


Aleta memang membawa roti di tangan kirinya. Bukan hanya roti, ia juga membawa air mineral untuk Nata. Nata tersenyum tipis, ia memegang tangan Aleta yang masih berada di pelipisnya, "makasih," ucap Nata.


Aleta mengangguk. Nata melirik rambut Aleta yang terurai, "lo gak punya kunciran?" tanya Nata.


"Ada kok," Aleta meronggah saku seragam sekolahnya, ia memang sering menaruh kunciran rambut di saku seragam sekolahnya. Aleta akan memakainya jika ia mau.


Aleta menyodorkan kunciran itu pada Nata, "emangnya buat apa Nat?" tanya Aleta bingung.


Nata hanya diam. Ia mengambil kunciran itu dari tangan Aleta. Nata melangkahkan kakinya ke belakang Aleta. Nata menyisir rambut Aleta menggunakan tangannya.


Aleta hanya diam ketika Nata menguncir rambutnya. Jantung Aleta berdetak sangat cepat. Kenapa Nata selalu bisa membuat jantungnya seperti lari maraton.


Setelah selesai menguncir rambut Aleta. Nata membuka kancing seragamnya dan melepaskannya. Terlihatlah kaus hitam yang melekat di tubuh Nata, Nata melampirkan seragam sekolahnya di atas kepala Aleta, "lo gak boleh kepanasan," bisik Nata tepat di telinga Aleta.


Debaran jantung Aleta semakin menggila. Aleta merasakan panas di pipinya, mungkin sekarang pipinya sudah semerah tomat.


Nata kembali berdiri di samping Aleta, "gue laper," ujar Nata. Aleta langsung menyodorkan roti yang ia bawa tadi pada Nata, "nih, makan Nat," ucap Aleta.


Nata mengambil roti itu. Ia membuka bungkus roti itu, Nata menyimpan bungkus roti itu di saku celananya. Ia tidak mau membuang sampah sembarangan dan merepotkan petugas kebersihan.


Nata memperhatikan roti yang sedang ia pegang. Ia melirik Aleta yang sedang menatapnya, "makan," Nata menyodorkan roti yang berbentuk kotak itu di depan bibir Aleta.


"Gak Nat. Itu buat kamu, kamu aja yang makan. Lagian aku udah makan," Nata menggelengkan kepalanya, "lo yang harus makan duluan, gue gak nerima penolakan," tegas Nata.


"Oke, aku bakal makan rotinya sedikit," saat Aleta mau mengambil roti itu dari tangan Nata, Nata malah menjauhkan roti itu darinya. Aleta mengernyit, kenapa Nata ngejauhin rotinya? Itulah pertanyaan yang ada di dalam benaknya, "buka mulut lo, biar gue suapin," jelas Nata.


Aleta terkejut dengan ucapan Nata. Kenapa tiba-tiba Nata mau menyuapinya? Saat Aleta masih terdiam dalam keterkejutannya, Nata menyentuh bibir bawah Aleta menggunakan ibu jarinya, "kenapa diem aja. Buka mulut lo, lo harus makan rotinya," ucap Nata lembut.


Aleta membuka mulutnya. Nata tersenyum tipis, "gigit," perintah Nata saat setengah roti itu masuk ke dalam mulut Aleta, Aleta langsung menggigitnya dan mengunyahnya.


Nata tersenyum lebar. Ia mencubit pelan pipi Aleta, "lo gemesin banget sih," ujar Nata. Aleta langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, ia merasa malu, "jangan ngomong kaya gitu. Aku malu," lirih Aleta.


Nata terkekeh pelan. Nata langsung terdiam saat melihat Rina yang berdiri tidak jauh darinya. Rina melangkahkan kakinya ke arah Nata dan Aleta, "Nata, harusnya kamu hormat ke tiang bendera, bukannya malah ketawa-ketawa! Kamu juga Aleta, ngapain kamu di sini!" bentak Rina.


Aleta meneguk ludahnya. Ia merasa takut saat melihat raut wajah Rina yang terlihat marah. Nata maju ke depan Aleta, ia menyembunyikan Aleta di balik punggungnya, "jangan berani ngebentak Aleta!" cetus Nata.


Rina melirik roti yang ada di tangan Nata. Rina tersenyum sinis, "gak tau malu banget kalian pacaran di tengah lapangan gini!" sinis Rina. Rina melirik Aleta, "kamu murid baru Aleta. Tapi sikap kamu udah kaya gini," cetus Rina.


"Saya akan memberikan hukuman pada kalian berdua. Kalian berdua harus lari keliling lapangan setiap pagi selama dua minggu!" tegas Rina.


Rina berbalik pergi meninggalkan Aleta dan Nata yang masih terdiam. Nata mengacak rambutnya frustasi, ia membalikan badannya menghadap Aleta, "maaf. Lo jadi dihukum gara-gara gue," lirih Nata.


Aleta tersenyum tipis, ia mengulurkan tangannya untuk merapihkan rambut Nata, "gak papa Nat. Jangan ngerasa bersalah gitu, aku emang salah karena udah bolos pelajaran," terang Aleta.


Aleta mengambil alih roti yang ada di tangan Nata. Nata hanya diam, ia masih merasa bersalah pada Aleta karena ia selalu membuat Aleta berada di dalam masalahnya.


Aleta menyodorkan roti itu di depan bibir Nata, "sekarang, kamu yang harus makan rotinya. Buka mulut kamu," tanpa mengatakan apapun Nata langsung membuka mulutnya. Nata memakan roti itu sampai habis tidak tersisa.


Aleta mencoba membuka tutup botol air mineral yang tadi ia bawa, tapi ia kesulitan untuk membukanya. Nata langsung mengambil botol itu dari tangan Aleta dan membuka tutup botolnya dengan mudah.


"Minum," Nata menyodorkan sebotol air mineral itu pada Aleta. Nata tersentak ketika tiba-tiba seseorang mengambil alih botol minuman itu dari tangannya, "ngapain sih kamu berduaan di sini sama dia Nat," kesal orang itu.


"Diva," lirih Aleta. Nata dan Aleta tidak tau kenapa tiba-tiba ada Diva di depan mereka. Kapan Diva datang? Itulah pertanyaan yang ada di dalam benak Nata dan Aleta.


Diva tersenyum sinis pada Aleta. Tanpa aba-aba ia langsung menyiramkan air mineral yang ada di tangannya ke wajah Aleta. Nata tersentak, ia langsung mencengkram pergelangan tangan Diva, "lo gila!" bentak Nata.


👑