Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 7}



👑


Nata berada di dalam mobil Julian. Julian yang menyetir mobilnya, ia akan mengantarkan Nata pulang ke rumahnya. Julian melirik Nata yang duduk di sampingnya, "lo yakin mau pulang ke rumah?" tanya Julian.


"Iya," jawab Nata. Nata sudah bisa menebak apa yang akan terjadi padanya saat tiba di rumahnya.


Julian memberhentikan mobilnya ketika sudah sampai di depan rumah Nata, Nata keluar dari mobil Julian, "makasih Jul," ucap Nata. Ia menutup pintu mobil Julian.


Julian belum melajukan mobilnya, ia tidak berniat untuk pergi. Ia akan turun dari mobilnya dan akan memasuki rumah Nata jika terjadi sesuatu pada Nata.


Nata memasuki rumahnya. Ia melirik sekelilingnya, Nata menghembuskan napas lega karena tidak ada orang di rumahnya. Tapi, saat Nata akan menginjakkan kakinya di tangga menuju kamarnya, suara berat Ayahnya berhasil menghentikan langkahnya, "Nata," panggil Putra.


Nata memutar bola matanya menatap Putra, "habis dari mana aja kamu sampe gak pulang kemarin, dan kenapa muka kamu babak belur gitu. Kamu berantem lagi," Putra melangkahkan kakinya mendekati Nata.


PLAK


Putra menampar pipi Nata, "apa kamu gak bosen membuat masalah terus!" bentak Putra. Ia menatap Nata tajam, Nata hanya bisa diam dan merasakan pipinya yang terasa sakit. Lukanya kemarin masih terasa sakit, dan Putra malah menamparnya.


"Nata habis mabuk-mabukan itu Pa, dia gak berani pulang karena takut dimarahin Papa," sahut Arsen.


Emosi Putra langsung memuncak, ia selalu percaya apa yang dikatakan oleh Arsen. Putra menarik kasar kerah baju Nata, "berani banget ya kamu mabuk-mabukan! Kamu mau buat citra Papa kamu jelek! Dasar anak gak berguna!" kesal Putra.


"Itu gak bener Pa," jawab Nata lembut. Ia tidak mengerti kenapa Arsen tega memfitnahnya, Nata tidak pernah berminat dengan minuman keras atau semacamnya.


"Alah, gak usah bohong kamu!" ujar Putra. Ia masih tetap mempercayai ucapan Arsen daripada Nata, "awas aja kalau kamu berani mabuk-mabukan lagi, Papa gak akan kasih kamu ampun," peringat Putra tegas.


Putra melepaskan cekalannya dari kerah baju Nata, ia langsung berbalik untuk beristirahat di kamarnya.


Arsen mendekati Nata, dia tersenyum lebar. Ia senang melihat Nata dimarahi oleh Putra, "kasian banget sih hidup lo selalu disalahin. Oh ya, gue mau bilang kalau motor lo udah gue jual. Lumayan duitnya buat gue jalan-jalan," ungkap Arsen.


Nata mengepalkan kedua tangannya. Dia sudah menduga kalau Arsen lah yang menyuruh orang-orang kemarin untuk memukulinya, ia ingin sekali menghajar wajah Arsen, tapi ia mencoba menahannya.


Arsen mendekati Nata, ia berdiri di samping Nata dan membisikan sesuatu di telinga Nata, "tadinya, gue suruh orang-orang yang mukulin lo itu buat sekalian ngebunuh lo aja biar lo bisa nyusul Ibu lo yang jalang itu," bisik Arsen tersenyum.


"***!" umpat Nata. ia tidak bisa menahan emosinya lagi, ia langsung meninju wajah Arsen. Arsen hanya diam, ia tidak berniat untuk melawan. Karena inilah rencananya.


Nata terus memukuli wajah Arsen sampai darah keluar dari hidung Arsen. Julian memasuki rumah Nata, ia tersentak melihat Nata yang seperti kesetanan memukuli Arsen.


Julian maju untuk menghentikan Nata, "Nat, udah Nat," sahut Julian. Julian sudah berusaha untuk menghentikan Nata, tapi Nata begitu sulit untuk dihentikan. Dia benar-benar seperti kesetanan.


Rina tersentak ketika melihat Nata memukuli Arsen dengan beringas, "NATA, STOP!" teriak Rina. Nata tidak berhenti, ia terus memukuli wajah Arsen. Sudah banyak terdapat memar di wajah Arsen, Arsen hanya menangkis tangan Nata tanpa mau melawannya.


Putra maju mendekati Nata lalu melayangkan pukulan di wajah Nata sampai Nata tersungkur di lantai, "STOP NATA!" tegas Putra.


Julian menghampiri Nata, "Nat, lo gak papa?" tanya Julian. Nata hanya diam, napasnya terengah-engah, dia dibantu berdiri oleh Julian.


Rina duduk di samping Arsen, ia mengelus pelan pipi Arsen yang mengeluarkan darah, "Sayang, kamu pasti kesakitan," gumam Rina. Arsen tersenyum tipis, "aku gak papa Ma," jawab Arsen pelan.


Rina menatap Nata tajam, ia berdiri dan mendekati Nata. Rina langsung menampar pipi Nata, "sudah saya bilang jangan pernah mukulin anak saya lagi! Saya sudah berusaha bersikap baik sama kamu Nata, tapi kenapa kamu kaya gini. Kenapa kamu melukai anak saya, kamu jahat Nata," ucap Rina sambil terisak.


Rina berbalik mendekati Arsen. Ia membantu Arsen berdiri, Rina menaruh tangan kanan Arsen di pundaknya. Ia akan mengobati Arsen di kamar.


Putra menatap Nata tajam, Nata hanya menunduk. Putra menarik kerah baju Nata dengan kasar, "apa kamu puas melukai Arsen! Kenapa kamu pukulin dia Nata?!" ucap Putra dengan nada tinggi.


"Arsen menghina Ibu aku Pa, dia bilang kalau Ibu aku jalang," jelas Nata pelan. Putra mengusap wajahnya kasar, ia langsung meninju wajah Nata, "apa yang salah dengan itu? Hah! Itu memng kenyataannya kalau Ibu kamu itu jalang!" murka Putra. Ia terus memukuli wajah Nata dengan beringas.


Julian mencoba untuk menghentikan Putra, "udah Om udah, Nata anak Om. Kasian Nata Om," terang Julian.


Nata hanya bisa diam saat Putra terus memukulinya, ia tidak mau melawan Putra karena Putra adalah Ayahnya. Ia menghormati Putra. Kata-kata yang Putra lontarkan tadi sungguh menggores hatinya.


Putra sudah puas memukuli Nata, ia masih menatap Nata dengan tajam, "seharusnya kamu berterimakasih karena Papa masih mau menampung kamu di sini. Kalau kamu berani memukuli Arsen sekali lagi, kamu keluar dari rumah ini!" tegas Putra.


Putra berbalik pergi meninggalkan Nata dan Julian. Ia akan melihat keadaan Arsen apakah baik-baik saja. Ia tidak akan mengampuni Nata kalau terjadi sesuatu yang buruk pada Arsen.


Julian mendekati Nata. Julian menatap Nata dengan tatapan sedih, Nata habis dipukuli kemarin, dan ia harus dipukuli lagi oleh Putra. Keadaan Nata bahkan lebih parah daripada Arsen. Nata bahkan pingsan selama beberapa saat.


Putra tidak peduli dengan keadaan Nata yang seburuk apapun, karena Putra mengutamakan Arsen daripada Nata. Dan menurut Putra, Nata pantas mendapatkan itu semua karena berani melukai Arsen.


Julian membantu Nata untuk jalan ke kamarnya, "Nat, kenapa lo gak pergi aja sih dari rumah ini. Di rumah ini gak ada yang nganggep lo Nat, mereka semua jahat sama lo," jelas Julian.


Julian membaringkan Nata di atas tempat tidurnya, "seburuk apapun perlakuan mereka ke gue. Gue tetap pengen tinggal di rumah yang sama bareng Papa gue, gue pengen buat Papa menyayangi gue seperti dia menyayangi Arsen Jul," jelas Nata.


Julian bisa melihat kesedihan dari sorot mata Nata. Julian memang sudah tahu perlakuan keluarga Nata pada Nata. Dia sudah beberapa kali menawarkan pada Nata untuk tinggal bersamanya. Tapi, Nata selalu menolaknya, dan alasannya selalu sama. Dia ingin terus tinggal bersama dengan Putra.


Julian mengobati luka-luka Nata dengan hati-hati. Julian akan selalu ada untuk Nata apapun yang terjadi, karena ia sudah menganggap Nata seperti Adiknya sendiri.


"Gue kangen Bela Jul, gue kangen banget sama dia," gumam Nata. Julian hanya diam mendengar ucapan Nata. Ia tidak berniat untuk menyahuti ucapan Nata.


👑