
Happy Reading ♥
👑
Nata belum sadar juga walaupun Bela sudah memberikannya napas buatan. Bela sangat mengkhawatirkan keadaan Nata, "telpon ambulan!" perintah Bela.
"Gue bawa mobil, bawa dia ke rumah sakit pake mobil gue aja," sahut Alveno. Bela melirik Alveno lalu mengangguk, "oke," jawab Bela.
Bela memindahkan kepala Nata di pangkuannya. Aleta hanya diam, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Bibirnya diam membisu.
Bela mengelus pipi Nata, "sabar ya Nat, kita bakal ke rumah sakit. Ayo bantu gue bawa Nata ke mobil lo," pinta Bela pada Alveno.
"Biar aku aja yang bantu," sahut Aleta. Bela melirik Aleta sekilas, "gak usah," tolak Bela.
Bela mendudukan tubuh Nata, Ia mengalungkan tangan kanan Nata ke pundaknya. Aleta tidak bisa jika hanya diam saja, ia melingkarkan tangan kiri Nata ke pundaknya.
Bela melirik Aleta, "gue kan udah bilang gak usah," cetus Bela.
Aleta menatap manik hitam mata Bela, "kamu gak berhak ngelarang-ngelarang aku," jawab Aleta datar.
Bela mengalah. Ia membiarkan Aleta membantunya membawa Nata ke mobil Alveno. Alveno membukakan pintu mobilnya, ia membantu Nata masuk ke dalam mobilnya.
Bela duduk di jok belakang bersama Nata. Ia menaruh kepala Nata di pangkuannya.
Aleta menghela napas pelan. Alveno melirik Aleta yang masih diam di pinggir mobilnya. Alveno melirik tatapan mata Aleta yang menatap Nata dan Bela.
Ia bisa melihat raut wajah Aleta yang terlihat sedih. Aleta sangat ingin duduk di samping Nata, menyenderkan kepala Nata di pundaknya. Tapi, mungkin untuk sekarang tidak bisa karena sudah ada Bela.
Alveno mendekati Aleta, ia mengacak pelan rambut Aleta, "ayo masuk, kita harus cepet bawa cowok itu ke rumah sakit," jelas Alveno.
Aleta melirik Alveno lalu tersenyum tipis, "iya," Alveno membukakan pintu mobil untuk Aleta, Aleta masuk ke dalam mobil itu.
Aleta duduk di depan bersama Alveno. Aleta tersentak ketika tiba-tiba posisi Alvin sangat dekat dengannya, Aleta menahan napasnya, "kamu mau apa?" tanya Aleta.
Alveno tidak menjawab pertanyaan Aleta. Ia memasangkan seat belt pada Aleta, lalu ia menjauhkan tubuhnya dari Aleta, "gue gak mau lo kenapa-napa," ujar Alveno.
"Buruan dong jalanin mobilnya jangan pacaran mulu," ketus Bela.
Alveno mulai melajukan mobilnya. Aleta melirik Nata dari kaca spion, kenapa Nata belum sadar juga? Ia sangat cemas.
Alveno membuka laci dasbor mobilnya, ia mengambil coklat dari laci itu. Alveno menyodorkan coklat itu pada Aleta, "nih makan, katanya coklat itu bisa ngembaliin mood cewek," ucap Alveno.
Aleta melirik Alveno, ia mengambil coklat itu dari tangan Alveno, "makasih. Makasih karena tadi kamu udah masangin seat belt ke aku. Makasih juga karena kamu mau nganterin Nata ke rumah sakit, dan maaf karena mobil kamu jadi basah," ujar Aleta.
Alveno hanya tersenyum. Ia kembali fokus menyetir. Alveno memberhentikan mobilnya ketika sudah sampai di rumah sakit.
Alveno menggendong tubuh Nata sampai masuk ke dalam rumah sakit. Seorang suster menghampiri Alveno sambil membawa kursi roda, "taro di sini aja Mas," ujar suster itu.
Alveno mendudukan tubuh Nata di kursi roda. Saat Aleta menyentuh kursi roda itu, Bela malah menyingkirkan tangannya, "biar gue yang dorong Nata," ucap Bela.
Bela langsung mendorong kursi roda Nata ke dalam ruang perawatan. Aleta hanya bisa diam sambil memandangi punggung Bela yang semakin menjauh.
Aleta melirik Alveno sekilas, Aleta tersenyum tipis, "makasih Ven," ujar Aleta tulus.
"Lo tunggu di sini bentar, jangan kemana-mana sebelum gue kembali ke sini," perintah Alveno.
Aleta mengernyitkan dahinya, "kamu mau kemana Ven?" tanya Aleta.
"Udah tunggu aja di sini, inget lo jangan kemana-mana," Alveno mulai melangkahkan kakinya pergi.
Seperti yang diperintahkan Alveno, Aleta tetap diam di tempatnya. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Alveno datang, "maaf ya kalau lama," ucap Alveno sambil terengah-engah, ia membukukan badannya dan memegangi kedua lututunya.
Aleta mengerutkan kening bingung, "kenapa kamu ngos-ngosan gitu Ven?" tanya Aleta.
"Gue abis lari-larian, gue takut lo nunggu gue kelamaan. Nih," Alveno menyodorkan pelastik putih yang berisi baju baru, "di dalem pelastik ini ada tiga baju. Buat gue, lo dan cewek satunya lagi itu," jelas Alveno.
"Lo harus ganti seragam sekolah lo yang basah, gue takut nanti lo masuk angin," ucap Alveno.
Aleta mengangguk. Ia mengambil salah satu baju dari pelastik itu, "ya udah, aku ganti baju dulu ya Van. Makasih ya Ven," ucap Aleta.
Aleta melangkahkan kakinya ke arah wc rumah sakit. Ia akan mengganti pakaiannya di wc.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Aleta berdiri di depan wastafel sambil menyisir rambutnya menggunakan tangannya.
Bela masuk ke dalam wc, ia melihat Aleta yang sedang berdiri di depan wastafel. Bela berniat mengganti bajunya yang basah, Alveno telah memberikannya baju baru.
"Hai," sapa Bela. Ia berdiri di samping Aleta sambil menyenderkan punggungnya di dinding, "gue mau bicara sama lo," ucap Bela.
Aleta melirik Bela, "itu kamu udah bicara," jawab Aleta.
"Gue mau lo jauhin Nata," ucap Bela langsung the to point. Ia tidak mau Nata dekat dengan cewek lain selain dirinya.
Aleta tersenyum sinis, "kamu gak punya hak nyuruh aku buat jauhin Nata," jawab Aleta.
Bela menatap sinis pada Aleta, ia menyilangkan tangannya di depan dada, "lo harus tau. Gue deket sama Nata udah dari kecil. Cewek kaya lo gak akan bisa gantiin posisi gue di hatinya Nata, lo cuma pelampiasan Nata doang saat Nata kesepian karena gak ada gue," jelas Bela.
"Jadi, lebih baik lo jauhin Nata sebelum sakit hati terlalu dalam," lanjut Bela.
Aleta membalikan badannya keluar wc, ia tidak membalas ucapan Bela. Aleta menganggap ucapan Bela adalah angin lalu. Aleta tidak akan pernah menjauhi Nata. Ia akan memperjuangkan orang yang ia cintai.
Bela mendengus kesal karena Aleta pergi begitu saja, "liat aja nanti, Nata bakal balik lagi sama gue," gumam Bela.
👑
Maaf banget karena aku baru bisa update, soalnya akhir-akhir ini aku sibuk😌
Next gak nih?
Komen ya biar aku semangat terus buat lanjutin ceritanya😄♥