
Happy Reading ❤
👑
Aleta menaruh kembali ponsel Nata di saku seragam sekolahnya. Aleta menghapus sisa air mata yang ada di pipinya. Aleta memandangi wajah Nata, "aku gak mau kamu jauh Nat," gumam Aleta.
Nata membuka kedua matanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memperjelas pandangannya, Nata melihat Aleta di depannya yang sedang menatapnya, "kenapa lo liatin gue gitu?" tanya Nata.
Aleta langsung mengalihkan tatapan matanya, "kamu kebo banget sih Nat, aku bangunin kamu dari tadi tapi gak bangun-bangun," ucap Aleta.
Nata berdiri. Nata maju satu langkah ke depan Aleta. Aleta tersentak, jarak Nata sangat dekat dengannya sampai wajahnya hampir saja mengenai dada bidang cowok itu kalau ia tidak memundurkan kepalanya. Ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
"Diem dulu," jelas Nata. Nata menyisir rambut Aleta yang berantakan menggunakan tangannya. Aleta terus merasakan jantungnya yang berdegup dengan kencang, "kamu lagi ngapain sih Nat," ucap Aleta.
Nata mengabaikan pertanyaan Aleta. Ia terus menyisir rambut Aleta dengan tangannya sampai rambut Aleta benar-benar rapih. Nata melangkah mundur, "udah akh, pulang yuk," ucap Nata.
"Ekh bentar, gue ambil tas lo dulu di kelas," lanjut Nata. Nata segara berlalu dari UKS meninggalkan Aleta sendirian.
Aleta memegang ujung rambutnya, ia tersenyum tipis. Nata selalu bisa membuatnya bahagia dengan cara yang tidak terduga.
Setelah beberapa menit, Nata kembali mendatangi Aleta di UKS. Ia membawa tas Aleta di tangan kanannya, "tas lo berat banget sih. Isinya batu ya," sahut Nata. Padahal Aleta hanya membawa lima buku dan beberapa pulpen.
"Biar gue yang bawa tasnya," lanjut Nata.
Aleta menolak, ia tidak mau merepotkan Nata, "gak usah. Biar aku aja Nat," jelas Aleta.
Nata melirik sinis pada Aleta, "gue gak minta persetujuan lo. Ayo," Nata menenteng tas Aleta di lengan kanannya. Sebenarnya, tas Aleta hanya sedikit berat. Hanya saja, Nata tidak mau Aleta repot-repot membawa tas itu.
Aleta dan Nata melangkah ke luar UKS. Aleta melihat ke arah lapangan yang masih ada beberapa siswa yang sedang mengikuti eskul.
"Nat," panggil Aleta.
Nata melirik Aleta, "ada apa?" tanya Nata.
"Aku boleh nanya gak?" tanya Aleta.
Nata memutar bola matanya malas, "itu lo nanya bego," kesal Nata.
Aleta mendengus kesal, ia mengerucutkan bibirnya, "jangan ngegas dong," kesal Aleta.
"Iya-iya, lo mau nanya apa?" ucap Nata.
"Kalau boleh aku tau, Bela ada di mana?" tanya Aleta.
Nata langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Aleta dengan kerutan di dahinya, "kenapa lo tiba-tiba nanya tentang Bela?" tanya Nata.
"Gak papa. Aku cuma pengen tau aja. Kalau kamu gak mau jawab gak papa kok," jelas Aleta. Ia menatap lurus ke depannya. Ia tidak berani menatap Nata. Nata pasti sangat bingung kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal ini.
"Bela ada di luar negeri. Dia ikut Ayahnya yang tinggal di Amerika. Gue gak tau apa dia bakal balik lagi ke sini. Sejak hari pertama dia ke luar negeri, dia nggak pernah ngasih kabar apa-apa ke gue sampe sekarang," jelas Nata.
Aleta melirik Nata. Kenapa Aleta merasa sesak ketika Nata menjelaskan itu dengan nada sedih, "apa kamu masih nunggu Bela kembali ke sini? Kalau Bela kembali, kamu bakal lakuin apa?" tanya Aleta.
Nata jadi mengingat kenangannya dengan Bela. Bela selalu melindunginya saat Ayahnya mencoba untuk melukainya. Bela selalu ada di saat ia benar-benar rapuh. Bela lah alasan ia bertahan di dunia ini sampe sekarang.
"Tentu aja gue bakal terus nunggu dia kembali lagi ke sini. Kalau dia kembali, gue bakal berusaha buat dia selalu bahagia," jelas Nata.
Bedanya, Alvaro sudah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Sedangkan Bela, ia ada di luar negeri. Bela bisa saja balik ke sini dan bertemu dengan Nata.
Aleta menghapus air mata yang terdapat di pipinya, ia bingung kenapa ia bisa selemah ini, gampang sekali untuk menangis.
"Nat, aku udah minta dijemput sama Mama. Kayanya dia udah ada di depan gerbang, sini tasnya," Nata menyerahkan tas itu pada Aleta.
"Aku duluan ya Nat, kamu hati-hati," Aleta melangkah pergi.
Nata memandangi punggung Aleta yang semakin menjauh. Nata masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba tadi Aleta menanyakan soal Bela.
Aleta berbohong pada Nata. Milka tidak mungkin menjemputnya, ia tahu kalau Milka pasti sibuk di rumah sakit. Aleta hanya tidak mau terus berdekatan dengan Nata. Sepertinya, ia harus menjauhi Nata.
Aleta tidak mau perasaannya semakin dalam untuk Nata. Ia takut Bela tiba-tiba kembali dan Nata menjauhinya, ia harus mencoba untuk melupakan Nata.
Aleta melihat mobil Nata yang keluar dari area sekolah. Nata tidak mungkin melihatnya, karena ia berusaha bersembunyi dari Nata. Aleta keluar dari gerbang, ia menuju halte yang tidak jauh dari sekolahnya.
Ia akan menunggu angkot lewat. Aleta memang sering pulang naik angkot. Ini sudah sore, apa angkot akan lewat sini? Ia tidak yakin akan hal itu.
Tiba-tiba ada motor yang berhenti tepat di depannya, "kok lo masih di sini?" tanya Arsen.
Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "iya. Tadi, aku istirahat dulu di UKS sampe gak sadar kalau udah sore," jelas Aleta.
"Terus lo nungguin siapa di sini?" tanya Arsen.
"Aku nunggu angkot lewat," jawab Aleta.
"Ini udah sore, angkot gak mungkin lewat. Bareng gue aja yuk," tawar Arsen.
Aleta menggelengkan kepalanya, ia tidak mau merepotkan Arsen, "gak usah. Aku nunggu angkot lewat aja," jelas Aleta.
"Gue denger-denger di sini tuh kalau sore banyak preman, terus biasanya kalau sore ada suara ketawa tapi gak ada wujudnya," jelas Arsen.
Aleta langsung merasakan bulu kuduknya merinding, "ih, jangan nakutin," ucap Aleta.
Arsen terkekeh pelan, "makannya pulang bareng gue aja, dijamin lo selamet sampe rumah," ucap Arsen.
"Emangnya gak ngerepotin?" tanya Aleta. Ia juga takut kalau sendirian di sini setelah mendengar cerita dari Arsen.
"Gak lah. Masa cewek secantik lo ngerepotin, gue malah seneng kalau ngeboncengin cewek secantik lo," jelas Arsen sambil memperlihatkan senyum menggodanya.
"Ayo naik," Aleta menaiki motor Arsen, "pegangan, gue takut nanti lo jatuh soalnya gue mau ngebut," jelas Arsen.
Aleta hanya diam. Arsen melirik Aleta dari kaca spion motornya, "kalau lo gak mau pegangan, motor ini gak bakal jalan," jelas Arsen.
Arsen menarik tangan Aleta dan melingkarkan tangan Aleta di pinggangnya, "udah gini aja biar lo gak jatuh," lirih Arsen.
Aleta tersentak. Kenapa sikap Arsen selalu mengingatkannya pada Alvaro.
👑
Makasih udah mau mampir ❤