
Happy Reading ♥
Maaf ya kalau banyak typonya 😁
👑
Aleta mendorong orang itu, dia melirik sinis pada orang itu, "kamu siapa? Aku gak kenal kamu," ujar Aleta.
Ia baru menyadari kalau tadi orang yang tidak dikenalnya ini memeluknya, "ngapain tadi kamu peluk-peluk aku, Jangan-jangan kamu orang jahat ya," tebak Aleta.
Aleta mundur beberapa langkah ke belakang. Ia takut orang yang ada di depannya ini orang jahat.
Orang itu memutar bola matanya malas, "kalau gue orang jahat, gak mungkin tadi gue nyelamatin lo. Bukannya makasih malah nuduh gue orang jahat," cetus orang itu.
Aleta tersenyum malu, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "iya juga sih. Tapi tetep aja kamu salah karena meluk aku sembarangan," ucap Aleta.
Orang itu menghembuskan napas kasar, ia berkacak pinggang, "emang ya cewek tuh maunya selalu bener. Terserah lo deh," sinis orang itu.
Aleta mengerucutkan bibirnya, "iya deh makasih karena udah nyelamatin aku," ujar Aleta.
Orang itu memukul pelan bibir Aleta, "gak usah manyun gitu, jelek tau gak. Gak ada imut-imutnya lo manyun gitu," ungkap orang itu.
Aleta menghembuskan napas kasar. Kenapa orang yang ada di depannya ini begitu menyebalkan, "udah lah mending aku pergi aja," saat Aleta membalikkan tubuhnya, orang itu mencekal pergelangan tangan Aleta.
"Lo mau kemana. Ini hujan deras, lo mau bunuh diri lagi," sahut orang itu.
Aleta melirik orang itu dengan tatapan jengah, "gak ada urusannya sama kamu. Lepasin tangan aku," cetus Aleta.
Orang itu tidak kunjung melepaskan cekalannya di pergelangan tangan Aleta, "jawab dulu dong, lo mau kemana?" tanya orang itu.
Tiba-tiba kilatan cahaya menerangi langit. Suara guruh yang dapat memekikkan telinga mulai terdengar.
Aleta mulai merasa takut. Ia melihat langit yang tampak mendung dan sesekali memunculkan kilatan cahaya yang disebut petir, kilat atau bisa juga halilintar.
Aleta tersentak ketika tiba-tiba orang tadi menutupi kedua telinganya menggunakan tangan kanan dan kirinya, "kalau lo takut sama guruh, tutup aja telinga lo," ucap orang itu lembut.
Aleta tersenyum tipis. Ternyata orang yang ada di depannya ini cukup baik, "makasih," ujar Aleta tulus.
Orang itu membalas senyuman Aleta, "sama-sama," sekilas Aleta terpesona dengan senyuman orang itu. Ia akui kalau orang yang ada di depannya ini sangat tampan.
Sepertinya dia blasteran karena memiliki kulit yang putih pucat, tubuh yang tinggi, dan bola mata yang hijau. Sangat tampan. Itulah yang ada di pikiran Aleta.
"Nama gue Alveno, nama lo siapa?" sahut Alveno.
Aleta mengerjapkan matanya beberapa kali, kenapa namanya sangat mirip dengan Alvaro orang yang sangat ia cintai di masa lalunya.
"Nama aku Aleta," jawab Aleta.
Di sisi lain, Nata masih duduk di ruang tamu bersama Bela. Bela terus bercerita tentang apa saja yang dia lakukan setiap hari di Amerika.
Tiba-tiba ada suara gemuruh yang sangat besar sampai mengagetkan Bela dan Nata. Bela mempererat cekalan tangannya di tangan Nata, "Nat, aku takut," lirih Bela.
Nata mengelus pucuk kepala Bela, "gak papa. Itu cuma gemuruh aja," sahut Nata.
Nata sadar kalau Aleta pasti sakit hati karenanya. Ia juga tidak tahu harus apa sekarang, ia tidak mau Aleta pergi, tapi ia juga tidak bisa melepaskan Bela begitu saja.
Suara gemuruh yang memekikkan telinga kembali terdengar. Nata sudah tidak bisa diam saja, ia benar-benar sangat mencemaskan Aleta. Nata menjauhkan tangan Bela dari lengannya, "gue harus pergi," ujar Nata.
Nata berlari ke luar rumah. Ia berlari di sepanjang jalan dan meneriaki nama Aleta, "Aleta, lo di mana!" teriak Nata.
Nata tidak memperdulikan air hujan yang sudah membuat badannya basah kuyup dan membuat luka-luka di tubuhnya kembali terbuka.
Nata terus berlari. Tapi ia belum menemukan keberadaan Aleta di jalan. Langkahnya mulai melambat saat melihat perempuan yang tengah bersama seorang pria di pinggir jalan.
Nata sangat yakin kalau perempuan itu Aleta. Ia berlari mendekati perempuan itu. Ternyata benar, itu adalah Aleta.
"Aleta," panggil Nata pelan. Aleta menengok ke arah Nata, ia tersentak melihat keadaan Nata karena luka-luka Nata terbuka dan kembali mengeluarkan darah segar.
Nata menarik tangan Aleta dan membawa Aleta ke dalam dekapannya. Ia memeluk Aleta erat, "gue khawatir banget sama lo. Gue takut lo kenapa-napa Ta. Jangan pergi sebelum lo izin ke gue," gumam Nata.
"Gue gak akan ngelepasin lo Ta. Gue sayang banget sama lo, lo hidup gue, lo segalanya bagi gue Ta," lanjut Nata.
Aleta tidak percaya Nata akan mengatakan hal itu. Ia kira Nata akan melupakannya dengan mudah karena Bela sudah kembali.
Aleta kira perasaan Nata langsung hilang padanya saat tahu Bela telah kembali. Aleta sangat lega Nata mengatakan hal itu.
Aleta membalas pelukan Nata. Ia menyenderkan kepalanya di dada bidang Nata, "aku juga sayang banget sama kamu Nat. Aku gak mau kamu ninggalin aku, aku mohon jangan tinggalin aku," lirih Aleta.
Aleta mulai meneteskan air matanya. Air matanya bercampur dengan air hujan, "gimana bisa gue ninggalin lo sementara lo adalah penyemangat gue, dan lo juga kehidupan gue," jawab Nata.
Alveno hanya menatap Aleta dan Nata dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Tanpa Nata tahu, sebenarnya Bela mengikutinya dan sudah ada di belakangnya.
Bela merasa sesak saat Nata memeluk wanita lain di depannya dan mengucapkan kata-kata manis yang terdengar sangat tulus.
Bela tidak pernah melihat Nata seperti ini. Nata rela berlari tanpa alas kaki di tengah derasnya hujan. Di saat kaki Nata berdarah-darah karena beling pun ia tidak menyadarinya.
Nata melepaskan pelukannya. Ia menangkup kedua pipi Aleta menggunakan kedua tangannya. Nata menatap Aleta dengan tatapan yang teduh, "gue udah pernah bilang kan ke lo. Gue bakal mencintai lo di tiga waktu. Sekarang, besok, dan selamanya. Gue bakal buktiin ucapan gue Ta," jelas Nata.
Tiba-tiba Nata merasakan pusing yang sangat luar biasa. Pandangannya mulai kabur, ia tidak bisa mendengar suara yang ada di sekitarnya.
Aleta sangat terkejut ketika tiba-tiba tubuh Nata ambruk di jalan. Aleta langsung berlutut di depan Nata, ia menaruh kepala Nata di pangkuannya.
Aleta menepuk-nepuk pelan pipi Nata, "Nat, Nat. Kamu kenapa? Nat bangun, aku mohon bangun Nat. Jangan buat aku khawatir Nat, aku mohon bangun," cemas Aleta. Ia sangat cemas dengan keadaan Nata.
Bela juga ikut berlutut di samping Nata. Tubuhnya bergetar, Bela baru pertama kali melihat Nata sampai pingsan seperti ini. Bela sangat tahu kalau Nata orang yang kuat. Bela juga sangat mencemaskan keadaan Nata.
Jantung Aleta berdetak dengan sangat cepat. Tubuhnya mulai melemas dan hatinya terasa sangat hancur ketika melihat Bela mencium bibir Nata bermaksud memberikan napas buatan pada Nata di depan matanya.
👑
Next gak nih? Komen ya biar aku semangat terus buat up♥
Menurut kalian feel apa yang dapet di part ini?