Moodboster

Moodboster
{ENDING}



Happy Reading ❤


Maaf kalau banyak typo ❤


Aku saranin kalian baca ini sambil dengerin lagu sedih gitu biar lebih ngefeel aja😂


Partnya lumayan panjang, bacanya pelan-pelan aja ya ❤


👑


Aleta dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Nata. Orang yang menabrak Aleta lah yang membawa Aleta ke sini.


Dokter segera menangi Aleta. Keadaan Aleta cukup parah, ada pendarahan di otaknya dan juga Aleta kehilangan begitu banyak darah.


Orang yang menabrak Aleta mencoba menghubungi keluarga Aleta dari ponsel Aleta. Orang itu menekan salah satu nomor. Ia menelepon nomor itu dan untungnya telpon itu langsung diangkat. "Halo," ujar orang itu.


"Tunggu, kamu siapa? Anak saya mana?" tanya Milka. Milka sama sekali tidak mengenali suara itu.


"Sebelumnya saya minta maaf, anak Ibu kecelakaan karena saya. Sekarang saya ada di rumah sakit," jelas orang itu.


Milka tersentak. Ia langsung meminta alamat rumah sakitnya pada orang itu, setelah ia tahu alamat rumah sakitnya Milka langsung bergegas kesana.


Beberapa menit kemudian Milka sudah sampai di rumah sakit itu. Ia langsung mencari keberadaan Aleta. Pandangannya tertuju pada seseorang yang sedang menggenggam ponsel, ia yakin itu ponsel Aleta.


Milka mendekati orang itu. "Dimana anak saya?" tanya Milka cemas.


"Dia lagi ditangani oleh dokter," ujar orang itu.


Orang itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan nama saya Alea, maaf karena saya sudah membuat anak anda celaka," ujar orang itu. Orang itu memang terlihat seumuran dengan Milka.


Milka membalas uluran tangan itu. "Saya Milka," jawab Milka.


Milka sangat mencemaskan keadaan Aleta. Ia berharap Aleta baik-baik saja. "Semoga kamu baik-baik aja Aleta, Mama gak mau kamu kenapa-napa Sayang," batin Milka.


Putra menelepon anak buahnya untuk mencarikan pendonor jantung diseluruh rumah sakit. Putra tidak mau kehilangan Nata, ia berusaha sekeras mungkin agar Nata mendapatkan pendonor jantung.


Nata sudah dipindahkan ke ruang ICU. Putra memasuki ruangan itu. Ia melihat begitu banyak alat canggih yang melekat di tubuh Nata.


Putra duduk di samping Nata. Ia memandangi Nata dengan tatapan sendu. "Maafin Papa Nak," lirih Putra.


Putra menggenggam tangan Nata yang terasa dingin. Putra mengelus punggung tangan Nata. "Papa mohon bertahan ya Nak, Papa gak mau kehilangan kamu. Papa pengen nebus semua kesalahan Papa sama kamu. Anak buah Papa lagi cari pendonor buat kamu, jadi, Papa mohon kamu harus bertahan," gumam Putra.


ALETA POV


Aku tidak tahu sekarang aku ada dimana. Ini seperti pantai, pamandangannya sangat indah.


Aku melihat Nata mendekat ke arahku. Aku terkejut saat dia memeluk tubuhku sangat erat, aku membalas pelukannya. "Aku sayang kamu Ta. Tapi maaf, aku harus pergi ninggalin kamu," ucapnya.


Seketika tubuhku menegang. Aku tidak mau Nata meninggalkanku. Sudah cukup Alvaro meninggalkanku, aku tidak mau jika Nata juga harus pergi meninggalkanku.


"Jangan ngomong sembarangan Nat," peringatku.


Aku merasakan tubuh Nata yang bergetar. Apakah dia menangis? Ku rasakan pelukannya semakin mengerat.


"Terimakasih Ta. Karena kamu hidup aku jadi lebih berwarna. Kamu alasan aku bertahan hidup sampai sejauh ini, tapi sekarang, aku lelah Ta. Aku gak bisa nahan lagi rasa sakit ini, sudah cukup aku menahan semuanya mungkin ini sudah saatnya aku pergi," ujarnya.


"Jangan ngomong gitu Nat," lirihku. Kenapa dia mengatakan semua itu padaku? Jelas saja aku tidak akan membiarkan dia pergi.


Nata melepaskan pelukannya. Dia menggenggam tanganku, dia memandangku dengan tatapan yang tak mudah untuk aku artikan. "Makasih karena kamu jadi moodboster terbaik aku Ta," jelasnya.


Aku mulai meneteskan air mata. Aku menggenggam tangannya erat. "Kamu juga moodboster aku Nat, kamu ada disaat aku benar-benar sedang membutuhkan seseorang. Kamu memberikan warna baru di hidupku, tanpa kamu, aku gak tau hidup aku bakal kaya gimana," jelasku.


Aku mulai terisak. Nata kembali memelukku. "Jangan nangis Sayang," ujarnya berusaha menenangkanku.


"Aku juga lelah Nat, aku bakal ikut kamu pergi. Aku ingin selalu bersama kamu Nat, kita bakal bahagia bersama selamanya," terangku.


Nata melepaskankan pelukannya dariku. Dia memegang bahuku, lalu ia mendekatkan wajahnya ke arahku. Ia mencium keningku lama. "Aku mencintai kamu untuk saat ini dan untuk selamanya," ujarnya.


Aku tersenyum tipis. Aku menggenggam tangannya. "Ayo kita pergi Nat," ajakku. Aku dan Nata berjalan beriringan menuju cahaya putih. "Kita mungkin tidak bisa bersama untuk waktu yang lama di dunia, tapi kita bakal bersama selamanya di akhirat," terangnya.


Author POV


Putra tersentak saat tiba-tiba jari telunjuk Nata bergerak. "Aleta," gumamnya.


Putra tersenyum senang saat mendengar Nata dapat berbicara. Tapi beberapa detik kemudian tiba-tiba tubuh Nata kejang-kejang, Putra langsung memanggil dokter.


Saat dokter mau meriksa keadaan Nata tiba-tiba alat elektrokardiogram berbunyi dan menampilkan garis lurus.


Dokter itu memeriksa denyut nadi Nata untuk memastikan. Dokter itu menghela napas kasar. "Maaf Pak, anak Bapak sudah tidak bisa diselamatkan," terang dokter itu.


Seketika tubuh Putra langsung lemas sampai ia terduduk di lantai. Hatinya terasa begitu sesak.


Putra mencoba berdiri. Ia menatap wajah Nata lalu menggenggam tangan Nata erat. "Nata bangun Nak! Kamu gak boleh pergi ninggalin Papa! Papa cuma punya kamu Nata, Papa mohon bangun, emangnya kamu tega ninggalin Papa sendirian? Gak kan, ayo bangun Nak," ujar Putra sambil menggoyang-goyangkan tubuh Nata.


Milka menggenggam tangan Aleta yang terasa dingin. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk tubuh Aleta. "Mama tau kamu kuat Sayang, kamu gak mungkin kan ninggalin Mama. Ayo bangun Sayang, buka mata kamu Sayang," ujar Milka.


Hati Milka begitu terasa sesak. Ia tidak pernah menyangka Aleta akan pergi secepat ini. Milka masih tidak percaya dengan semua ini. "Ayo dong Sayang bangun, kalau kamu bangun nanti apapun yang kamu mau pasti bakal Mama turutin, ayo bangun Sayang," lanjut Milka.


Putra memeluk tubuh Nata dengan sangat erat. Kenapa saat ia menyadari kesalahannya Nata malah pergi meninggalkannya? Apa ini karma untuknya?


"Nata mau kasih sayang dari Papa kan, Papa mau ngasih kasih sayang sama Nata asal Nata harus bangun. Papa bakal jadi Papa yang baik buat Nata, Papa bakal perhatian lagi sama Nata, Papa bakal lakuin apapun yang Nata mau asal Nata bangun. Papa mohon buka mata kamu Nak, ayo bangun Nak, jangan ninggalin Papa sendirian, Papa gak bisa hidup bahagia tanpa kamu Nak, Papa mohon bangun Nak," ungkap Putra sambil terisak.


Bela masuk ke ruang ICU, ia melihat Putra yang sedang menangis memeluk Nata. Bela mendekati Putra, ia menatap wajah Nata. Air matanya sudah menetes sadari tadi. "NATA BANGUN!" teriak Bela.


Bela menunduk. "Jangan pergi Nat. Buka mata kamu, aku bakal ikhlasin kamu sama Aleta asal kamu buka mata kamu Nat, aku gak bakal ganggu hidup kamu lagi aku bakal pergi tapi aku mohon kamu harus bangun," ujar Bela sambil terisak.


Julian berlari masuk ke rumah sakit. Ia sudah mengetahui tentang keadaan Nata dari Bela. Julian berhenti melangkah saat sudah di depan ruang ICU. Julian menetralkan napasnya.


Julian masuk ke ruang ICU. Ia melihat Bela dan Putra sedang menangis. Julian tidak habis pikir dengan Putra kenapa baru sadar sekarang kalau Nata benar-benar menyayanginya?


Julian mendekat ke arah Nata. Ia melihat wajah Nata yang tampak pucat, Julian menahan agar tangisannya tidak pecah. Ia masih tidak percaya dengan semua ini. "Nat!" panggil Julian. Julian berharap Nata akan menyahutinya tapi itu hanya harapannya saja.


"Bangun woy! Jangan tidur mulu lo!" ujar Julian sambil menatap Nata. Julian berharap Nata membuka akan matanya.


"Kok lo gak bangun-bangun sih? Lo mau gue sembur lagi ya! Bangun Nat, buka mata lo!" pinta Julian. Kini Julian tidak dapat menahan air matanya yang ingin menetes.


Julian memukul lengan Nata pelan. "Bercandaan lo gak lucu tau gak! Buruan bangun!" perintah Julian.


"Papa mohon buka mata kamu Nak," sahut Putra.


"Ayo buka mata kamu Nat," sahut Bela.


👑


Hari ini hari pemakaman Aleta dan juga Nata. Saat mengetahui Aleta sudah tiada Putra sangat terkejut begitu pula dengan Milka yang sama terkejutnya saat mengetahui kalau Nata juga sudah tiada. Mereka memutuskan untuk memakamkan Aleta dan Nata berdampingan.


Teman-teman sekolah Aleta dan Nata juga sudah mengetahuinya. Mereka terpukul mendengar kabar duka itu.


Satu-persatu teman-teman Nata dan Aleta sudah pergi dari makam. Kini hanya ada Milka, Dani, Putra, Julian, Dimas, Iris, Icha, Sisil, Bela, Alveno, Reyhan Adiknya Aleta, dan juga Maria Ibu dari Alvaro.


Reyhan menangis dipelukan Maria. Reyhan memang tinggal bersama Maria karena Maria yang memintanya agar Maria tidak kesepian.


Iris mengelus nisan yang tertulis nama Aleta. "Gue gak nyangka lo pergi secepat ini Ta, padahal gue masih pengen habisin waktu sama lo. Gue harap lo tenang ya di sana Ta," Iris melirik nisan yang di samping Aleta yaitu nisan yang bertuliskan nama Nata, "Jagain Aleta ya Nat, gue harap kalian bahagia di sana," ujar Iris.


Iris, Icha, dan Sisil berpamitan untuk pulang. Julian dan Dimas jongkok di samping makam Nata. "Tenang di sana ya Bro, lo harus bahagia di sana," lirih Dimas.


Julian melirik makam Nata dan Aleta bergantian. "Kalian emang laknat ya, selalu aja buat jiwa jomblo gue meronta-ronta. Pokonya kalian harus bahagia di sana," ujar Julian.


Julian mengelus nisan Nata. "Lo udah gue anggep sebagai Adek gue sendiri Nat, Abang lo ini berharap kalau lo selalu bahagia di sana. Sampai kapanpun gue gak bakal lupain lo Nat karena lo Adek gue," gumam Julian.


Julian dan Dimas berpamitan untuk pulang pada Milka dan juga Putra. Bela jongkok di samping makam Nata. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Nata dengan baik. "Aku gak pernah nyangka kamu bakal pergi secepat ini, maaf karena aku gagal buat jadi pelindung kamu Nat. Tenang di sana ya Nat," Bela mengecup nisan Nata.


Alveno berdiri di samping makam Aleta. Ia tidak pernah menyangka Aleta akan pergi secepat ini. Alveno mengelus nisan Aleta. "Gue gak pernah nyangka orang yang gue sayang bakal pergi secepat ini. Iya, gue sayang sama lo Ta. Gue suka sama lo sejak pertama kali kita ketemu, tadinya gue mau buat lo suka sama gue, tapi ternyata gak bisa karena perasaan lo sepenuhnya untuk Nata. Kalian bener-bener pasangan terbaik sampai meninggal aja barengan gini. Bahagia di sana ya Ta," gumam Alveno.


Kini hanya tinggal Putra, Milka, Dani, Maria, dan juga Reyhan di makam itu. Reyhan memeluk nisan Aleta dengan erat. Ia merasa terpukul dengan kepergian Aleta. "Kaka udah janji sama aku kalau setelah Kaka lulus sekolah Kaka bakal jemput aku dan tinggal bareng sama aku lagi tapi kenapa Kaka malah pergi ninggalin aku," ungkap Reyhan sambil terisak.


Maria mengelus punggung Reyhan bermaksud untuk menenangkan Reyhan. Maria juga ikut terpukul dengan kepergian Aleta, ia tidak pernah menyangka Aleta akan pergi secepat ini.


Putra jongkok di samping makam Nata. Putra tidak dapat menahan isak tangisnya. Putra mengelus nisan Nata. "Maafin Papa ya karena Papa udah jahat banget sama kamu. Papa mau perbaikin semuanya tapi kamu malah pergi ninggalin Papa sendirian, mungkin ini balasan dari Allah buat Papa karena telah menyia-nyiakan anak sebaik kamu Nak," lirih Putra.


"Arsen dan Rina sudah Papa jebloskan ke penjara. Maafin Papa karena dulu Papa selalu berkata kasar sama kamu dan juga selalu menyiksa kamu. Papa menyesal Nak, rasanya Papa ingin sekali memutar waktu kembali agar kamu merasakan kasih sayang dari Papa. Maafin Papa Nak," ujar Putra.


"Kamu harus bahagia di sana sama Aleta dan juga Bunda kamu. Maafin Papa karena sampai akhir hidup kamu, kamu tidak pernah merasakan kasih sayang dari Papa. Papa sayang kamu Nak," lanjut Putra sambil mengecup nisan Nata.


Milka memeluk nisan Aleta. Ia merasa sangat kehilangan, Aleta sudah sangat dekat dengannya. "Makasih Aleta karena kamu udah mau jadi anak Mama, hidup Mama gak akan lengkap tanpa kamu Sayang. Kenapa kamu tega ninggalin Mama secepat ini Sayang padahal Mama masih butuh kamu. Mama coba ikhlasin kamu agar kamu tenang di sana Sayang, Mama yakin kamu bahagia di sana sama Nata, Alvaro, dan juga Oma," ujar Milka.


"Kamu bakal tetap jadi anak kesayangan Mama dan Papa untuk selamanya," sahut Dani yang sekarang jongkok di sebelah Milka. Milka menangis dipelukan Dani. Mereka telah kehilangan anak kesayangan mereka.


Reyhan mengecup nisan Aleta. "Reyhan sayang Ka Aleta, selamanya," gumam Reyhan.


👑


SELESAI


Alhamdulillah akhirnya ceritanya udah sampe ending. Maaf kalau endingnya mengecewakan ❤


Aku nangis sampe pilek loh pas bikin part ini. Kalau kalian gimana?


Menurut kalian cerita aku gimana dari awal sampe akhir apa kalian suka? 😆


Aku pengen buat cerita baru, ada yang mau rekomendasiin?


Ada yang mau kalian ucapin gak ke aku😆