
👑
Arsen melihat Aleta yang seperti mencari seseorang, Aleta tidak sengaja menabrak bahunya, "hai Aleta," sapa Arsen.
Aleta mundur beberapa langkah, ia merasa bersalah karena telah menabrak Arsen, "maaf," ucap Aleta. Arsen tersenyum tipis, "gak papa Ta," jawab Arsen.
"Lo mau kemana?" tanya Arsen. Aleta menjawab kalau ia sedang mencari keberadaan Nata. Arsen tersenyum tipis, sepertinya Aleta menyukai Nata, "kayanya dia ada di balkon," ucap Arsen.
Aleta tersenyum, "makasih," Aleta langsung berlari ke arah balkon. Aleta melihat Nata yang sedang duduk di sofa yang ada di balkon itu, "Nata," panggil Aleta.
Nata melirik Aleta. Bagaimana Aleta bisa tahu keberadaannya? Sudahlah, ia sedang malas bertanya. Nata kembali meluruskan pandangannya ke depan.
Aleta duduk di samping Nata, "kenapa kamu ada di sini? Bentar lagi bel masuk loh Nat, mending kita ke kelas aja yuk, " ajak Aleta.
Nata mengabaikan ucapannya. Sepertinya Nata masih sangat kesal dengan kejadian tadi, "kalau kamu gak mau balik ke kelas, aku juga di sini aja deh nemenin kamu," ucap Aleta.
Nata melirik Aleta, "terserah," cetus Nata. Ia menyenderkan kepalanya di sofa, Nata memejamkan matanya, ia merasa mengantuk. Aleta melirik Nata, Nata terlihat sangat tampan dengan alis yang tebal, rahang yang tegas dan kulit yang putih.
Aleta baru menyadari kalau Nata tidak mirip dengan Rina maupun Arsen. Padahal yang ia tahu Arsen dan Nata bersaudara dan Rina adalah Ibu mereka. Arsen memang mirip dengan Rina, tapi tidak dengan Nata, mungkin Nata lebih mirip dengan ayahnya.
"Jangan liatin gue terus," cetus Nata. Aleta langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Bagaimana Nata bisa tahu kalau ia sedang memandangi wajahnya, padahal mata Nata terpejam, "geer banget sih kamu Nat, siapa juga yang mau ngeliatin muka kamu yang kaya pantat kuali itu," ejek Aleta.
Tentu saja Aleta berbohong akan hal itu. Wajah Nata sangat tampan, tidak ada mirip-miripnya sama sekali dengan pantat kuali, mungkin wajah Nata lebih mirip seperti pangeran di cerita dongeng.
"Kamu masih kesel karena Diva tadi tiba-tiba cium pipi kamu Nat?" tanya Aleta. Nata membuka matanya, bagaimana Aleta bisa tahu kalau namanya Diva? Ia saja tidak ingat kalau nama cewek gila yang sering mengganggunya itu Diva.
"Ya," jawab Nata. Kalau Diva laki-laki, sudah pasti ia akan langsung menghajar Diva sampai pingsan. Untung saja Diva itu perempuan, ia tidak mau melukai perempuan seperti Diva.
"Kalau aku yang cium kamu, kamu bakal marah gak?" tanya Aleta. Nata menegakkan tubuhnya, ia menatap tajam ke arah Aleta, "lo mau cari mati," sinis Nata.
Aleta mengerucutkan bibirnya, padahal ia hanya bercanda menanyakan hal itu. Ia juga tidak mungkin seberani itu mau mencium Nata, "aku cuma becanda. Mana berani aku cium kamu, bisa-bisa aku ditelan hidup-hidup sama kamu," ujar Aleta.
Nata tersenyum miring, "gue gak makan manusia, emangnya lo yang makan apa aja sampe badan lo kaya gajah gitu," ejek Nata. Aleta langsung memukul bahu Nata berkali-kali, "kamu nyebelin banget sih," kesal Aleta.
Nata menghentikan pekulan Aleta dengan memegangi tangan Aleta, "diem," Nata mendengar suara langkah kaki yang menuju ke balkon, ia yakin itu pasti guru, "kita harus sembunyi," ucap Nata.
Nata berdiri, ia menarik tangan Aleta untuk bersembunyi. Nata bingung harus bersembunyi di mana, kalau guru tahu ia dan Aleta ada di sini, dia dan Aleta bakal terkena masalah.
Nata melihat kardus besar di samping balkon, ia langsung menarik tangan Aleta ke arah kardus itu, Nata melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aleta, "sembunyi di balik kardus itu. Buruan, dan jangan coba-coba keluar sebelum gue pergi," perintah Nata.
Aleta masih tidak mengerti kenapa Nata tiba-tiba menyuruhnya untuk bersembunyi, "kenapa Nat? Ada apa?" Nata menatap tajam ke arah Aleta, "buruan sembunyi. Kalau gak, gue dorong lo dari balkon ini," ancam Nata.
Aleta meneguk ludahnya, tatapan mata Nata sangat menakutkan. Aleta menurut, ia bersembunyi di balik kardus itu. Nata kembali duduk di sofa.
"Nata!" panggil Bayu. Dia seorang guru olahraga. Bayu sudah menduga kalau ada anak muridnya yang bolos di balkon.
"Kenapa kamu ada di sini? Kamu udah kelas dua belas Nata, jangan bolos terus, harusnya kamu belajar yang bener," jelas Bayu.
"Hukuman kamu, hormat ke tiang bendera sampai istirahat tiba," lanjut Bayu. Nata berdiri, ia melangkah melawati Bayu, "mau kemana kamu, jangan coba-coba kabur dari saya," ucap Bayu.
Nata memutar bola matanya malas, "Bapak nih gimana sih, katanya saya suruh hormat ke tiang bendera. Tiang benderanya kan ada di bawah, saya harus turun lah," jelas Nata.
Bayu mengangguk-anggukan kepalanya. Benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Nata, "ya sudah, ayo turun," ucap Bayu. Nata jalan terlebih dulu dan Bayu mengikuti Nata dari belakang.
Aleta keluar dari persembunyiannya, ia dapat mendengar semua percakapan Nata dan Bayu. Ia tidak mungkin membiarkan Nata dihukum sendirian, Aleta menuruni anak tangga dan menuju ke arah lapangan.
Aleta melihat Nata yang sedang hormat ke tiang bendera. Tanpa ragu, Aleta langsung melangkahkan kakinya mendekati Nata, ia berdiri di samping Nata, "kalau dihukum tuh ajak aku juga dong. Jangan maunya dihukum sendirian doang," cetus Aleta.
Nata membulatkan matanya saat melihat Aleta yang ada di sampingnya. Nata melirik sekelilingnya, "lo ngapain sih ke sini, buruan balik ke kelas sebelum guru ada yang liat lo di sini," perintah Nata.
Aleta menggelengkan kepalanya, "gak mau, aku mau nemenin kamu di sini," jawab Aleta.
Nata terus memaksa Aleta untuk kembali ke kelas, tapi Aleta tetap tidak mau. Ia ingin menemani Nata dihukum. Nata mendengus kesal, "terserah lo deh," kesal Nata.
Nata melirik Aleta. Keringat mulai bercucuran dari pelipis Aleta. Nata mendengus pelan, ia membuka kancing kemejanya. Ia melepaskan kemeja sekolahnya itu dan melampirkan kemeja itu di atas kepala Aleta, "gue gerah kalau pake kaus sama kemeja," ucap Nata.
"Terus kenapa kamu naruh kemejanya di atas kepala aku?" tanya Aleta bingung. Nata menatap ke arah tiang bendera, "udah sih jangan banyak nanya, suara lo ganggu gue tau gak. Biarin kemejanya tetep di kepala lo," jelas Nata.
Aleta melirik Nata, ia tersenyum tipis, "makasih Nat," lirih Aleta. Sepertinya, Nata tidak mau jika ia terkena sinar matahari, ia sangat senang Nata peduli padanya.
👑
Makasih udah mau mampir ♥