
Happy Reading β€
Maaf kalau ada yang typo β€
Jangan malu-malu buat komenπβ€
π
Nata menatap Aleta dengan tatapan sendu. "Lupain gue Ta. Gue juga bakal berusaha lupain lo," Nata membalikan tubuhnya, lalu ia melangkah keluar UKS.
Aleta mematung di tempatnya. Ia tidak menyangka Nata akan keras kepala begini. Aleta tidak akan menyerah, ia akan berusaha membuat Nata kembali padanya.
Nata melirik Alveno yang berdiri di depan UKS. "Jagain Aleta," ujar Nata. Ia melangkah pergi.
Alveno melirik punggung Nata yang semakin menjauh. "Tanpa lo minta pun gue bakal tetep jagain Aleta," gumam Alveno.
Alveno masuk ke dalam UKS. Ia menaruh bubur ayam yang dia beli di atas meja. Tanpa diduga Alveno memeluk Aleta. "Lo baik-baik aja kan?" tanya Alveno.
Alveno mengelus rambut Aleta. Aleta mendorong tubuh Alveno pelan, ia tersenyum tipis. "Aku gak papa No," ujar Aleta.
Alveno tersenyum tipis. Ia mengelus pipi Aleta. "Syukur deh kalau lo gak papa. Lo laper kan? Gue udah beli bubur ayam buat lo, dimakan yuk bubur ayamnya," ujar Alveno.
Alveno menuntun Aleta kembali ke ranjang UKS. Aleta duduk di ranjang UKS. Alveno mengambil bubur ayamnya lalu duduk di depan Aleta. "Mau gue suapin atau mau makan sendiri," tawar Alveno.
Aleta mengambil alih semangkuk bubur ayam itu dari tangan Alveno. "Aku makan sendiri aja No," ujar Aleta.
Alveno tersenyum tipis, ia menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Aleta. "Ya udah, abisin ya bubur ayamnya."
Nata duduk di balkon sekolah. Ia merasakan angin sepoi-sepoi menerpa pipinya. Nata masih memikirkan Aleta. Pikirannya tidak bisa teralihkan dari Aleta. "Maafin gue Ta. Gue cuma gak mau Papa lukain lo. Lebih baik gue yang terluka," gumam Nata.
π
Nata masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat Putra sedang duduk di ruang tamu. "Nata," panggil Putra dengan nada datar.
Nata langsung menghentikan langkahnya. Ia mendekati Putra. "Ada apa Pa, Papa butuh sesuatu?" tanya Nata lembut.
Putra berdiri. Ia menatap Nata dengan tajam, tanpa aba-aba ia langsung melayangkan sebuah pukulan pada Nata. "BRENGSEK! KAMU EMANG ANAK GAK TAU DIRI!" murka Putra.
Nata terduduk di lantai sambil memegangi ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Putra menarik kerah seragam sekolah Nata dengan Kasar, ia kembali melayangkan pukulannya di perut Nata. "ANAK BRENGSEK! MATI AJA KAMU!"
Baru saja Nata keluar dari rumah sakit, tapi tanpa kasihan Putra malah kembali memukulinya.
Arsen dan Rina hanya memandangi Putra dan Nata dari kejauhan. Mereka tersenyum senang melihat Nata tersiksa. "****** lo," gumam Arsen tersenyum senang.
Putra membalikan tubuh Nata. Ia menyibak seragam sekolah Nata, Putra melihat masih ada bekas cambukan di punggung Nata. Putra melepas ikat pinggangnya lalu ia mencambuk punggung Nata dengan kasar. "MATI KAMU!"
"Papa udah bilang sama kamu kalau kamu harus jauhin Aleta! Tapi kamu malah masih dekat dengan dia, harusnya kamu pikirin perasaan Arsen! Arsen pasti terluka karena kamu masih dekat dengan Aleta! DASAR BRENGSEK!" murka Putra sambil terus mencambuk punggung Nata.
"Liat aja, Papa bakal bikin Aleta itu terluka!" cetus Putra.
Nata berusaha mendudukkan tubuhnya. Nata menatap Putra. "Aku mohon sama Papa jangan sakitin Aleta. Papa boleh sakitin aku, Papa juga boleh bunuh aku.Β Tapi, aku mohon jangan sakitin Aleta Pa," mohon Nata.
Putra melirik Nata yang menangis dan terus meminta agar ia tidak menyakiti Aleta. Putra mendengus kesal, ia menatap Nata tajam. "Ini kesempatan terakhir kamu. Kalau kamu masih dekat dengan Aleta, Papa bakal nyakitin dia, kalau perlu Papa bunuh dia, Papa tidak pernah main-main dengan ucapan Papa, Nata," ancam Putra.
Putra melempar ikat pinggangnya tepat di wajah Nata. "Bersihin darah kamu yang ada di lantai, Papa jijik liatnya," perintah Putra. Putra melangkah pergi ke kamarnya.
Nata bernapas lega karena Papanya tidak jadi menyakiti Aleta. Nata harus benar-benar menjauhi Aleta, Nata tidak mau kalau Aleta sampai terluka.
Sarah mendekati Nata. "Den. Den Nata gak papa? Sini Bibi bantu Den Nata berdiri," Sarah membantu Nata berdiri dengan hati-hati. Sarah sedih melihat Nata terus terluka tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Nata.
Nata melirik Sarah. "Aku gak papa Bi," ujar Nata tersenyum tipis.
"Aku mau bersihin lantainya dulu Bi," lanjut Nata.
Sarah membulatkan matanya. "Gak usah Den, biar Bibi aja yang bersihin lantainya. Luka Den Nata harus cepet diobatin," ujar Sarah.
Nata menggeleng pelan. "Gak usah Bi. Biar aku aja yang bersihin lantainya, Papa nyuruh aku buat bersihin lantainya. Bibi bisa gak ambilin aku pel an," pinta Nata.
"Nata," Nata tersentak mendengar suara itu, ia sangat mengenali suara itu.
π
Aku mau nawarin buat grup chat di WA nih, ada yang mau gabung? Kalau mau dm aku aja ya πβ€
Apa kabar kalian?Β Semoga baik-baik aja ya β€ jaga kesehatannya, stay with home β€
Gimana perasaan kalian di part ini?