Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 23}



Happy Reading ❀


Aku lebih suka kalian komen daripada vote 😁❀


πŸ‘‘


Saat hari sudah malam. Arsen ingin menemui Nata di dalam wc, ia akan membuat rencana baru agar Nata kembali tersiksa.


Arsen melihat Putra yang sedang duduk di meja makan. Putra sedang berkutik dengan laptopnya dengan sangat serius.


Arsen tersenyum tipis. Ia melangkahkan kakinya ke arah dapur. Ia melihat Sarah seorang pembantu di rumahnya yang sedang memasak untuk makan malam, "Bi," panggil Arsen.


Sarah menoleh ke arah Arsen, "ada apa Den?" tanya Sarah. Sarah kembali fokus memasak makanan untuk makan malam. Ia memasak ayam goreng, tumis kangkung, sayur lodeh, dan masih ada beberapa lagi yang akan dia masak untuk majikannya.


"Tolong buatin kopi," ujar Arsen. Sarah mengangguk, dia mematikan gas api yang menyala dan setelah itu langsung membuatkan kopi untuk Arsen.


Setelah beberapa menit kemudian, Sarah menyerahkan kopi itu pada Arsen. Arsen menerimanya, "makasih Bi. Cepetan ya Bi masak buat makan malemnya," ucap Arsen.


Arsen mendekati Putra yang masih berkutik dengan laptopnya. Arsen menaruh kopi tadi di atas meja, "ini buat Papa. Kalau Papa cape, jangan terlalu maksain kerja Pa," terang Arsen.


Putra melirik Arsen, dia tersenyum pada Arsen, "makasih ya Sen, kamu emang anak yang paling pengertian ke Papa," puji Putra.


Arsen duduk di samping Putra. Sarah datang dengan membawa nasi dan lauk pauk, ia menaruh nasi dan lauk pauk itu di atas meja makan. Arsen melirik Putra, ia menarik laptop Putra ke sampingnya, "udah Pa, jangan kerja terus. Papa harus makan," ujar Arsen.


Putra menatap Arsen dengan tatapan hangat. Ia sangat senang Arsen memperhatikannya seperti ini, ia bangga mempunyai anak seperti Arsen.


Putra mengulurkan tangannya ke arah Arsen lalu ia mengelus rambut Arsen, "makasih ya karena kamu udah perhatian sama Papa. Papa bangga punya anak kaya kamu Sen. Kamu gak seperti Nata yang bisanya cuma bikin masalah. Papa sayang sama kamu," ungkap Putra.


Arsen tersenyum tipis, "Arsen juga sayang sama Papa," balas Arsen. Sebenarnya, Arsen geli mengatakan itu. Ia sama sekali tidak memiliki rasa sayang untuk Putra.


Rina datang dari arah kamarnya. Ia tersenyum lebar ketika melihat kedekatan Arsen dan Putra. Arsen memang pandai berakting di depan Putra.


Rina duduk di depan Putra, "Mama seneng ngeliat kalian kaya gini," ujar Rina.


"Ayo makan," sahut Putra. Saat Putra mau mengambil nasi, Arsen langsung menghentikannya, "biar aku yang ambilin Pa," Arsen mengambil piring Putra lalu ia menaruh nasi dan lauk pauk di atas piring itu.


"Papa harus makan banyak supaya tetap sehat," terang Arsen. Ia menaruh piring yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pauk di depan Putra.


Arsen menaruh nasi dan lauk pauk di atas piringnya. Ini bukan untuknya, tapi untuk Nata, "Pa, Ma. Aku mau ngasih makanan ini buat Nata, kasihan dia pasti kelaperan di dalem wc," jelas Arsen.


Putra menghentikan kegiatan makannya saat mendengar ucapan Arsen. Ia melirik Arsen, "kenapa kamu peduli sama anak gak tau diri itu sih. Dia udah mukulin kamu sampe kamu pingsan, biarin aja dia kelaperan kalau perlu biarin aja dia mati," kesal Putra.


"Udah-udah, biarin Arsen kasih makanan itu buat Nata, Pa. Kasihan Nata, dia pasti udah laper banget," sahut Rina.


Putra menghembuskan napas pelan, "terserah kalian aja deh," ucap Putra. Ia kembali memakan makanannya.


Arsen membawa piring yang sudah ada nasi dan lauk pauknya, ia juga membawa segelas air dingin untuk Nata. Arsen berjalan menuju wc dekat gudang yang ada di ujung rumahnya.


Katika sudah di depan wc, Arsen langsung membuka pintu wc itu. Arsen tersenyum lebar saat melihat Nata yang menyenderkan punggungnya di dinding dan terlihat sangat tidak berdaya, "Nata," panggil Arsen.


Nata membuka kedua matanya, ia melirik Arsen yang ada di depannya. Nata tersenyum sinis pada Arsen, "puas kan lo karena Papa belain lo," sinis Nata.


"Puas banget. Gue suka ngeliat lo tersiksa kaya gini," terang Arsen.


Nata melirik piring dan gelas yang dibawa Arsen, "ngapain lo bawa piring sama gelas ke sini?" tanya Nata dengan nada sinis.


Nata berusaha menahan rasa sakit yang menyerangnya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Arsen. Nata sangat kesakitan, dia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Rasanya terlalu menyakitkan. Tapi, ia pintar menyembunyikan rasa sakitnya itu.


"Liat aja nanti," jawab Arsen sambil menyeringai. Nata membulatkan matanya saat tiba-tiba Arsen menjatuhkan piring dan gelas yang dia pegang secara bersamaan di lantai wc.


Gelas dan piring itu pecah. Beling-belingnya berceceran di lantai, bahkan, ada yang mengenai kaki Nata dan Arsen. Nata melirik Arsen sinis, "lo gila!" bentak Nata.


Putra langsung berdiri saat mendengar suara pecahan piring dan gelas. Rina mengikuti langkah Putra. Putra masuk ke dalam wc, ia terkejut melihat beberapa beling tertancap di kaki Arsen, ia melirik Nata, "DASAR ANAK BERENGSEK!" umpat Putra.


Putra maju mendekati Nata. Ia sedikit membungkukkan badannya lalu menarik kerah baju Nata kasar, "KAMU APAIN ANAK SAYA? HAH! BERENGSEK!" Putra langsung menghajar wajah Nata habis-habisan.


"Pa, Pa. Udah, kasihan Nata. Ini bukan salah Nata, dia udah nolak makanan dari aku. Tapi, aku tetep maksa dia buat makan sampe mancing kemarahan dia terus dia jatuhin piring sama gelas itu tanpa sengaja. Nata gak niat nyakitin aku Pa," jelas Arsen.


Putra menghentikan pukulannya di wajah Nata, ia melirik Arsen, "jangan belain anak berengsek ini Arsen," cetus Putra.


Putra menatap Nata dengan tatapan yang seperti ingin menelan Nata hidup-hidup, "harusnya kamu berterimakasih pada Arsen karena dia mau ngasih kamu makanan! Dasar gak tau diri! Mati aja kamu!" murka Putra.


Rina melirik Arsen lalu tersenyum, Arsen juga melirik Rina dan ikut tersenyum, "kerja bagus," ucap Rina tanpa suara tapi Arsen dapat mengerti apa yang Rina ucapkan.


πŸ‘‘


Kalian kesel gak sama sikap Arsen sama Rina? Atau sama Putra?


Kok aku kesel sendiri ya bikin part iniπŸ˜‚


Next gak nih? Komen ya 😁❀