
Happy Reading ❤
Maaf kalau banyak yang typo ❤
👑
Aleta duduk di ranjang rumah sakit bersama Nata yang ada di sampingnya. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Nata. "Nat," panggil Aleta.
Nata merangkul pundak Aleta. "Apa Sayang," sahut Nata.
Aleta mencubit perut Nata pelan. "Kamu suka banget sih godain aku, kan aku jadi malu," ujar Aleta jujur.
Nata terkekeh pelan. Ia mengacak pelan rambut Aleta. "Gak papa dong, aku suka ngeliat kamu malu terus pipi kamu merah gitu, gemesin banget tau," ungkap Nata sambil mencubit pipi Aleta.
Nata sekarang mulai membiasakan diri untuk bicara aku-kamu dengan Aleta.
Aleta meringis pelan, ia memegangi pipinya. "Sakit tau Nat," ujar Aleta mengerucutkan bibirnya.
Cup!
Aleta membulatkan matanya saat tiba-tiba Nata mencium pipinya. Aleta melirik Nata. "Kok pipi aku dicium sih," ujar Aleta.
Nata tersenyum lebar. "Itu obat biar pipi kamu gak sakit lagi," jawab Nata.
Aleta memalingkan wajahnya ke arah lain. Pipinya terasa panas dan jantungnya seperti meledak-ledak. Akh, kenapa Nata bisa membuatnya seperti ini.
Nata merangkul lengan Aleta. Ia menyenderkan kepalanya di bahu Aleta. Nata memejamkan matanya. "Jangan salting gitu akh, kamu makin cantik kalau kaya gitu," gumam Nata.
Aleta melirik Nata yang memejamkan matanya. Aleta merangkul pundak Nata. "Kalau mau tidur, tidur aja Nat," ujar Aleta.
Nata merangkul pinggang Aleta. Nata merasa lelah, ia ingin beristirahat sebentar saja. Nata masih bisa merasakan rasa sakit di tubuhnya, ia hanya bisa menahannya.
Aleta tersenyum saat melihat Julian datang. Aleta memang tadi sempat menelepon Julian untuk datang kesini.
Julian berjalan dengan perlahan saat tahu Nata sedang tidur. "Nata gak papa?" tanya Julian dengan nada pelan.
Aleta menghembuskan napas kasar. "Banyak luka di tubuh Nata. Liat aja muka dia juga babak belur gitu. Yang paling parah tuh punggungnya yang sampe membiru," jawab Aleta pelan.
Saat mengatakan hal itu air mata Aleta menetes. Jujur saja ia merasa sakit melihat Nata terluka seperti ini.
Julian duduk di depan Aleta. "Emang Si Putra ******* itu gak punya hati nyiksa anak kandungnya sendiri," kesal Julian.
"Sstt. Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, kalau Nata bangun terus denger pas kamu ngehina Om Putra kan gawat kamu pasti dimarahin sama Nata," jelas Aleta.
"Kenapa Nata masih sayang aja sih sama Si ******* itu, kalau gue jadi Nata udah gue bunuh tuh orang," kesal Julian.
Aleta terkekeh pelan. Nata mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menegakkan tubuhnya. "Kok lo ada di sini?" tanya Nata saat melihat Julian.
"Aleta yang nyuruh gue buat ke sini," ujar Julian.
"Julian, kamu bisa keluar sebentar gak? Aku mau bicara serius sama Nata," pinta Aleta.
Julian melirik Aleta. "Oke," Julian berdiri lalu melangkah keluar.
Aleta menggengam tangan kanan Nata. Ia menatap manik hitam mata Nata. "Nat, kamu tinggal di rumah aku aja ya," ujar Aleta pelan.
Nata mengernyitkan alisnya. "Maksudnya?" tanya Nata tidak mengerti.
"Aku gak mau kamu disiksa lagi sama Papa kamu. Kamu tinggal di rumah aku aja ya, aku pengen ngerawat luka kamu sampe sembuh. Kamu kau kan?" tanya Aleta.
Nata memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia bingung harus bagaimana. Jujur saja ia tidak mau jauh-jauh dari Putra, ia selalu ingin ada di dekat Putra untuk melindungi Putra. Nata takut Arsen dan Rina akan mencelakai Putra jika ia tidak ada.
"Aku takut Papa dilukain sama Arsen Ta," ungkap Nata.
Aleta menangkup pipi Nata. Aleta ingin Nata menatap matanya. "Tapi kalau kamu tetep tinggal di sana nanti Papa kamu bakal terus lukain kamu Nat, aku gak mau itu terjadi," jelas Aleta.
"Aku mohon tinggal sama aku Nat, aku gak mau kamu terluka lagi," ujar Aleta tulus. Tanpa sadar air matanya menetes.
Nata menghembuskan napas pelan. Ia menghapus air mata Aleta. "Heii... Jangan nangis, aku gak suka ngeliat kamu nangis gini," Nata mendekap Aleta. Ia membiarkan Aleta menangis di dada bidangnya. "Hati aku sakit banget Nat ngeliat kamu terluka kaya gini, dan aku gak mau ini terjadi lagi sama kamu," gumam Aleta.
Nata mengelus punggung Aleta. "Maaf karena aku buat kamu nangis kaya gini. Jujur aja Ta, aku pengen selalu di deket Papa buat ngelindungin Papa, aku yakin Arsen bakal ngelukain Papa kalau aku pergi, aku gak mau Papa terluka, aku rela terluka asal Papa aku tetep baik-baik aja," ungkap Nata panjang lebar.
"Ken-apa ka-mu baik bang-et sih sa-ma Papa kamu, pada-hal Papa kamu udah jahat bang-et sama kamu Nat," ujar Aleta sambil terisak.
"Karena aku sayang banget sama Papa. Cuma Papa yang aku punya di dunia lagi, aku gak punya siapa-siapa lagi selain Papa," jelas Nata.
Aleta menjauhkan dirinya dari Nata. Ia menatap Nata dengan tatapan sendu. "Ada aku. Aku bakal selalu ada di samping kamu, dan aku gak bakal ninggalin kamu Nat," jelas Aleta.
👑
Pas bikin part ini awalnya aku senyum-senyum sendiri tapi setelah itu aku nangis 😌 gimana perasaan kalian di part ini?
Apa kabar? Semoga baik-baik aja ya ❤ dijaga kesehatannya ❤
Next gak nih?