Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 33}



Happy Reading ♥


Kok aku nangis ya pas bikin chapter ini 😂


Spam komen dong biar aku semangat terus buat up 😁♥


👑


Nata hanya bisa bersabar mendengar ungkapan kasar dari Putra. Ia tidak berniat membalas ucapan Putra dengan kasar. Karena ia sangat menyayangi Putra.


"Om apa-apaan sih! Bisa gak kalau ngomong tuh nyantai! Jangan main nggas aja!" murka Bela. ia sudah sangat kesal dengan Putra, tiba-tiba datang dan langsung berkata kasar pada Nata.


Putra melirik Bela, ia tersenyum sinis pada Bela, "ternyata kamu kembali lagi ke sini. Ini urusan saya dengan Nata! Kamu tidak berhak untuk ikut campur!" balas Putra.


Saat Bela akan membalas ucapan Putra, Nata memegang tangannya. Bela melirik Bela, "udah Bel, jangan ngebentak Papa lagi. Gue gak papa kok," ujar Nata.


Bela menatap jengah Nata. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Nata, padahal Putra sudah sangat bersikap jahat padanya, tapi kenapa Nata masih saja bersikap baik pada Putra.


"Tapi Nat, Papa kamu itu udah keterlaluan! Dia gak pantas disebut Papa, harusnya kamu sadar itu Nat. Dia cuma laki-laki brengsek yang berani kasar sama anaknya sendiri!" ucap Bela.


"Cukup! Gue gak mau lagi denger lo ngehina Papa gue! Dia Papa gue Bel, dan selamanya akan selalu seperti itu," balas Nata mulai marah.


Sebrengsek apapun Putra, Nata tetap merasa sakit jika ada yang berani menghina Putra.


Putra hanya diam. Ia tidak mengerti kenapa Nata malah membelanya. Putra tahu kalau sikapnya pada Nata keterlaluan, tapi kenapa Nata masih bersikap baik padanya?


Sudahlah, bagi Putra Nata salah karena Nata berani menyukai Aleta yang juga dicintai oleh Arsen. Putra tidak mau jika Aleta bersama Nata, nanti Arsen akan sedih, ia tidak mau membuat anak kesayangannya itu sedih.


Putra lebih rela kalau Nata yang sedih, bukan Arsen.


"Jauhi Aleta," ujar Putra.


Nata mengerutkan keningnya bingung. Kenapa tiba-tiba Putra menyebut nama Aleta? Apa Putra mengenal Aleta? Tapi bagaimana bisa Putra mengenal Aleta? Banyak pertanyaan di benak Nata.


"Apa maksud Papa?" tanya Nata.


"Arsen mencintai perempuan yang bernama Aleta itu. Jadi, lebih baik kamu menjauhi Aleta. Papa mau ngelihat Arsen bahagia dengan orang yang dia cintai. Lebih baik kamu mencari perempuan lain saja," jelas Putra dengan nada tegasnya.


Nata terkejut mendengar penjelasan Putra. Nata menggeleng-gelengkan kepalanya, "gak Pa, Arsen gak suka sama Aleta. Dia cuma mau ngambil Aleta dari Nata, Arsen hanya menganggap Aleta mainannya Pa," ujar Nata.


Putra maju beberapa langkah sampai berhadapan dengan Nata, ia mencengkram kerah baju rumah sakit yang sedang di kenakan Nata dengan kasar, "tau apa kamu, hah! Arsen sendiri yang bilang sama Papa kalau dia suka sama Aleta! Kalau kamu gak mau jauhin Aleta, Papa gak akan pernah menganggap kamu sebagai anak Papa lagi! Ngerti!" ancam Putra.


Bela tidak peduli walaupun Putra jauh lebih tua darinya. Ia akan menghormati seseorang yang jauh lebih tua darinya kalau orang itu baik, tidak seperti Putra. Putra tidak pantas untuk dihormati sedikitpun.


Nata menahan rasa sakit di hatinya. Ia tidak bisa menjauhi Aleta, Aleta adalah hidupnya. Aleta adalah kebahagiaannya. Kalau ia kehilangan Aleta, ia tidak tahu akan seperti apa kehidupnya nanti.


Tapi di sisi lain, ia juga akan sangat bersedih kalau Putra tidak menganggapnya lagi sebagai anak. Nata bingung harus bagaimana.


"Aku sayang banget sama Aleta Pa. Dia hidup aku, dia kebahagiaan aku. Tapi, aku juga sayang banget sama Papa. Papa orang yang sangat penting di hidup aku. Dan aku cuma punya Papa di dunia ini. Tapi aku mohon Pa, tolong jangan minta aku untuk jauhin Aleta Pa. Papa boleh minta apapun asalkan jangan bawa-bawa nama Aleta Pa, aku mohon sama Papa," lirih Nata.


Tanpa sadar Nata meneteskan air matanya. Putra melihat air mata Nata yang menetes, ia tersentak, Putra bisa melihat dari mata Nata yang terlihat sangat sedih dan juga terluka.


Putra memalingkan wajahnya ke arah lain, "kamu denger gak sih tadi Papa ngomong apa! Jauhin Aleta karena Arsen juga suka sama Aleta! Kamu harus ngalah sama Arsen! Perempuan masih banyak! Gak usah sok keliatan sedih dan tersiksa gitu deh, JIJIK TAU GAK!" ujar Putra dengan intonasi yang tinggi.


Bela tidak tahu harus apa. Ia tidak bisa berbohong kalau sebenarnya ia merasa senang karena Putra menyuruh Nata untuk menjauhi Aleta.


Nata menunduk, "Pa, apa sih arti aku di hidup Papa? Kenapa Papa selalu mementingkan Arsen di atas segalanya, aku juga anak Papa, aku anak kandung Papa. Apa aku gak berhak bahagia sama orang yang aku cintai Pa? Apa bagi Papa perasaan aku gak penting sama sekali?" tanya Nata.


Putra menghembuskan napas kasar, "cukup! Sekarang kamu hanya punya dua pilihan, pilih Papa atau Aleta! Kalau kamu pilih Papa, jauhin Aleta untuk selama-lamanya dan biarin Aleta bahagia bersama Arsen! Kalau kamu pilih Aleta, JAUH-JAUH DARI HIDUP PAPA, KAMU GAK AKAN PERNAH PAPA ANGGEP SEBAGAI ANAK PAPA LAGI SELAMANYA!" ucap Putra.


Di sisi lain, hanya ada keheningan di antara Arsen dan Aleta. Sebenarnya saat ini Aleta sedang memikirkan Nata, apa Nata baik-baik saja? Itulah pertanyaan yang ada di benaknya.


"Arsen," panggil Aleta.


Arsen menoleh sebentar ke arah Aleta lalu ia kembali fokus menyetir mobilnya.


"Apa kamu sayang sama Nata?" tanya Aleta.


"Jelas sayanglah Ta. Kan Nata saudara gue," jawab Arsen cepat.


Arsen melirik Aleta sekilas, "emangnya kenapa Ta?" tanya Arsen.


Aleta menggelengkan kepalanya, "gak papa nanya aja," jawab Aleta.


"Lo harus tau yang sebenarnya Ta, kalau sebenarnya Nata itu gak sepenuhnya baik. Gue ngomong kaya gini ke lo supaya lo hati-hati sama dia, gue gak mau lo terluka karena Nata Ta," jelas Arsen.


Aleta mengerutkan keningnya bingung, "maksudnya?" tanya Aleta.


👑


Makasih udah mau mampir ♥