Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 32}



👑


Alveno tersenyum sinis saat mendengar ucapan Bela. Alveno memang tertarik pada Aleta, tapi ia tidak ada niatan untuk menghancurkan hubungan Aleta dengan Nata.


"Gak. Jangan pernah ngehancurin hubungan orang lain cuma demi kebahagiaan lo sendiri. Kalau cowok itu gak suka sama lo, harusnya lo sadar diri. Bukannya malah mau ngehancurin hubungan mereka!" tegas Alveno.


Alveno berdiri dari duduknya, "gue pergi dulu. Sampein salam gue sama Aleta dan cowok itu," tanpa menunggu jawaban dari Bela, Alveno langsung melangkah pergi.


Bela memandangi punggung Alveno yang semakin menjauh, "gue sayang banget sama Nata. Gue gak terlalu butuh bantuan lo, gue bisa sendiri ngehancurin hubungan mereka," batin Bela.


Aleta keluar dari ruangan Nata. Ia melihat Bela yang sedang duduk di kursi panjang di depan ruang rawat inap Nata, "Bela," panggil Aleta.


Bela melirik Aleta, "apa?" tanya Bela.


"Aku minta tolong jagain Nata dulu ya, aku mau beli makanan," pinta Aleta. Sebenarnya ia malas meminta bantuan pada Bela untuk menjaga Nata. Tapi ia juga takut jika nanti tiba-tiba Putra datang dan kembali memukuli Nata.


Bela tersenyum lebar, "dengan senang hati. Kalau bisa lo langsung pulang aja gak usah balik lagi ke sini, biar gue aja yang jagain Nata," ucap Bela. Bela langsung masuk ke ruangan Nata.


Aleta menghembuskan napas pelan. Aleta berjalan ke luar rumah sakit, langkah Aleta berhenti saat melihat Putra dan Arsen ada di depan rumah sakit.


Aleta yakin mereka pasti ingin mencari keberadaan Nata. Aleta tersentak ketika tiba-tiba Arsen menatap ke arahnya, Arsen mendekat ke arahnya.


"Aleta," sapa Arsen lembut. Putra mengikuti langkah Arsen dari belakang, "siapa dia Sen?" tanya Putra ketika sudah berada di depan Aleta.


Aleta menunduk, ia memain-mainkan jari tangannya. Ia sangat takut melihat sosok Putra. Bagi Aleta, Putra memiliki aura yang sangat menakutkan.


Arsen membisikkan sesuatu pada Putra, "dia orang yang aku suka Pa, aku cinta banget sama dia. Aku lagi berusaha deketin dia," bisik Arsen. Putra hanya tersenyum menanggapinya.


Arsen sengaja mengatakan Aleta adalah orang yang ia cintai pada Putra, padahal itu hanya kebohongan. Bagi Arsen, Aleta bukan seleranya. Aleta hanya mainannya.


Inilah rencana dia selanjutnya, ia ingin Nata kembali tersiksa. Ia tidak akan membiarkan Nata bisa bersama Aleta, ia akan membuat hubungan keduanya hancur. Ia tidak mau Nata merasakan kebahagiaan. Arsen hanya ingin Nata selalu hidup dalam luka bukan bahagia.


Aleta tidak bisa mendengar apa yang Arsen bisikan pada Putra. Tapi Aleta harap Arsen tidak mengatakan hal yang aneh tentang dirinya.


"Ngomong-ngomong Ta, lo lagi ngapain di sini?" tanya Arsen.


Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sekarang ia harus jawab apa? Apa ia harus berbohong pada Arsen dan Putra?


"Aku habis ngejenguk sepupu aku yang lagi sakit, ini aku mau pulang," jawab Aleta.


"Kalau gitu biar Arsen yang nganter kamu pulang," sahut Putra.


Aleta membulatkan matanya. Kenapa tiba-tiba Putra menyuruh Arsen untuk mengantarnya pulang ke rumah?


"Iya bener kata Papa gue Ta. Biar gue yang nganter lo pulang ya," sahut Arsen.


Aleta semakin bingung. Ia ingin menolak tawaran Arsen, tapi ada perasaan takut untuk mengatakannya.


Arsen mencekal pergelangan tangan Aleta, "udah yuk, jangan kebanyakan mikir. Tenang aja, gue bakal nganterin lo selamat sampe tujuan," Arsen menarik tangan Aleta untuk mengikutinya.


Aleta menghembuskan napas kasar. Aleta terpaksa mengalah. Ia mengikuti langkah Arsen.


Arsen membuka pintu mobilnya, "silahkan masuk cantik," ucap Arsen sambil tersenyum. Aleta menurut, ia masuk ke dalam mobil Arsen.


Di sisi lain, Putra bertanya pada seorang suster, "Sus, apa ada pasien baru yang bernama Nata?" tanya Putra pada suster itu.


"Ada Pak, dia dirawat di ruangan anggrek nomor 25," jawab suster itu.


Putra tersenyum lebar. Ia mengucapkan terimakasih pada suster itu, "habis kamu Nata," batin Putra. Tanpa menunggu lama ia langsung melangkahkan kakinya mencari ruangan anggrek nomor 25.


Bela duduk di samping Nata. Ia menggenggam erat tangan Nata, sekarang Nata sedang tertidur pulas.


Bela memandangi wajah Nata. Bela tidak pernah berhenti terpesona dengan wajah Nata yang sangat tampan.


Bela berdiri, ia mencium kening Nata sekilas, "aku sayang banget sama kamu Nat. Aku gak mau ngeliat kamu sakit kaya gini, cepet sembuh ya Nat," lirih Bela. Bela kembali mengecup kening Nata.


Bela kembali memandangi wajah Nata. Bela mendekatkan wajahnya ke wajah Nata. Wajah Bela sangat dekat dengan wajah Nata, kalau saja Bela kembali mendekatkan sedikit saja wajahnya ke wajah Nata sudah pasti bibir Bela bersentuhan dengan bibir Nata.


Nata membuka kedua matanya. Nata memblalakan matanya saat menyadari kalau wajah Bela sangat dekat dengannya, Nata mendorong Bela dengan kasar, "lo gila ya!" bentak Nata.


Bela terkejut saat mendengar bentakan Nata, baru kali ini Nata berani membentaknya.


Mata Bela sudah berkaca-kaca, "kenapa kamu bentak aku Nat? Sebelumnya kamu gak pernah sekalipun ngebentak aku kaya tadi," lirih Bela.


Nata mengusap wajahnya kasar, "gue minta maaf karena tadi udah ngebentak lo. Tapi kenapa muka lo tadi deket banget sama muka gue? Lo mau apa Bel?" tanya Nata mulai lembut.


"Aku mau cium bibir kamu Nat, siapa tahu setelah itu kamu cinta lagi sama aku," jujur Bela.


Nata menatap Bela, "Bel, lo harus berhenti ngejar-ngejar gue. Gue udah gak cinta lagi sama lo Bel, lo berhak bahagia sama orang lain. Sekarang hidup gue itu Aleta. Dia segalanya bagi gue Bel, gue mohon sama lo jangan ganggu hubungan gue sama Aleta. Karena gue gak mau kehilangan Aleta Bel, dia penyemangat hidup gue, gue gak mau dia pergi," jelas Nata panjang lebar.


Bela langsung meneteskan air matanya saat mendengar perkataan Nata. Apa ia sudah tidak berarti lagi di hidup Nata?


"Sekarang aku udah gak berarti lagi ya di hidup kamu Nat," gumam Bela.


Nata bisa mendengar gumaman Bela, "lo masih berarti di hidup gue Bel. Lo selalu ada buat gue, lo juga yang selalu ngelindungin gue dari kemarahan Papa. Gue bener-bener berterimakasih atas semua yang lo lakuin buat gue Bel," ujar Nata.


"Kenapa kamu lebih milih Aleta daripada aku Nat? Kita udah saling kenal dari kecil, sedangkan Aleta masih baru di hidup kamu Nat. Kenapa kamu lebih pilih dia?" tanya Bela.


"Gue juga gak tau Bel. Tapi yang pasti gue bener-bener sayang sama Aleta, setiap gue ngebayangin Aleta bakal pergi dari kehidupan gue, rasanya sangat menyakitkan Bel. Rasa ini beda sama rasa cinta gue ke lo dulu Bel. Gue ngerasa Aleta adalah hidup gue, penyemangat gue, dan segalanya bagi gue. Gue harap lo ngerti Bel," jawab Nata panjang lebar.


BRAK!!


Pintu ruangan Nata terbuka lebar. Nata dan Bela sama-sama tersentak, mereka melirik ke arah pintu, "Papa," gumam Nata.


Nata bisa melihat keliatan amarah dari mata Putra, "JADI KAMU MAU NGEREBUT CEWEK YANG ARSEN SUKA! DASAR BRENGSEK!" murka Putra.


Nata benar-benar bingung apa maksud ucapan Putra. Merebut? Nata tidak pernah merebut cewek yang Arsen suka. Nata juga tidak pernah tahu siapa cewek yang Arsen suka.


"Maksud Papa apa?" tanya Nata dengan lembut.


Putra tersenyum sinis pada Nata, "alah pura-pura gak tau lagi. BRENGSEK MAH BRENGSEK AJA, JANGAN PASANG MUKA POLOS KAYA GITU DEH, PAPA JIJIK LIATNYA. DASAR MUNAFIK,BRENGSEK. BERANINYA NGEREBUT ORANG YANG DISUKA SAMA SAUDARA KAMU SENDIRI!" ujar Putra dengan nada tinggi.


👑


Maaf ya karena aku baru update, mood aku lagi kacau banget sekarang. Aku butuh semangat dari kalian 🙃♥