
Happy Reading ♥
👑
Keadaan Aleta sudah membaik. Ia memutuskan untuk kembali ke kelas. Tapi, Nata melarangnya. Nata terus memaksanya untuk beristirahat di UKS.
Aleta dan Nata berdebat di koridor yang sepi karena orang-orang sedang di dalam kelasnya masing-masing.
"Aku mau ke kelas Nat, aku udah gak papa," jelas Aleta.
Nata terus mencekal pergelangan tangan Aleta, "gak boleh. Lo harus istirahat di UKS. Nurut aja kenapa sih, susah amat," kesal Nata.
Aleta mendengus kesal, dia menjauhkan tangan Nata dari pergelangan tangannya, "pokonya aku mau ke kelas titik. Dan kamu gak bisa ngelarang aku," jelas Aleta.
Aleta mulai melangkahkan kakinya menjauh dari Nata. Tapi, Nata tidak akan semudah itu melepaskan Aleta. Ia langsung berlari mengejar Aleta dan berhenti tepat di depan Aleta, "ayo ke UKS! Lo harus istirahat di UKS!" tegas Nata dengan intonasi yang sedikit meninggi.
Aleta tetap kekeh dengan pendiriannya. Ia tetap ingin kembali ke kelas. Saat ia melangkahkan kakinya ke kiri, Nata mengikuti langkahnya yang ke kiri. Saat Aleta melangkah ke kanan Nata juga mengikuti langkahnya ke kanan.
Aleta mengacak rambutnya frustasi, sekarang apa yang harus dia lakukan, "Nat, kamu kenapa sih! Jangan halangin jalan aku dong," kesal Aleta.
Nata sudah kesal karena Aleta tetap tidak mau menuruti perintahnya. Nata mengangkat tubuh Aleta. Mengangkat tubuh Aleta seperti karung beras. Memanggul tubuh Aleta di pundak kanannya.
Aleta membulatkan matanya, ia memukul-mukul punggung Nata, ia terus meronta-ronta minta diturunkan, "NATA! PLIS TURUNIN NAT. KALAU GURU NGELIAT GIMANA! ADUH NAT. CEPETAN TURUNIN AKU," rengek Aleta.
Nata menulikan indera pendengarannya. Ia membiarkan Aleta terus memukul-mukul punggungnya. Nata akan membawa Aleta ke UKS. Ia ingin Aleta istirahat di sana.
"Nat, turunin aku plis," rengek Aleta. Aleta merasa cape memukul-mukul punggung Nata tapi Nata tetap saja menggendongnya seperti karung beras.
Nata mendengus kesal, "bacot banget sih lo. Diem napa," ketus Nata.
Aleta hanya pasrah. Ia membiarkan Nata terus menggendongnya sampai di UKS. Nata mendudukkan tubuh Aleta di ranjang UKS, "istirahat di sini, jangan kemana-mana!" tegas Nata.
"Aku mau ke kelas Nat," Aleta berdiri dari duduknya. Aleta melangkah ke luar UKS. Nata menghembuskan napas kasar, kenapa Aleta sangat keras kepala? Apa susahnya beristirahat di UKS.
Nata maju beberapa langkah untuk mendekati Aleta. Lagi-lagi, Nata mengangkat tubuh Aleta. Nata kembali mendudukan Aleta di ranjang UKS, "apa susahnya sih istirahat di sini! Lo ngerepotin gue tau gak! Gue udah cape-cape gendong lo dari koridor sampai ke UKS dan lo masih tetap pengen balik ke kelas! Lo gak hargain gue banget tau gak!" bentak Nata meluapkan emosinya.
Nata membalikan tubuhnya membelakangi Aleta. Aleta merasa bersalah, ia menundukan kepalanya, "maaf Nat," lirih Aleta pelan. Aleta menarik ujung seragam Nata yang tidak dimasukan ke dalam celana abu-abunya, "maaf, jangan marah lagi," lirih Aleta.
Nata tetap diam. Ia butuh waktu untuk meredakan amarahnya, "udah lah, gue muak sama lo," Nata menepis kasar tangan Aleta dari ujung seragamnya.
Saat Nata ingin melangkah pergi, Aleta mencekal pergelangan tangannya. Aleta berdiri, Nata membulatkan matanya saat tiba-tiba Aleta memeluknya dari belakang, "maaf Nat. Maaf, aku mohon jangan marah. Aku bakal istirahat di sini, aku mohon maafin aku," lirih Aleta.
Nata menghembuskan napas pelan. Ia membalikan tubuhnya menghadap Aleta. Nata memandangi Aleta yang masih menangis, "udah-udah jangan nangis. Kaya anak kecil aja lo," Nata mengusap air mata Aleta yang terdapat di pipinya.
"Maaf Nat," lirih Aleta yang masih saja menangis. Nata menepuk pelan pucuk kepala Aleta, "iya, gue maafin lo. Udah dong jangan nangis. Kalau ada yang liat lo nangis kaya gini, gue yang kena masalahnya," jelas Nata.
"Lo tuh jelek banget kalau nangis," lanjut Nata. Nata mengangkat tubuh Aleta dan kembali mendudukan tubuh Aleta ke ranjang, Nata mengusap lagi sisa-sisa air mata yang ada di wajah Aleta, "kalau lo gak mau gue marah lagi, sekarang, lo harus istirahat," tegas Nata.
Aleta mengangguk. Tangisannya sudah reda, ia berbaring di ranjang UKS itu. Aleta melirik Nata, "jangan pergi. Kamu harus di sini temenin aku," pinta Aleta.
"Lo emang nyusahin," sinis Nata. Walaupun berkata seperti itu, Nata tetap menemani Aleta sampai Aleta hanyut dalam mimpinya.
Nata memandangi wajah Aleta. Dilihat dari dekat, Aleta terlihat sangat manis. Aleta memiliki bulu mata yang lentik, wajah yang bersih, kulit yang putih dan pipi yang bulat.
Nata mengulurkan tangannya ke arah rambut Aleta. Ia mengelus-elus pelan rambut Aleta. Rambut Aleta sangat lembut dan wangi, "lo udah masuk ke dalam kehidupan gue, gue gak akan ngebiarin lo pergi Aleta," gumam Nata tersenyum tipis.
Aleta membuka kedua matanya. Ia merasa sangat segar ketika tadi tidur dengan nyenyak, Aleta melirik ke arah Nata yang tertidur di kursi yang ada di samping ranjangnya.
Aleta menegakan tubuhnya. Ia melirik arloji kecil yang melingkar di tangan kanannya, jam menunjukan pukul empat sore. Ia tertidur selama dua jam. Teman-temannya pasti sudah pulang. Dan sekolah pasti sudah sepi.
Aleta kembali melirik Nata. Nata tampak nyenyak dalam tidurnya walaupun tidurnya dalam posisi duduk. Aleta masih bisa melihat luka memar yang ada di wajah Nata, "Nat," panggil Aleta berniat membangunkan Nata.
Tiba-tiba Aleta mendengar suara ponsel yang berdering. Ia melihat ponselnya, tapi itu bukan dari ponselnya.
Aleta meliirik ponsel yang ada di saku seragam sekolah Nata, sepertinya ponsel Nata yang berdering. Ponsel itu terus berdering, tapi Nata masih tetap saja nyenyak dalam tidurnya.
Dengan ragu Aleta mengambil ponsel itu dari saku seragam sekolah Nata. Nomor yang tidak dikenal menelpon Nata, Aleta mengangkatnya.
Aleta tidak mendengar suara apa-apa dari sang penelepon. Saat Aleta akan mematikan sambungan itu, tiba-tiba suara lembut seseorang mulai terdengar, "Nata, ini aku Bela," Aleta membekap mulutnya. Ia benar-benar terkejut.
"Ini Nata kan, kok kamu diem aja Nat."
"Nat, aku yakin ini nomor kamu. Ini aku Bela kesayangan kamu. Kenapa kamu di-" Aleta mematikan sambungan itu secara sepihak.
Hatinya terasa sesak. Tanpa sadar air matanya menetes, apa Nata akan menjauhinya kalau tahu bahwa Bela meneleponnya? Aleta tidak mau jika Nata menjauhinya. Nata sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya.
👑
Makasih udah mau mampir ♥
Next gak nih?