Moodboster

Moodboster
{CHAPTER 31}



Happy Reading โ™ฅ


Maaf kalau banyak typo soalnya langsung di publish tanpa aku baca dulu๐Ÿ˜โ™ฅ


๐Ÿ‘‘


Nata mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia melihat sekelilingnya yang bernuansa warna putih.


Bela memasuki ruangan Nata, ia tersenyum lebar saat melihat Nata sudah sadar, "Nata!" ucap Bela senang.


Bela mendekati Nata, ia duduk di samping Nata. Bela menggengam erat tangan Nata, "akhirnya kamu udah sadar Nat. Kamu tahu gak, aku khawatir banget sama kamu Nat," Bela mengecup pelan tangan Nata.


Di saat yang sama, Aleta sedang berdiri di depan pintu ruangan tempat Nata di rawat. Ia melihat dengan jelas saat Bela mengecup tangan Nata, ia hanya bisa tersenyum miris.


Saat Aleta mau melangkah pergi, "Aleta," panggil Nata. Aleta membalikan badannya lalu menatap Nata dengan tersenyum, "aku mau ke wc sebentar Nat, nanti aku kesini lagi," jelas Aleta.


Nata tahu kalau tadi Aleta melihat tangannya di kecup oleh Bela. Nata merasa bersalah pada Aleta, Nata menegakkan tubuhnya sampai ia duduk, "kesini bentar Ta," perintah Nata.


Aleta mengernyitkan keningnya bingung. Aleta melangkahkan kakinya mendekati Nata, Bela hanya memandangi Aleta tanpa berkata apa-apa.


Aleta sudah ada di samping Nata. Nata melirik Aleta sambil tersenyum, tanpa aba-aba ia langsung menarik tangan Aleta. Nata membawa Aleta ke dalam dekapannya.


Bela memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak sanggup melihat Nata memeluk wanita lain selain dirinya.


Aleta hanya diam. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Nata memeluknya.


"Gue sayang sama lo. Jangan ngerasa kalau gue bakal lebih pilih Bela daripada lo. Lo sama Bela itu beda. Bela cuma masa lalu gue, dan lo hidup gue. Jangan cemburu Sayang," bisik Nata tepat di samping telinga Aleta.


Jantung Aleta berdegup sangat cepat saat mendengar ucapan Nata. Ia tidak bisa menahan senyumannya yang ingin terbit di bibirnya.


Nata melepaskan pelukannya. Ia menggenggam tangan kanan Aleta lalu ia menaruh tangan kanan Aleta di depan dadanya, "selama jantung gue masih berdetak, gue bakal tetep sayang sama lo Ta," terang Nata.


Bela berdiri dari duduknya. Ia tidak sanggup menyaksikan kemesraan Aleta dengan Nata. Bela membalikan badannya lalu melangkah keluar.


Aleta melirik kepergian Bela, "Nat, Bela pergi," ucap Aleta. Nata menarik tangan Aleta lalu mendudukkan Aleta ke pangkuannya, "gue gak peduli. Yang gue butuhin cuma lo," sahut Nata.


Nata menempelkan dagunya di bahu Aleta, "gue gak pernah nyangka cewek kaya lo bisa bikin gue jatuh cinta sedalem ini," gumam Nata.


Aleta melirik sekilas Nata, "emangnya aku cewek kaya apa?" tanya Aleta.


Aleta tersenyum tipis mendengar jawaban Nata. Ia tidak pernah menyangka Nata akan lebih memilihnya daripada Bela. Aleta bersyukur akan hal itu.


Seorang dokter laki-laki memasuki ruangan Nata. Aleta langsung menjauh dari pangkuan Nata. Dokter itu tersenyum, "maaf karena saya ganggu waktu kalian," sahut dokter itu.


Aleta memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia merasa malu, "gak papa kok Dok," jawab Nata.


Dokter itu mendekati Nata, "syukurlah kamu sudah sadar. Luka-luka di tubuh kamu sudah saya obati, kamu harus istirahat di sini selama beberapa hari sampai luka kamu sembuh," jelas dokter itu.


"Dok, keadaan Nata baik-baik aja kan? Gak ada luka yang serius kan Dok?" tanya Aleta.


"Untungnya tidak ada luka yang serius. Hanya saja, luka di kakinya mungkin akan menyebabkan ia susah berjalan dalam beberapa hari," jelas dokter itu.


"Ya sudah, sebaiknya sekarang kamu istirahat. Jangan lupa nanti di minum obatnya, suster bakal kasih kamu obat setiap pagi, siang, dan sore. Kamu harus teratur minum obat agar kamu bisa cepat sembuh," lanjut dokter itu.


Dokter itu permisi pergi pada Aleta dan Nata karena masih banyak pasien yang harus ia tengok keadannya.


Aleta melirik kaki Nata, "kamu sih, kenapa kamu tadi gak pake sandal kan jadinya kaya gini. Kamu tuh aneh banget, masa banyak beling yang nancep di kaki kamu, kamu gak ngerasa sama sekali," oceh Aleta.


"Maaf, tadi yang ada di pikiran gue itu cuma lo Ta. Gue gak mikirin sekitar gue maupun keadaan gue, gue terlalu sibuk mikirin lo," jelas Nata.


Aleta menarik pelan hidung Nata, "dasar tukang gombal," ucap Aleta terkekeh pelan.


Di sisi lain, Bela duduk di kursi panjang yang ada di depan ruangan Nata. Ia menyenderkan kepalanya di dinding, "mungkin sekarang kamu pilih dia Nat. Tapi nanti, aku yakin kamu bakal pilih aku lagi," gumam Bela.


Alveno duduk di samping Bela, "gue mau masuk ke dalem tapi gue gak enak takut ganggu Aleta sama cowok itu," sahut Alveno.


Bela melirik Alveno, "lo siapanya Aleta? Sejak kapan lo kenal dia?" tanya Bela.


Alveno mendongakkan kepalanya ke atas, "gue bukan siapa-siapanya Aleta. Gue baru kenal dia beberapa jam yang lalu. Dia cewek yang unik, tapi sayang dia udah punya cowok," ucap Alveno.


Bela menyeringai, "kayanya lo tertarik sama Aleta. Lo mau gak kerjasama sama gue buat ngehancurin hubungan mereka?" ajak Bela.


๐Ÿ‘‘


Semangatin aku dong biar aku cepet^ update lagi, biar kalian gak lama nunggu. Aku tau yang namanya nunggu itu gak enak๐Ÿ˜†